• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, May 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Mau Dibawa ke Mana Tata Kota Denpasar?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
30 April 2017
in Kabar Baru, Sejarah, Sosial
0
1
Tanpa tata kelola yang baik, sawah di pinggiran Denpasar pun terus tergusur. Foto Anton Muhajir.

Dulu, ada jam besar berdiri tepat di posisi Patung Catur Muka.

Karena berdentang tiap jam, dan mengeluarkan suara seperti lonceng, warga Denpasar menyebutnya lonceng. Pada tahun 1972, lonceng dibongkar dan diganti dengan “simbol mitologi Hindu”, Patung Catur Muka.

Ketika itu pemerintah Bali memang sedang giat-giatnya membangun infrastruktur kepariwisataan: Bali Beach Hotel mulai dibangun pada tahun 1969, Airport Ngurah Rai tahun 1969, dan kawasan Nusa Dua pada tahun 1971.

Tidak mau ketinggalan, di tengah merebaknya pembangunan fisik sarana kepariwisataan tersebut, team perumus Catur Muka (yang terdiri dari para budayawan) ingin mendirikan landmark kota yang berdasar pada nilai dan filosofi Bali. Patung yang sarat simbol filosofis itupun dibangun tepat di perempatan agung jantung Kota Denpasar, dengan membongkar lonceng tua tersebut.

“Denpasar harus dibangun dengan berbasis filsafat Bali,” mungkin demikian tekad para budayawan dan pemegang pemerintahan tahun 1970-an.

Restorasi identitas atau simbol pertarungan?

Peter J.M. Nas (1995), dalam laporan penelitiannya, menyinggung sekilas tentang dibangunnya patung Catur Muka sebagai usaha menjadikan usaha membangun simbol tradisional sebuah kota (the tradisional symbol of the centre of the city). Juga simbol restorasi identitas (the symbol of the restoration of Balinese identity). Pendapat Nas cukup menarik, tetapi apa yang dia maksud sebagai “simbol restorasi identitas” tidak diurai lebih lanjut.

Bila kita lihat konteks lebih luas, dalam rentetan peristiwa-peristiwa di masanya (pembangunan Bandara, Nusa Dua dan Bali Beach Hotel), kita diajak bertanya: Bisakah dikatakan Patung Catur Muka sebagai “simbol restorasi identitas”?

Identitas yang bagaimana?

Saya “memaknai” peristiwa dibongkarnya loceng Belanda, bukan sebagai “simbol restorasi identitas Bali”, tapi justru sebuah visualisasi “pertarungan waktu” dan visualiasi “pertarungan pemaknaan atas ruang”.

Lonceng adalah “jejak kolonial” – meminjam ungkapan Ackbar Abbas – “how colonial space control desire” (During, 2003: 149). Dengan “mematok” jam di tengah kota (Denpasar), pemerintah (colonial) dengan halus melakukan “control of desire” warga kota, mengatur masyarakatnya dengan “waktu modern”, mengatur siklus dan waktu kota, menawarkan “mekanisme keteraturan” dan “disiplin”.

Denpasar hilang kendali?

Dengan melihat peristiwa dibongkarnya lonceng (bukan diservis atau diperbaiki) dan diganti dengan Patung Catur Muka, di sini tertangkap kecenderungan umum orang Bali lebih tertarik dengan dialektika mitis dibanding mengikuti “disiplin waktu”.

Pembangunan Catur Muka lebih jauh membuka pada kita niat bawah sadar manusia Bali untuk kembali pada suasana kota yang bertumpu pada alam niskala (nis=tanpa atau di luar, kala=waktu). Niat untuk merujuk pada yang niskala telah “mencabut” kekuatan pengaturan dan disiplin waktu yang ingin ditegakkan oleh loceng tersebut.

Pertarungan itu kelihatannya dimenangkan oleh niat menuju niskala. Namun, arena dan pertarungan tidak selesai disitu. Seiring waktu, setelah era 1970-an, terlihat Denpasar melupakan minatnya pada basis dan konsepsi niskala, selanjutnya tampak lebih terobsesi pada pembangunan fisik kasat mata (sekala).

Kemudahan perizinan membangun ruko dan mall, serta dibuatnya jalan raya memotong dan menggilas areal persawahan di Denpasar (setelah era dibangunnya Catur Muka), salah satu bukti Denpasar mengabaikan “dunia niskala”.

Denpasar tergerus kekuatan modal yang tidak berbasis pada pemahaman filosifis (Hindu-Bali). Denpasar lebih doyang kemajuan yang tercerai berai. Pura Subak dan Pura Ulun Suwi di kawasan Denpasar masih berdiri tegak, tapi tak ada lagi sawahnya. Kita menyaksikan tugu Ulun Suwi (altar suci Dewi Sri) di Simpang Enam, meringsek terjepit waralaba Dunkin’ Donuts dan jalan raya.

Sudah cukup tegaskah city planning Denpasar, yang katanya berwawasan budaya dan filosofi Bali? Hypermarket, mall, McDonald, ruko, jalan raya, tumbuh mewabah. Dinas yang membawahi penataan kawasan dan perijinan kelihatan kewalahan; masih cukup energikah mereka dalam menegakkan penataan kawasan?

Punyakah nyali untuk mengatakan “tidak” pada kekuatan uang (baca: investor)? Di beberapa kawasan di Denpasar, kita sering pangling alias bingung, setengah tak percaya kalau kita sedang menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Denpasar, engkau mau kemana? [b]

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat Bali Post dan diterbitkan kembali di sini untuk tujuan pengetahuan dan pendidikan.

Tags: DenpasarSejarahTata Kota
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembelajar. Pembaca lontar.

Related Posts

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

26 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Next Post
Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus

Burung Hantu Bantu Petani Kendalikan Tikus

Comments 1

  1. Efraim Sitinjak says:
    9 years ago

    Setuju bahwa perlu adanya perubahan pada tata ruang Denpasar. Tata ruang Denpasar masih bisa kembali menggunakan kearifan lokal. Butuh advokasi yang kuat ke Pemerintah Denpasar.

    Reply

Leave a Reply to Efraim Sitinjak Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

Diskusi Kolonialisme di Nobar Film Pesta Babi

7 May 2026
Angkat Topi Buat Wanita, Khususnya Wanita Bali

Orang Bali jadi Objek Perencanaan Pariwisata

6 May 2026
Susur Hutan dan Sungai Bersama BASE Bali

Menutup Program Studi, Menutup Masalah?

6 May 2026
Pelanggaran Kebebasan Berpendapat terus Terjadi di Bali, mulai dari Larangan saat Konferensi Internasional, Aksi, dan Penangkapan Tomy

Surat Cinta Negeri dari Jeruji Besi

5 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia