• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, April 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Dampak Pancingan Phishing yang Meruntuhkan Fisik, Mental, dan Material

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
17 July 2025
in Berita Utama, Kabar Baru, Teknologi
0
0
Ilustrasi pengguna smartphone. Sumber foto: Wikimedia Commons

Neni (nama samaran), seorang pengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bali. Dalam hitungan hari, usianya akan mencapai kepala tiga. Menjelang usia 30 tahun, Neni menjadi korban penipuan. Bukan kehilangan uang yang membuat hatinya terasa berat, tetapi respon orang terdekatnya.

Saya berbincang dengan Neni di kelas kosong. Kebetulan hari itu sekolah sedang diliburkan. Neni memilih bertemu di sekolah tempatnya mengajar karena tidak ada lagi waktu luang ketika di rumah.

Akhir tahun 2024, Neni memutuskan membeli tablet untuk menunjang kebutuhan kerjanya. Ia pun memindahkan beberapa datanya ke tablet, salah satunya aplikasi Shopee yang di dalamnya juga berisi SPayLater. Shopee merupakan platform jual beli online yang juga menyediakan pinjaman uang dengan nama SPayLater. Selain memindahkan aplikasi Shopee, Neni juga memindahkan aplikasi pesan WhatsApp ke tablet.

Beberapa hari kemudian, ia menerima sebuah pesan WhatsApp yang mengatasnamakan Shopee. Neni pun membuka pesan tersebut. Begini kurang lebih isinya, “Apakah Anda ingin mengamankan akun SPayLater Anda?” dengan pilihan “Ya” dan “Tidak” di bawahnya. Tanpa pikir panjang ia mengklik “Ya”. Pasalnya, beberapa hari lalu ia sempat mengganti kata sandi Shopee, sehingga ia pikir pesan tersebut memang dari pihak Shopee.

Setelah mengklik “Ya”, tabletnya mati. “Saya kira kan kayak eror biasa kan, terus saya cas, hidup lagi biasa,” tutur Neni. Kurang lebih tiga hari pasca kejadian tersebut, Neni menerima pesan dari nomor tak dikenal. Pesan tersebut bernada ancaman dilengkapi Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya. 

“Dia pokoknya bilang gini, pokoknya kalau kamu tidak mau membayar hutang, saya akan sebarkan data kamu,” ujar Neni menceritakan isi pesan tersebut. Neni memang menggunakan SPayLater, tetapi pinjaman di aplikasi tersebut tidak sebanyak yang diungkapkan dalam isi pesan, yaitu sebesar Rp2 juta.

“Awalnya saya nggak mau,” ungkap Neni. Pasalnya, pesan tersebut memintanya mengirim uang ke virtual account. Sementara, pinjaman SPayLater biasanya dibayarkan melalui aplikasi Shopee. Saat menolak membayar, ia pun menerima pesan balasan bahwa aplikasi Shopee sedang dalam maintenance, sehingga semua penagihan dialihkan melalui WhatsApp.

Saat diteror dengan pesan tersebut, Neni baru saja melahirkan anak keduanya. “Jadi mungkin kondisinya juga nggak stabil. Akhirnya, saya mau mentransfer uang,” tutur Neni menjelaskan alasannya mengirim uang. Selang beberapa hari, nomor lain menghubungi Neni, kembali menagih uang dengan teror yang sama.

Sambil menghela napas panjang, Neni mengungkapkan dirinya tidak berani bercerita kepada suaminya saat mendapatkan pesan teror. Ia pun hanya bercerita kepada temannya di sekolah. “Kamu kok mau transfer, itu kalau kamu punya hutang memang di aplikasi Shopee, harusnya kan kamu bayar ke Shopee, bukan ke virtual account,” kata Neni menirukan ucapan temannya. “Habis itu saya baru ngomong, oh iya ya, kok aku bayar?” ungkap Neni.

Setelah itu, Neni tidak menghiraukan pesan-pesan teror itu lagi. Satu teror tidak dihiraukan, teror lain pun bermunculan. Pesan-pesan mulai disebarkan ke orang lain, kenalan Neni. “Dia chat ke adik saya, dia chat ke ibu saya, terus dia chat ke HP sekolah,” ungkap Neni putus asa. Teror berupa kiriman pun berdatangan. Sekolah tempat Neni bekerja kerap menerima orderan fiktif. Seseorang memesan makanan melalui aplikasi Gojek. Pesanan tersebut belum dibayar dan ditujukan kepada Neni, padahal dirinya tidak pernah memesan apa pun.

Pesan bernada ancaman juga diterima oleh siswa-siswi di sekolahnya mengajar. Pelaku mencari tahu media sosial sekolahnya dan siswa-siswi yang belajar di sana. Kolom komentar Instagram mereka dipenuhi pesan-pesan dari pelaku. “Tapi untungnya ya anak-anak nggak pernah tanya. Cuma dia tuh tanyanya ke guru lain,” ujarnya. 

Neni pernah menghadap kepala sekolah perkara teror berlanjut yang menyasar sekolah. “Bapak menanyakan bagaimana kondisi saya karena beliau kan tahu kalau saya baru melahirkan,” ujar Neni. Pihak sekolah berusaha membantu dengan memberikan pengumuman kepada guru, pegawai, dan siswa-siswi bahwa Neni merupakan korban phishing.

Teror yang diterima oleh teman-temannya di sekolah tidak terlalu memberatkan Neni. Satu-satunya yang ia pikirkan saat itu adalah bagaimana caranya agar suaminya tidak tahu tentang kejadian tersebut. Sialnya, hal tersebut tidak terhindarkan. Identitas Neni sudah terkuak, sepertinya pelaku melacak identitas suaminya melalui asuransi kesehatan yang terdaftar satu keluarga. Neni menduga karena asuransi kesehatan tersebut dibayarkan oleh perusahaan suaminya, pelaku mendapatkan kontak tempat suaminya bekerja.

Teror pun mulai menyasar perusahaan suaminya. “Itu yang bikin suami saya marah,” ungkap Neni. Suaminya tidak mau mendengar penjelasan, ia lebih percaya kepada pesan teror tersebut daripada Neni. Hal tersebut membuat mentalnya tidak stabil. Ia pun mengirim uang ke pelaku agar suaminya tidak lagi menerima teror.

Namun, teror tersebut tidak pernah berhenti. Orderan fiktif atas nama Neni dengan tujuan sekolahnya makin banyak berdatangan. Seorang teman menyarankan Neni agar melaporkan kejadian tersebut ke Gojek. “Posisi sekolah ini bisa diblok. Jadi orang yang order dari sini tuh nggak bisa, yang ngirim ke sini juga nggak bisa,” terang Neni. Setelah dipikir-pikir, ia tidak mungkin melakukan hal tersebut. Jika posisi sekolahnya diblokir di Gojek, lantas bagaimana nasib siswa-siswi yang diantar jemput menggunakan Gojek?

“Kalau buat aku sendiri nih kayaknya aku terlalu mementingkan diri sendiri kan, egois,” pikir Neni. Akibat kejadian tersebut, Neni mengalami trauma. Rasa takut menyelimuti dirinya setiap melihat driver Gojek berkeliaran. “Ada Gojek masuk itu saya udah takut. Aduh, ini apa lagi ya? Dia bawa apa lagi ya?” Neni bertanya-tanya dalam hati. 

Bahkan, ia sampai menelepon temannya untuk bertanya kenapa ada Gojek di tempat tersebut. Bukan hanya ketakutan melihat driver Gojek, Neni juga takut ketika ada orang berdiri di depan rumahnya. Belum lagi kondisinya yang baru melahirkan menyebabkan dirinya juga mengalami baby blues. Setiap mendengar anaknya menangis, ia merasa kesal dan ingin berteriak.

Teror dan ancaman yang bertubi-tubi membuat tidur Neni tak nyenyak. Ia pun pergi ke Puskesmas dengan keluhan sakit kepala. Dokter menyarankan Neni untuk menemui psikiater karena kondisinya yang baru melahirkan, dikhawatirkan depresi dan baby blues. 

Neni dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara. Di sana ia bertemu dengan psikiater dan menceritakan segalanya. Hal yang membuat emosional Neni tambah kewalahan adalah tidak adanya tempat berlindung dalam keluarga. “Jadi yang menguatkan saya itu ya cuma teman-teman aja. Saya merasa lebih nyaman berada di sekolah daripada saya berada di rumah. Kalau di rumah, suami seperti cuek, tidak mau tanya saya bagaimana, masalahnya bagaimana,” ungkap Neni. Ketika psikiater meminta Neni mengajak suaminya untuk ikut berkonsultasi, suami Neni menolak.

Neni didiagnosis anxiety disorder atau gangguan kecemasan oleh psikiater. Setiap kali pusing, ia dianjurkan minum obat penenang. Setelah minum, tubuhnya lemas dan tertidur. Namun, ia menyadari dirinya tidak produktif ketika mengonsumsi obat penenang. Neni pun berhenti mengonsumsi obat penenang. Ia mulai mencoba menghadapi teror tersebut dengan mengabaikannya.

Kasus tersebut pernah ia laporkan ke Polda Bali. Polisi meminta bukti berupa tangkapan layar dan mutasi rekening. Namun, suami Neni tidak setuju kasus tersebut dilaporkan ke polisi. “Nggak usah deh, ribet itu. Biarin aja,” kata Neni menirukan suaminya. Saat membuat laporan di kantor polisi, Neni bertemu belasan orang dengan aduan yang sama. Bahkan, ada yang ditipu ratusan juta.

Hingga saat ini masih banyak teror dan ancaman yang menyasar Neni. Seolah berdamai dengan kejadian tersebut, Neni tak lagi menghiraukannya. Neni menunjukkan kepada saya banyaknya teror yang ia terima, lebih dari lima nomor berbeda meneleponnya dalam sehari. Bahkan, di tengah perbincangan kami pun ada nomor tak dikenal meneleponnya. Neni seakan-akan sudah beradaptasi dengan teror yang diterimanya. Nada dering tak lagi berbunyi ketika nomor tak dikenal menelepon.

Kecemasan masih menyelimuti Neni. Setiap Gojek datang dirinya merasa gelisah. Kini ia berhenti belanja online, berhenti pula menggunakan pay later. Perlahan teror yang datang memang semakin sedikit, tetapi masih terus berlanjut. Pelaku beberapa kali ingin mengambil alih WhatsApp Neni, tetapi ia tidak menghiraukannya.

Phishing tidak pandang bulu, siapa saja bisa jadi korban. Caca (nama samaran) hampir menjadi korban. Bukan Caca tepatnya, tetapi ayah Caca, sebut saja Budi. Suatu hari Budi dihubungi oleh nomor tidak dikenal melalui WhatsApp. Pesan tersebut berasal dari seseorang yang mengaku sebagai Caca. Foto profilnya menggunakan wajah Caca. Bahkan, pelaku mengaku sedang ke pameran, seolah mengetahui aktivitas Caca. Kejadian ini terjadi dua kali dengan modus dan sasaran korban yang sama.

Caca saat itu keheranan dari mana pelaku mendapatkan fotonya dan mengetahui aktivitsnya. Ia menduga foto tersebut didapatkan dari Bumble karena foto tersebut hanya ia unggah di aplikasi kencan. Untungnya, Budi langsung mengetahui bahwa pesan tersebut tidak berasal dari anaknya. Pasalnya, typing di pesan tersebut sangat asing, tidak seperti biasanya. Rekening yang dikirim juga bukan atas nama Caca.

Neni dan Caca merupakan dua di antara banyaknya korban phishing. Modus phishing ada bermacam-macam, seperti perlindungan akun yang dialami Neni atau berpura-pura menjadi orang yang dikenal seperti yang dialami ayah Caca.

Typing pelaku phishing sangat khas, peletakan tanda baca tidak tepat, penggunaan huruf kapital berantakan, serta singkatan yang kadang tak bisa terbaca. Cara mudah mengenali pesan phishing adalah mengamati pengetikannya.

Modus penipu biasanya mengganti nomor atau berpura-pura menjadi kontak layanan pelanggan aplikasi tertentu. Dalam kasus Neni, untuk mengetahui nomor tersebut penipuan atau bukan, bisa dilihat dari profil WhatsApp nomor tersebut. Shopee menggunakan akun WhatsApp bisnis bercentang biru untuk mengirimkan OTP dan pemberitahuan kepada pelanggan. Apabila ada akun WhatsApp mirip Shopee yang menghubungi kamu, coba perhatikan aktivitasmu, apakah memang ada aktivitas log in atau tidak.

Pelaku phishing juga sering mengirimkan nomor rekening dan virtual account untuk meminta transfer sejumlah uang. Biasanya pelaku akan meminta dengan kesan terburu-buru. Hal ini bisa diidentifikasi pula dengan melihat nama akun rekening dan virtual account.

Di zaman yang serba cepat ini, identitas diri menjadi hal yang sangat penting. Ketika KTP terkuak, identitas lain bisa diketahui dengan mudah. Bocornya identitas diri tidak bisa diremehkan begitu saja. Banyak hal yang bisa didapatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab ketika satu identitas diri bocor. Seperti Neni, phishing juga mengancam mental seseorang ketika teror dan ancaman tidak kunjung berhenti.

Apabila Anda menjadi korban phishing seperti Neni, Anda bisa membuat aduan di https://aduan.safenet.or.id/. 

kindfarmsreserve.com kampungbet kampungbet kampungbet kampungbet
Tags: kebocoran datakorban penipuanpay laterpenipuan onlinephishingphishing di Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Phishing: Pancingan di Ruang Digital

Phishing: Pancingan di Ruang Digital

21 August 2025
Identifikasi Sederhana Serangan Siber

Identifikasi Sederhana Serangan Siber

19 July 2025
Pengalaman Suci Antari Saat di Pengungsian

UU Perlindungan Data Pribadi Penting karena Masifnya Kebocoran Data

8 September 2022
Next Post
Igniting Jimbaran’s Literary Scene from Pasar Republik Buku

Igniting Jimbaran’s Literary Scene from Pasar Republik Buku

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia