
Di tengah geliat pariwisata yang kembali pulih dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, Bali justru menghadapi tren penurunan produksi beras. Dalam empat tahun terakhir, produksi beras di Pulau Dewata tercatat turun dari sekitar 384 ribu ton pada 2022 menjadi sekitar 331 ribu ton pada 2025. Meski Kabupaten Tabanan masih menjadi lumbung padi utama Bali, penurunan produksi di sejumlah daerah menunjukkan bahwa ketahanan pangan daerah tidak dapat hanya bergantung pada peningkatan hasil panen semata.
Di tengah penurunan produksi tersebut, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan Bali tidak hanya ditentukan oleh besarnya hasil panen. Kemampuan masyarakat mempertahankan sistem pangan lokal, menjaga kelembagaan pertanian tradisional, dan mengelola sumber daya secara berkelanjutan dapat menjadi faktor penting dalam memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat.
Kajian yang dilakukan oleh Thomas Reuter mengungkapkan bahwa sistem pangan tradisional Bali selama berabad-abad dibangun melalui hubungan perdagangan antara masyarakat dataran tinggi dan pesisir yang saling melengkapi. Sistem tersebut berfungsi sebagai mekanisme ekonomi yang didasarkan pada nilai gotong royong, saling membantu, dan kepercayaan yang disebut sebagai ekonomi moral.
Praktik ekonomi moral telah lama berkembang di wilayah dataran tinggi dan pesisir timur laut Bali yang dihuni masyarakat Bali Aga. Selama berabad-abad, masyarakat pegunungan dan pesisir membangun hubungan perdagangan yang saling melengkapi. Warga pesisir membawa garam, ikan, kelapa, dan minyak kelapa ke daerah perbukitan, sementara masyarakat dataran tinggi menukarnya dengan pisang, jagung, rempah-rempah, kopi, sayuran akar, hingga daging.
Pertukaran tersebut tidak semata berlangsung melalui transaksi pasar. Masyarakat Bali mengenal praktik baang-ngidih, yang berarti memberi dan meminta, sebagai mekanisme distribusi pangan berbasis hubungan sosial. Sistem pertukaran tanpa uang tunai yang dilakukan antar anggota keluarga, tetangga, atau kerabat ini memungkinkan kelebihan hasil panen dibagikan kepada pihak yang membutuhkan sehingga mampu memperkecil risiko kekurangan pangan.
Kehidupan pasar tradisional juga tidak terpisahkan dari aktivitas keagamaan. Kintamani, misalnya, telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan penting yang terhubung dengan jaringan pura wilayah dan ritual masyarakat. Sistem sosial tersebut menjadi salah satu fondasi yang membuat masyarakat Bali mampu mempertahankan ketahanan pangannya dalam jangka panjang.
Penelitian yang dilakukan Thomas Reuter mencatat bahwa modernisasi pertanian sejak dekade 1990-an telah mengubah pola produksi dan konsumsi pangan masyarakat Bali. Pergeseran menuju pertanian komersial dan monokultur dinilai berdampak pada menurunnya keanekaragaman hayati, solidaritas sosial, serta ketahanan pangan masyarakat lokal. Bahkan, kebun campuran yang pada awal 1990-an mampu menampung puluhan hingga lebih dari seratus jenis tanaman pangan kini semakin berkurang keberadaannya.
Selain perubahan sistem produksi, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis juga dinilai menggeser praktik pertanian tradisional Bali. Penelitian mengenai Lontar Usada Sawah menunjukkan bahwa masyarakat Bali sebenarnya memiliki pengetahuan lokal dalam pengendalian hama, pengelolaan irigasi, hingga penentuan musim tanam yang diwariskan melalui naskah kuno. Pengetahuan tersebut diyakini dapat dipadukan dengan teknologi pertanian modern untuk menciptakan sistem produksi pangan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Ketahanan pangan Bali juga pernah menghadapi ujian berat saat pandemi COVID-19 melanda. Kajian mengenai Kabupaten Badung menunjukkan bahwa ketergantungan ekonomi terhadap sektor pariwisata membuat masyarakat rentan ketika aktivitas wisata berhenti. Pendapatan asli daerah Badung yang pada 2019 mencapai Rp4,8 triliun tercatat turun menjadi Rp2,1 triliun pada 2020 dan kembali menurun menjadi Rp1,9 triliun. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pemenuhan kebutuhan pangan.
Penelitian tersebut merekomendasikan penguatan desa adat dan subak sebagai ujung tombak ketahanan pangan. Beberapa strategi yang diusulkan meliputi pembentukan lumbung pangan berbasis komunitas, penyediaan lahan kosong untuk budidaya pertanian, pengembangan urban farming, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, serta pemanfaatan teknologi dan digitalisasi pertanian.
Sektor peternakan menjadi salah satu indikator ketahanan pangan selain tanaman pangan. Penelitian mengenai peternakan sapi Bali menunjukkan bahwa keterbatasan pakan pada musim kemarau masih menjadi persoalan yang dihadapi peternak. Kesulitan memperoleh pakan menyebabkan sebagian peternak mengurangi jumlah ternak yang dipelihara. Oleh karena itu, penyediaan cadangan pakan, peningkatan manajemen pemeliharaan, dan edukasi mengenai ketahanan pangan peternakan dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan asal ternak.
Di tengah tekanan modernisasi, penyusutan produksi beras, dan tingginya ketergantungan ekonomi terhadap pariwisata, berbagai penelitian memperlihatkan bahwa ketahanan pangan Bali pada akhirnya tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi. Kemampuan masyarakat mempertahankan kearifan lokal, memperkuat kelembagaan subak, serta memadukan pengetahuan tradisional dengan inovasi pertanian modern menjadi modal penting agar Bali tetap mampu menjaga keberlanjutan pangannya di masa depan.
Geria, A. A. G. A. (2021). Lontar Usada Sawah: Kearifan Lokal dan Ketahanan Pangan di Bali.
Reuter, T. (2019). Understanding Food System Resilience in Bali, Indonesia: A Moral Economy Approach. Culture, Agriculture, Food and Environment, 41(1), 4–14. https://doi.org/10.1111/cuag.12135
Wirata, G. (2022). Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan pada Masa Pandemi COVID-19 melalui Penguatan Kearifan Lokal di Kabupaten Badung Bali. http://ojs.unud.ac.id/index.
Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Produksi Beras per Bulan Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Bali (Ton), 2022 – 2025.
sangkarbet sangkarbet










