• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, March 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Machoisme Festival Layang-Layang di Bali

Bram Setiawan by Bram Setiawan
1 August 2015
in Kabar Baru, Sosial
0
0
Layangan janggan melambangkan naga yang menjaga keseimbangan jagat semesta. Foto Ari Budiadnyana.
Layangan janggan melambangkan naga yang menjaga keseimbangan jagat semesta. Foto Ari Budiadnyana.

Musim layangan di Bali telah tiba-tiba. 

Birunya langit Bali pun kembali penuh dengan aneka bentuk dan warna layang-layang. Melayangan atau bermain layang-layang memang termasuk tradisi di Bali. Tradisi ini bahkan sudah menjadi festival dilombakan.

Namun, berjalannya zaman dan empasan arus modernitas membuat permainan rakyat ini kerap kali membuat ketidaknyamanan para pengguna lalu lintas.

Aksi mendominasi jalan raya dan geber-geberan knalpot berong sepeda motor kerap kali mewarnai konvoi mengusung layang-layang. Bahkan tak jarang para pengusung layangan abai terhadap aturan berlalu lintas, salah satunya tidak menggunakan helm.

Antropolog asal Bali, Degung Santikarma, melihat hal tersebut sebagai sebuah terjemahan ide-ide pelestarian tradisi yang mengarah pada isu maskulinitas atau ekspresi kejantanan. Bahkan menurut dia hal tersebut juga mengandung ekspresi militeristik.

“Ini seperti konsep klaim teritorial. Misalnya mengambil jalan raya seolah-olah hanya milik kelompok mereka,” katanya.

Menurut Degung, perilaku melanggar aturan saat melayangan adalah bukti bagaimana sempitnya solidaritas. “Saya kira ini perlu dipikirkan kenapa tradisi jadi seperti ini,” tambahnya.

Lebih dari itu, Degung menambahkan, fenomena lomba layang-layang ini sebagai politik identitas yang dikontestasi. Ada identitas yang dipertaruhkan, tapi bukan identitas kebalian.

Identitas yang dimaksud, kata Degung, lebih mengarah pada identitas banjar atau desa.

“Malah isu identitas lebih tinggi daripada keselamatan tentang ruang publik,” kata dosen antropologi George Mason University, USA ini.

Foto Degung Santikarma di Taman Baca Kesiman“Ruang ekspresi identitas ini uji coba terhadap teori identitas keBalian. Bahwa, keBalian itu hanya sebuah imajinasi,” tambahnya.

Selain itu bermain layang-layang atau lomba layang-layang juga memuat romantisme kaum urban terhadap kelampauan masa kanak-kanak. Alumni pascasarjana antropologi University of Melbourne, Australia ini menjelaskan romantisme tersebut ada pada kalangan menengah ke atas.

“Tapi pelakunya justru dari kalangan kelas bawah yang energinya dieksploitasi dan dimobilisasi. Ini mengukur kekuatan barometer energi sosial orang Bali mau diterjemahkan kemana,” tuturnya.

Pria asal Kesiman, Denpasar ini mengungkapkan dahulu ketika ia masih anak-anak lomba layang-layang lebih bersifat kompetitif jauh berbeda dengan zaman sekarang. “Layangannya tidak besar, juga diadu main putus benang, itu seperti kejantanan yang diekspresikan. Makanya dulu itu kalau mau lomba layangan semalaman membuat benang gelasan,” katanya.

“Kalau sekarang malah jadi gengsi jor-joran kelas menengah ke atas mengeluarkan uang juta-jutaan. Hal semacam ini membuat masa cepat dikooptasi,” tambahnya. [b]

Tags: BudayaLayanganSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Bram Setiawan

Bram Setiawan

Freelance journalist & researcher

Related Posts

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

Sanggah Kemulan Bermakna Unik dari Susunan Bambu di Desa Pedawa

25 July 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025

Bali Hampir Habis, Semenjana dan Tergantikan

4 January 2025
Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

Lebih dari Sekadar Wastra, Ragam Ekspresi di Roman Muka

22 July 2024
Next Post
OSPEK, Pembodohan Mahasiswa yang Dibiarkan

OSPEK, Pembodohan Mahasiswa yang Dibiarkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia