Konser selalu menjadi hal yang asyik dan menyenangkan sampai ia tiba pada batas mengganggu kenyamanan para penonton. Toilet, parkir, hingga kawasan bebas merokok, setidaknya tiga hal tersebut yang menjadi penting untuk diperhatikan para penyelenggara konser. Bayangkan, Anda menonton Sheila On Seven dengan asap rokok yang menyesakkan dada, membuat perih mata, dan tidak ada toilet yang proper untuk Anda membuang air. Selepas konser, helm kebanggaan Anda hilang dari spion motor. Sungguh banyak hal yang harus dibayar untuk sekadar melihat Pak Duta menyanyi lagu Dan: “Lupakanlah saja helm mu, bila itu bisa membuatmu, kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala.”
Sudahi Merokokmu, Mari Berdansa Denganku
Saya paham betul bahwa produk-produk rokok seringkali menjadi sponsor utama dalam perhelatan konser, atau setidaknya menjadi sponsor biasa-biasa saja. Dalam beberapa konser, ketika suatu produk rokok menjadi sponsor, mereka biasanya akan menyuguhkan pengalaman yang ‘dekat dengan anak muda’, seperti photobooth hingga games menarik berhadiahkan merchandise atau rokok gratis, anak muda banget, lah! Hal tersebut kemudian menarik perhatian anak muda.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam perhelatan konser yang disponsori oleh produk rokok: tingkat perokok pemula yang meningkat dan kawasan bebas rokok. Ketika produk rokok menyuguhkan hal-hal yang ‘anak muda banget’, mereka telah paham betul bahwa target pasar mereka adalah orang-orang yang dekat dengan media sosial, setidaknya, sepulang konser, anak-anak muda yang mendapatkan kepuasan dari sensasi iklan produk rokok tersebut akan menceritakan kepada kawan-kawan mereka, atau setidaknya ke media sosial. Hal itu berpotensi meningkatkan angka perokok pemula karena tertarik terhadap promosi oleh para pengiklan rokok.
Mungkin meningkatnya jumlah perokok pemula tidak begitu dipedulikan oleh para penyelenggara konser, bahkan menjadi berita baik bagi para sponsor rokok. Akan tetapi, hal yang sebaiknya diperhatikan adalah kawasan bebas asap rokok yang perlu disediakan dan diberlakukan secara lebih ketat. Justru seharusnya sponsor rokok adalah pihak yang cukup bertanggung jawab untuk menyediakan atau memaksa penyelenggara konser untuk menyediakan kawasan bebas asap rokok.
Hal senada diucapkan oleh Hendra Brawijaya (Saylow) seorang Project Officer Plainsong Live, “Kalau cuma mau untung gampang, cuma bikin yang selalu memberikan pengalaman menyenangkan dan berkelanjutan perlu melatih rasa sensitifitas penyelenggaranya.”
Belum Lagi Toilet dan Parkir
Parkir di konser adalah hal yang cukup penting namun beberapa kali mengecewakan. Pada beberapa konser, bahkan jika penonton telah membeli tiket konser, mereka harus mengeluarkan dompet untuk mengambil sisa-sisa uang mereka untuk membayar parkir. Membayar parkir sebesar seribu hingga dua ribu rupiah mungkin bukan menjadi permasalahan bagi penonton, demi bisa menonton idola mereka. Tetapi, harga tersebut tidak menjamin keamanan kendaraan dan barang bawaan mereka. Beberapa barang, seperti helm dan barang-barang bawaan di bawah jok motor terkadang hilang entah ke mana, namun harga seribu atau dua ribu yang kita berikan kepada petugas parkir justru tidak dapat menyelamatkan atau setidaknya bertanggung jawab atas barang yang kita ‘titipkan’ pada mereka.
Belum lagi toilet, Sri Junantari seorang kawan mengatakan bahwa ia lebih memilih pergi ke toilet yang lebih proper, ketimbang menggunakan toilet yang ‘horor’ di toilet, seperti gelap atau sangat jauh dari keramaian. Toilet memang ditempatkan cukup jauh dari panggung konser, namun masih dalam jangkauan para penonton untuk menghindari bau menyengat yang cukup mengganggu. Akan tetapi, keamanan penonton dalam mengakses toilet juga perlu dipertimbangkan, seperti penerangan hingga jarak yang tidak terlalu sulit dijangkau oleh para penonton. Beberapa kejahatan seperti pencurian hingga pelecehan seksual sangat mungkin dilakukan di tempat yang gelap dan jauh dari keramaian. Maka dari itu, penempatan toilet konser juga menjadi hal yang cukup penting. Tidak hanya itu, toilet sebaiknya disebar di beberapa titik dengan jumlah yang memadai bagi para penonton konser.
Akhir kata, benar kata Saylow bahwa membuat konser yang menguntungkan memanglah mudah, namun yang dapat memberikan pengalaman bagi para penonton dan membuat penonton kembali lagi ke konser tersebut tergantung pada sensitifitas para penyelenggara.
sangkarbet sangkarbet kampungbet










