• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Keluarga Korban Bom Bali Merintis Toleransi

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
12 June 2010
in Budaya, Kabar Baru
0
0

Teks dan Foto Luh De Suriyani

Ketika anaknya jadi korban bom Bali, Alex justru merangkul remaja antarnegara dan antarnegara.

Siang yang terik pada Kamis (10/6) lalu, jalan sempit Legian sudah penuh dengan kendaraan. Kuta memang baru terlihat ramai tengah hari. Alexander Braden, dan dua kerabatnya dari Inggris berjalan membawa rangkaian bunga menuju Bali Bomb Memorial Park. Wajahnya tak tampak murung namun tersenyum lepas.

Alex, panggilan Alexander, mengenakan pakaian kehormatannya delapan tahun terakhir ini. Baju kaos hitam bertuliskan, Taipei Baboons Rugby. Itu adalah nama tim rugby anak laki-lakinya, Daniel Braden. Daniel menjadi salah satu korban peristiwa bom Bali ketika melewatkan malam di Sari Club, 12 Oktober 2002 lalu. Bom berkekuatan besar meledak di depan club ramai itu dan menewaskan sedikitnya 202 orang, 23 di antaranya dari Inggris.

Karangan bunga itu diletakkan di bawah altar berisi nama-nama korban. Sepucuk surat ditulis tangan bertuliskan harapan dan semangat. ‘Daniel, we always think of you. And your memory still alive through Encompass-The Daniel Braden Reconcilition Trust, here in Indonesia and all over the world. Through Encompass, hundreds of young people think actively and openly about right to live. Live without agression.”

“Kamu lihat, banyak nama-nama Bali di altar korban ini. Kita harus mengingat mereka juga,” Alex menunjuk ke pahatan nama-nama korban. Ia berkata dengan senyum lebar terkembang. Bukan amarah tapi pengharapan akan toleransi dan kesepahaman.

Alex, Eric Appleby, dan Erica Moisl lalu beranjak pergi ke Lapangan Samudra Kuta. Mereka mendapat informasi ada sebuah prasasti yang dibuat sejumlah kelompok rugby untuk menghormati sejumlah pemain Taipei Baboons yang menjadi korban. Alex dan Eric mengelilingi lapangan bola di Kuta itu untuk mencari. Namun, prasasti tak ditemukan lagi di sana.

“If only all conflict could be resolved through sport,” tulis Alex dalam sebuah kertas putih yang akan diletakkan di prasasti sebesar batu batako yang telah hilang itu.

Bali hanyalah salah satu pesinggahan Alex dan tim Encompass-Daniel Braden Reconciliation Trust di Indonesia. Sebelum ke Bali mereka sudah ke Jakarta, Bandung, dan Malang untuk bertemu belasan alumni Journey and Voyage of Understanding, ruang yang mempertemukan ratusan anak muda dari berbagai negara, terutama dari Israel, Palestina, Indonesia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Masa berkabung atas meninggalnya Daniel, pada 2002 malah membuat Alex dan keluarganya ingin membuat jaringan persahabatan dan kemanusiaan dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Pada 2003, sebuah voyage understanding dilakukan di Inggris dan mengundang 24 anak muda dari beberapa negara seperti di atas.

Termasuk delapan dari Indonesia. Ketika itu diwakili murid dari Perguruan Gontor di Jawa Timur. Sebuah pesantren yang dikenal membuka ruang komunikasi dunia Islam dan Barat.

“Kami ingin menunjukkan bahwa terorisme bisa dilawan dengan membuka pikiran anak-anak muda selebarnya,” Alex berujar.

Program ini dilakukan tiap tahun sampai kini. “Kami akan terus mengingat, hal yang penting di dunia ini adalah toleransi dan kesepahaman,” ujar Dewi Perama, salah satu peserta dari Bali pada akhir 2003.

Semua aktivitas komunitas ini bisa dilihat di website Encompass Trust. Selain kegiatan berlayar juga ada petualangan anak-anak muda lintas etnis dan bangsa ini di darat. Petualangan alam dipilih sebagai metode diskusi dan memudahkan dialog untuk mengkampanyekan toleransi ini. [b]

Tags: AgamaBaliInggrisJaringanRemajaSosokToleransi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Next Post
Mimpi Besar Nyoman Subri

Mimpi Besar Nyoman Subri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia