• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Melihat Bali dari Sudut Pandang Berbeza

Dewi Mahayanthi by Dewi Mahayanthi
1 October 2012
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru, Musik
0
1

Mempertemukan Bali dengan Singapura dan Malaysia.

Bali Beza merupakan buah idea komunitas Frinjan untuk memperkenalkan kebudayaan alternatif Bali kepada masyarakat Malaysia. Acara ini merupakan usaha awal untuk merapatkan hubungan di antara seniman Bali dan seniman Malaysia.

Kegiatan utama Bali Beza sendiri yaitu pertunjukan sastra melalui lantunan puisi oleh Frischa Aswarini, penampilan musik Nosstress dan diskusi buku “Melawan Lupa” sekaligus pemutaran film “40 Years of Silence: An Indonesia Tragedy” bersama Ngurah Termana dan Roro Sawita.

Dua hari sebelum ke Kuala Lumpur, kami tampil di Singapura. Persisnya di The Arts House membawakan kolaborasi Sastra Musik Diskusi. Sambutan hangat panitia setempat dan fasilitas tempat pertunjukan yang nyaman semakin menambah rasa percaya diri. Malam pertama di Singapura menampilkan kolaborasi Nosstress dengan puisi dari Frischa Aswarini yang di akhiri dengan sesi diskusi dengan penonton. Tanya jawab yang dihasilkan semakin memperjelas keberadaan sastra dan musik bali di mata mereka.

Malam terakhir di The Substation Singapura pun menyuguhkan film “40 Years of Silence: An Indonesia Tragedy” bersama Ngurah Termana dan Roro Sawita. Walau malam itu kota Singapura hujan tapi diskusi semakin panas terkait peristiwa 1965.

Dua hari itu kami berbaur dengan rutinitas warga Singapura yang serba cepat dan praktis kemudian berharap Bali dapat meniru sistem transportasi Singapura.

Dari Singapura, kami ke Malaysia.

Komunitas Frinjan yang bertempat di Taman Tasik Titi Wangsa, Kuala Lumpur begitu mendukung seluruh aktivitas kami selama empat hari di sana. Seluruh aktivitas Bali Beza di pusatkan di Map @Publika, Solaris pada 29-30 September 2012. Acara yang disebut Maskara berlangsung di Rumah Pena telah menampilkan Frischa Aswarini bersama seniman setempat seperti Kimi Ismawi, Aloy Paradoks, Ajami Hashim dan Serra Samz. Mereka unjuk kebolehannya membacakan beberapa puisi.

Setelah itu, karya buku puisinya pun habis terjual dan memuaskan penggemar puisi di negeri itu. Menurut Shahrul Nizan, salah satu pengunjung yang datang ketika itu, pengetahuan yang dimiliki sudah baik sampai mampu menerbitkan sebuah kumpulan puisi.

Ayam Betutu
Bali yang terkenal dengan masakan ayam betutu telah menginspirasi kami untuk menyajikannya di Kuala Lumpur. Menu ini balutan tangan teruji si Made Maut. Dari siang pembuatan bumbu bali dan sambal matah sudah siap dan dijual dengan harga 5 Ringgit per porsi. Antusias pengunjung yang datang dan mencicipi rasa bumbu bali ini sangat nampak dan suka dengan sambal matahnya.

Sore harinya diskusi yang bertajuk “Dunia Kini yang Berontak” bersama Frischa Aswarini dan Rebecca Ilham. Diskusi ini melahirkan banyak pertanyaan seputaran perempuan Bali dan gerak bebasnya.

Penampilan memukau dari Nosstress semakin mendekatkan penonton menuju panggung utama. Ketika itu Nosstress membawakan delapan lagu andalannya. Penonton tampak menikmati aliran musik yang berbeda dan jarang mereka dengarkan sebelumnya. Stan aksesoris Nosstress pun mulai ramai. Ada pula yang meminta foto bersama sebagai bentuk kenang-kenangan. Menurut Razen salah seorang penonton, dia senang dengan musik akustik dan lirik yang disampaikan mengena kepada penonton.

Pada malam harinya film “40 Years of Silence: An Indonesia Tragedy” bersama Ngurah Termana dan Roro Sawita telah menyesakkan kursi yang tersedia. Tanya jawab yang berlangsung makin dalam dan detail sembari menghilangkan rasa penasaran mereka. Radhi berpendapat bahwa ternyata Bali tidak hanya nampak yang indah tetapi setelah menonton film ini ada tragedi sedih yang tersembunyi.

Selain itu, penonton lain Azizul Rohman menganggap bahwa film itu lebih membuat dirinya lebih bersemangat dengan cerita masa lalu.

Bali Beza memang telah mencapai harapannya dalam mempertemukan seniman 2 negara itu. Memperkenalkan apa yang terjadi saat ini dan tentunya menjalin kerjasama positif sesama darah nenek moyang. Komunitas Frinjan sudah sangat luar biasa mendukung suksesnya acara Bali Beza.

Semoga ke depannya Bali Beza bisa tampil di negara lain. [b]

Tags: Bali BezaBudayaKomunitasMusik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dewi Mahayanthi

Dewi Mahayanthi

Gadis yang terlahir sempurna dengan segala kekurangannya. mencoba sekeras hati melawan keterbatasan dengan mengikuti beberapa organisasi di dunia ini. Mencoba segala sesuatu yang belum pernah aku coba dalam kehidupan ini.

Related Posts

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Sandrayati - arise*

Sandrayati Rilis ‘Arise’, Single Jelang Album Baru ‘INHABIT’

3 August 2025
Next Post
Sampah

Sebelum Api Pariwisata Memusnahkan Bali

Comments 1

  1. rayana says:
    14 years ago

    ooh.. kirain mengenai turisme bali ini ^_^

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Usai Aksi FSSB, Sampah Organik Kembali Diizinkan ke TPA Suwung

Usai Aksi FSSB, Sampah Organik Kembali Diizinkan ke TPA Suwung

22 April 2026
Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia