
Apakah kamu pernah merasakan kekurangan air? Seperti nggak bisa mandi beberapa hari karena akses air yang sulit? Atau mungkin pernah merasakan air minum yang rasanya aneh?
Permasalahan air mungkin belum dirasakan secara menyeluruh oleh masyarakat, terutama masyarakat Bali. Namun, di beberapa daerah masalah air menjadi masalah yang tak kunjung terselesaikan. Bukan hanya di desa-desa, masalah air kini merambat hingga ke kota, seperti di daerah Jimbaran.
Masyarakat di Bali Selatan, tidak lagi bisa menikmati air dengan mudah. Tidak hanya sulit, mereka harus berebut dengan industri pariwisata, seperti yang diangkat dalam liputan ini. Makin hari makin banyak daerah di Bali yang mengalami krisis air bersih.
Riset Yayasan IDEP Selaras Alam bekerja sama dengan Politeknik Negeri Bali menemukan bahwa telah terjadi intrusi air laut, yaitu fenomena masuknya air laut ke dalam lapisan akuifer air tawar bawah tanah. Selain itu, juga terjadi penurunan permukaan air tanah. Laporan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Bali Nusra juga menjelaskan bahwa Bali sudah tidak mampu lagi mendukung ketersedian air bersih.
Yayasan IDEP Selaras Alam, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berbasis di Bali membingkai permasalahan air dari kacamata anak muda. Keresahan anak muda terhadap ketersediaan air di masa depan dan di masa kini diwadahi dalam Bali Water Protection (BWP) Competition.
BWP Competition menghasilkan 12 video kreatif dari anak muda yang peduli terhadap krisis air. Tiga juara video pendek BWP hadir untuk berdiskusi langsung melalui “Suara Muda untuk Air Bali: Ekspresi, Aksi, dan Harapan” di Anugerah Jurnalisme Warga 2025 yang dilaksanakan oleh BaleBengong pada 28 Juni 2025.
Tercemarnya sumber air terbesar di Bali
Salah satu anak muda yang hadir malam itu adalah Anak Agung Istri Mahisa. Ia meraih juara 1 video pendek kategori pelajar dengan video berjudul Danau Batur: Mata Air Pulau Dewata. Video tersebut menampilkan dirinya yang tengah menjelaskan kondisi Danau Batur saat ini, dilengkapi wawancara dengan masyarakat sekitar dan akademisi.
Mahisa menuturkan ia mengangkat topik tersebut karena jarang terekspos di media. Padahal, Danau Batur merupakan wilayah pariwisata yang akhir-akhir ini semakin ramai dikunjungi. Ketika melakukan riset terkait Danau Batur, ia menemukan bahwa ada beberapa wilayah danau yang sudah tercemar.
Mahisa sendiri mengakui bahwa dirinya tidak pernah merasakan krisis air karena akses air yang masih terbilang mudah di tempat tinggalnya. Namun, suatu kejadian membuatnya tersadar bahwa pencemaran air nyata terjadi. Kejadian ini bermula ketika dirinya menginap di villa daerah Bangli. Ketika melihat kolam besar di villa tersebut ia langsung terpikir biaya perawatan yang mahal. Nyatanya, beberapa villa di sana membuang air kolamnua begitu saja ke Danau Batur.
“Salah satu faktor yang paling besar (penyebab tercemarnya Danau Batur) adalah perekonomian pariwisata. Yang kedua adalah bagaimana tindak laku masyarakat di sana,” tutur Mahisa. Ia menemukan bahwa masyarakat sekitar Danau Batur banyak menggunakan pupuk pestisida pada pertaniannya. Sisa-sisa pupuk tersebut dibuang ke Danau Batur, sehingga kualitas air danau menjadi keruh.
Penyebab lainnya adalah penggunaan keramba jaring apung di sekitar Danau Batur untuk budidaya ikan. “Itu untuk menampung makan dan ternak ikan di sana, sehingga residu dari pakan tersebut juga berdampak besar pada air Danau Batur,” ujar Mahisa.
Danau Batur merupakan salah satu sumber air terbesar di Bali. Airnya mengalir ke sejumlah tukad di Bali. Ketika air di hulu keruh, masyarakat hanya akan merasakan kualitas air yang buruk.
Ke mana perginya subak?
Subak juga menjadi topik yang diangkat dalam kompetisi BWP. Bicara tentang air dan Bali tentu tidak jauh dari subak, yaitu sistem irigasi tradisional masyarakat petani Bali. Topik ini diangkat oleh Ketut Yogi Wiriatma dengan video berjudul Water, Subak, and The Future of Bali.
Yogi berasal dari Desa Lemukih, Kabupaten Buleleng. Ketika dirinya pulang kampung, ia menyadari subak di desanya tidak aktif seperti dulu. Yogi bertanya-tanya apakah subak di desa bubar atau bagaimana. Apabila subak tidak ada, petani akan kesulitan mendapatkan air. Bahkan, aliran air yang seingatnya ada di beberapa titik, kini telah berganti menjadi jalan aspal.
“Perasaan inilah yang ingin saya tuangkan ke dalam video itu. Bagaimana sih sebenarnya subak itu bisa membantu petani untuk mendapatkan air dan bagaimana pentingnya subak terhadap petani,” ujar Yogi.
Di beberapa menit terakhir video menampilkan anak muda yang sedang menanam pohon. Melalui cuplikan tersebut, ia meyakini bahwa pohon dapat memperbaiki kualitas air yang ada di tanah.
“Sebenarnya saya ingin di cuplikan belakangnya itu saya kasih cuplikan video generasi muda yang ingin membangkitkan semangat kembali,” terang Yogi. Sayangnya, mendapatkan rekaman semacam itu cukup sulit.
Ketakutan pun membayanginya, apa yang terjadi jika subak benar-benar hilang dan tidak ada yang peduli terhadap hal tersebut?
Sungai tercemar, tradisi pun tercemar
Lain dari Mahisa dan Yogi, Oka Dwiana merasakan sendiri dampak krisis air di rumahnya. Ia menuangkan pengalamannya dan orang-orang di sekitarnya dalam video berjudul Di Antara Tetes dan Doa.
Ada sebuah sungai yang letaknya tidak jauh dari rumah Oka. Sungai itu menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar, mulai dari mencuci hingga mandi. Namun, belakangan air sungai menimbulkan bau tak sedap. Warga yang mandi di sana pun merasakan gatal di sekujur badan.
Oka pun menelusuri asal muasal masalah tersebut. “Ternyata ada yang membuang limbah kotoran di sana,” terang Oka. Keresahan Oka tidak sebatas itu, ia juga memikirkan apa jadinya tradisi jika airnya saja tercemar limbah. Selain masyarakat Hindu, agama lain pun membutuhkan air untuk ibadah, seperti agama Islam yang memerlukan air untuk wudhu.
Melalui video tersebut, Oka menjelaskan solusi untuk mengatasi krisis air di Bali. “Salah satunya yaitu membuat lubang biopori. Karena lubang biopori itu dapat menampung air hujan yang nanti menjadi ketersediaan air bawah tanah,” terang Oka. Selain itu, bisa juga dengan menanam pohon seperti yang diungkapkan oleh Yogi sebelumnya. Akar pohon dapat mengikat cadangan air di bawah tanah. Bisa juga dengan membuat pipa penampungan air hujan untuk menyalurkan air hujan ke dalam bak penampungan.
Krisis air menjadi masalah yang tak terelakkan. Dari ketiga video pemenang BWP tersebut ada satu kesamaan yang tampak jelas, yaitu aktivitas manusia mengakibatkan pencemaran air dan krisis air bersih. Menghentikan aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab memang bukan hal yang mudah, perlu tindak tegas dan solusi yang berkelanjutan.
Jika krisis air bersih terus terjadi, bukan hanya anak cucu kita yang terkena dampaknya, kita pun bisa terdampak.
kindfarmsreserve.com kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet










