• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Opini

Malangnya Pembayar Pajak di Indonesia

Firdaus Cahyadi by Firdaus Cahyadi
20 October 2016
in Opini, Politik
0
0
jokowi1
Sumber foto www.change.org.

Anda pembayar pajak? Ya, hampir semua dari kita adalah pembayar pajak.

Sebagai pembayar pajak tentu kita berhak mendapat layanan dari negara. Salah satunya informasi terkait kebijakan yang akan berpotensi berdampak buruk bagi kehidupan kita di masa depan.

Ya, informasi. Dengan informasi itu kita akan bisa membuat sebuah keputusan tepat bagi kehidupan kita. Pemerintah harusnya membuka informasi yang berpotensi berdampak buruk pada kehidupan warganya di masa depan.

Salah satu informasi penting yang harus dibuka itu terkait dengan isi perjanjian perdagangan bebas (free-trade agreement /FTA) yang akan atau sedang dirundingkan. Saat ini pemerintah sedang gencar merundingkan FTA dengan negara lain.

Pada 20-21 September 2016 lalu Indonesia telah melangsungkan putaran perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang pertama dengan Uni Eropa. Juga akan segera memulai perundingan CEPA dengan Australia dan Selandia Baru. Bahkan ASEAN Regional Comprehensive Economic Partnership akhir tahun ini akan segera disepakati. Sebelumnya, pemerintahan Presiden Jokowi juga memberikan sinyal akan bergabung ke dalam Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP).

Kenapa isi perundingan FTA harus dibuka ke publik?

Ya isi perundingan FTA memang harus dibuka ke publik. Hal itu disebabkan karena FTA akan berdampak luas kepada kehidupan kita sebagai warga negara. Salah satu dampak buruk FTA adalah meningkatnya biaya kesehatan akibat meningkatnya harga obat-obatan. Kok bisa?

Standar perlindungan paten dalam aturan hak kekayaan intelektual (HKI) dalam hampir semua FTA telah menghilangkan akses masyarakat terhadap obat-obatan murah. Hal ini karena seringkali perjanjian perdagangan bebas menghapus ketentuan fleksibilitas The Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS) dalam WTO.

Padahal ketentuan itu yang selama ini digunakan banyak negara untuk membuat obat generik dari obat-obatan yang dipatenkan oleh perusahaan farmasi dari negara maju demi kepentingan publik.

Bukan hanya biaya kesehatan yang naik. Petani pun dipastikan terkena dampak dari penerapan FTA. Petani akan kesulitan memperoleh binih untuk ditanam. Petani pemulia binih dengan kearifan lokalnya akan terancam dikriminalisasi. Binih telah dikuasai perusahaan-perusahaan besar di sektor pertanian. Dengan jaminan perlindungan paten yang tinggi dalam hampir semua FTA, akan semakin banyak petani yang berpotensi menjadi korban-korban kasus kriminalisasi karena memuliakan binih.

Bahkan FTA juga mengancam para blogger dan netizen (pengguna internet). Ketika FTA diterapkan maka sebuah blog atau webiste dengan begitu mudahnya akan diblokir dengan alasan perlindungan konten dengan hak cipta. Keterbukaan informasi dan pengetahuan di internet pun terancam.

Meskipun dampak FTA itu sangat luas dalam kehidupan kita, para pembayar pajak, pemerintah tidak membuka apa yang sejatinya sedang dirundingkan. Ironis, tapi itulah kenyataannya. Malang benar nasib kita para pembayar pajak di negeri ini. [b]

Tags: EkonomiGlobalisasiOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Firdaus Cahyadi

Firdaus Cahyadi

Firdaus Cahyadi adalah seorang ayah, blogger, aktivis online, penulis opini di media massa, konsultan analisis media dan strategi komunikasi untuk organisasi masyarakat sipil, dan trainner pelatihan penulisan.

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Banjir Bandang di Paru-Paru Pulau Dewata

Banjir Bandang di Paru-Paru Pulau Dewata

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Tiga Chef Muda Bali Bicara Tantangan Pangan Lokal

19 May 2026

TPA Suwung Ditutup, Apakah Bali Siap?

19 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia