• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, March 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Mahasiswa Harus Didukung jadi Wirausaha Muda

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
2 January 2017
in Pendidikan
0
0
Diskusi kendala dan tantangan wirausaha muda di era digital. Foto AJI Denpasar.

Paradigma kuliah untuk bekerja harus diubah.

Kampus seharusnya menjadi sekolah untuk membuka usaha agar semakin banyak jumlah pengusaha di Indonesia, khususnya Bali yang memiliki jumlah penduduk usia muda cukup besar. Di sisi lain, keluarga juga harus mendukung usaha mereka.

Pengamat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Udayana Sayu Ketut Sutrisna Dewi mengemukakan masih banyak calon pengusaha khususnya mahasiswa belum mendapatkan dukungan dari keluarga dan komunitas karena masalah cara pandang atau paradigma tersebut.

“Kita lagi masa transisi, beberapa pihak bisa menerima, beberapa tidak. Anak-anak sudah berusaha tapi kadang belum didukung,” kata Dewi.

Berdasarkan pengalaman Dewi ketika membina anak muda seperti itu, para mahasiswa susah payah meyakinkan orang tua untuk menjalankan bisnisnya. “Dia sampai minggat dari rumah untuk membuktikan ke orang tuanya dia benar,” tuturnya.

Dewi menyampaikan pendapat dan pengalaman tersebut dalam diskusi “Tantangan dan Kendala Wirausaha Muda di Era Digital” yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan Bank Mandiri pekan lalu.

Dalam diskusi ini hadir juga pendiri PT Bamboomedia Putu Sudiarta dan Deputi Direktur Manajemen Strategis, Edukasi dan Perlindungan Konsumen (EPK) dan Kemitraan Pemda OJK Regional 8 Bali Nusra Yonas.

Menurut Sutrisna Dewi, pola pikir seperti itulah yang menurutnya menghambat kenaikan jumlah pengusaha muda secara signifikan. Sebab, anak dipaksa mengikuti keinginan orang tua dan bukan berdasarkan passion, misalnya dalam hal kuliah.

Dia memaparkan dari hasil polling di Universitas Udayana pada 2010 silam, didapatkan hasil sebanyak 56 persen dari total responden menyatakan salah jurusan. Dari jumlah yang salah jurusan tersebut, 90 persen menyatakan salah jurusan karena mengikuti keinginan orang tua.

Menariknya, kata dia, 76 persen responden yang disurvei ternyata memilih menyembunyikan usahanya dari orang tua.

Dia mengungkapkan salah kaprah memandang wirausaha juga berdampak terhadap upaya menciptakan komunitas usaha seperti inkubator bisnis untuk mahasiswa.

Karena itu, lanjutnya, gerakan kewirausahaan membutuhkan partisipasi dari banyak pihak, terutama keluarga dan komunitas. Mereka bisa memberikan dukungan bagi calon wirausaha sehingga semakin banyak generasi muda memilih menjadi pengusaha dibandingkan sebagai karyawan.

“Wirausaha bukan sesuatu yang dikenalkan sebagai cita-cita oleh orang tua, yang dikenalkan itu dokter, akuntan dan pekerjaan lain. Jadi wirausaha itu nanti kalau tidak dapat kerja di mana-mana,” tuturnya.

Sementara itu, Putu Sudiarta bercerita tentang pengalamannya sebagai wirausaha di bidang digital.

Dia menyarankan wirausaha dimulai sejak usia sebelum 35 tahun. Pada masa-masa tersebut anak muda memiliki ruang gerak lebih luas dibandingkan ketika usianya sudah lewat 35 tahun. Menurutnya, pada usia tersebut manusia memiliki kemampuan lebih tajam.

Diakuinya menjadi pengusaha tidak mudah, karena membutuhkan dedikasi kuat untuk bisa berhasil. Sudiarta mengingatkan bahwa potensi industri digital untuk menjadi ladang usaha sangat besar. Bahkan, Bali terbukti menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan informasi teknologi seperti OLX.

Di era teknologi digital seperti sekarang, generasi mudah disarankan mencari problem yang dialami di Indonesia setidaknya 1 juta orang mengalami untuk kemudian dicarikan solusi berbasis aplikasi. Dia menegaskan industri digital dapat mendorong banyak solusi menjadikan Indonesia lebih efisien dan efektif.

“Di dunia digital pelakunya adalah anak muda yang punya niat luar biasa, masih punya determinasi kuat pada hidupnya dan melihat potensi besar di zaman digital ini. Kita butuh partisipasi anak muda untuk menyelesaikan problem itu, sehingga indonesia tak kehilangan momen bonus demografi dengan skil kuat,” tuturnya.

Yones menambahkan saat ini masyarakat tidak bisa menghindari dunia digital sehingga jika tidak mengikuti digital akan hanyut atau habis. Karena itu, generasi mudah disarankan untuk mengikuti dan memanfaatkan teknologi digital secara positif. [b]

Tags: AJI DenpasarDenpasarDiskusiEkonomi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Perayaan Tahun Baru di Denpasar Tempo Doeloe

Perayaan Tahun Baru di Denpasar Tempo Doeloe

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia