• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Legenda, Tuak Manis yang Tak Memabukkan

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
3 June 2016
in Kabar Baru
0
0
Ida Bagus Kade Dwi Darmada mengenalkan tuak manis Legenda kepada pembeli. Foto Luh De Suriyani.
Ida Bagus Kade Dwi Darmada mengenalkan tuak manis Legenda kepada pembeli. Foto Luh De Suriyani.

Dia sering muncul di sejumlah kegiatan. 

Mereknya Legenda, tuak manis yang sering hadir di kegiatan pameran dan pasar hasil pertanian. Ida Bagus Kade Dwi Darmada ingin menjadikannya populer serupa es teh dan es jeruk di warung-warung. Bisa diminum siapa saja.

Konsumen mula-mula ragu membeli karena citra tuak telanjur disandingkan dengan judi. Namun pria ini sabar melayani pembelinya dan mendorong mereka mencoba. Jadilah banyak perempuan dan remaja meneguk manisnya air bunga kelapa dingin ini.

Pembeli harus sabar meneguk dengan tandas karena tuaknya membeku. Harus dikocok-kocok untuk mempercepat pencairan es.

Tiap hari ia menampung beberapa liter air dari irisan bunga kelapa segar dari petani di kampungnya, Jembrana. “Baru turun dari pohon kelapa langsung saya kemas di botol dan masukkan freezer biar tidak sampai fermentasi dan beralkohol,” kata mahasiswa Program Master Agribisnis Universitas Udayana ini.

Tagline tuak manis dalam botol ini adalah go local, tuak manis: metuakan tanpa mabuk.

Tuak manis Legenda di pameran produk pertanian. Foto Luh De Suriyani.
Tuak manis Legenda di pameran produk pertanian. Foto Luh De Suriyani.

Gus De, panggilannya, fasih menceritakan semangatnya memulai wirausaha dengan tuak manis ini. Misalnya ketika jualan ia didatangi sekelompok siswa dan guru yang sedang belajar wirausaha.

Ia menceritakan motivasinya berdagang tuak karena merasa produk ini berpeluang laris dan belum banyak yang mengemasnya seperti minuman botolan lain.

“Tuak manis ini aman untuk siapa saja, tak berlakohol dan mengandung sukrosa gula buah yang baik,” jelasnya.

Ia mengajak remaja yang mengerumuninya itu untuk melihat potensi sekitar jadi ide bisnis. “Apa pun yang ada di lingkungan seitar bisa jadi bisnis. Kalau ada ide garap saja,” dorong sarjana pertanian ini.

Ia menyebut omzetnya dengan berjualan paruh waktu sekitar Rp 5 juta per bulan. Gusde menjual sendiri ke even-even atau pesan antar (delivery) dengan harga lebih mahal. “Layanan delivery kini kan sedang tren, saya bawakan dengan cooler box,” tambahnya.

Pembeli mencoba tuak manis Legenda. Foto Luh De Suriyani.
Pembeli mencoba tuak manis Legenda. Foto Luh De Suriyani.

Sejumlah remaja masih takut-takut membeli tuak manis ini karena takut memabukkan. Gus De meyakinkan rasanya hanya manis tak kecut seperti hasil fermentasi.

Ia juga memberi penjelasan jika tuak manis sehat mengandung 17 asam amino. “Kelapa serap unsur hara melalui batang kemudian dimasak di daun dan disebarkan ke buah. Petani kelapa motong jalur dengan mengiris buahnya sehingga nutrisi yg dimakan kelapa kita curi,” jelasnya.

Ia menyebut produknya bisa memberi nilai tambah pada petani karena mereka bisanya menjual tuak beralkohol dengan harga murah, itu pun tak rutin. Sementara ia menjual tuak dalam botol kecil Rp 6.000 per unit. Jika delivery jadi Rp 10.000.

Tuak manis juga bahan baku gula merah. Selain tuak kelapa, masyarakat Bali juga membuat tuak dari enau dan lontar. Petani menggores bunganya lalu menampungnya dalam wadah-wadah. Biasanya dipanen pagi dan sore hari.

Gus De mengaku ingin menambah mitra pemasok tuak di desa-desa lain jika produknya sudah meluas. Pengemasan dalam botol menurutnya sangat penting karena harus masuk freezer secepat mungkin. Sementara saat ini kendalanya pemasoknya dari petani Jembrana yang jauh, sekitar tiga jam perjalanan dari Denpasar, lokasi pasar produknya. [b]

Tags: DenpasarEkonomiKulinerTuak Manis
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Waspada Setelah Ninja Muncul di Bali

Waspada Setelah Ninja Muncul di Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia