Oleh Ni Ketut Juniantari, Murni Oktaviani, dan I Dewa Bagus Ryan Damanik

“… orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman….”

Begitulah kurang lebih lirik lagu tahun 1970-an berjudul “Kolam Susu” menggambarkan betapa kayanya Indonesia. Namun, apa jadinya jika negeri yang dijuluki negara agraris ini justru krisis jumlah petani?

Jumlah petani Indonesia hanya sekitar 26 juta dari total 252 juta jiwa pada 2013. Hanya 10,37 persen penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Semakin menurunnya jumlah petani di negeri ini bisa jadi karena rendahnya pendapatan petani. Menurut Sensus Tani 2013, Pendapatan Rumah Tangga Pertanian hanya sebesar Rp 1 juta per bulan. Data ini menggugah kekhawatiran negeri agraris di ujung tanduk.

Ketika kesejahteraan petani kian turun, profesi ini pun mulai dijauhi.

Namun, geliat petani Jembrana menampik anggapan rendahnya kesejahteraan petani. Kiprah produk petani kakao Jembrana yang tembus hingga pasar internasional seakan menjadi angin segar di tengah polemik kesejahteraan petani yang diragukan.

+++

Guru Eka belajar budi daya kakao selama program kakao lestari. Foto Anton Muhajir.

Gede Eka Aryasa tampak khawatir siang akhir September lalu ketika mendapat kabar dari tempat ia menjual hasil kebun kakaonya. Bukan khawatir tidak dapat menjual hasil kebun, tetapi khawatir tidak dapat memenuhi permintaan pembeli kakao yang melonjak tinggi.

Ada kondisi berbeda dari petani kakao Jembrana ini. Di tengah ribuan keluh petani karena pendapatan profesi ini tak seberapa, petani yang akrab disapa Guru Eka ini justru keteteran memenuhi permintaan kakao yang harus dipenuhi setiap bulannya.
Situasi ini berawal dari perubahan pengolahan hasil kebun kakao dengan mengolahnya menjadi kakao fermentasi. Kakao fermentasi ini akhirnya membawa perubahan besar bagi kehidupan petani di kabupaten paling barat di Pulau Bali ini.

Siang itu bersama beberapa petani kakao Jembrana lain, Guru Eka berdiskusi di gubuk bambu di kebun kakaonya. Mereka tengah mempersiapkan agar kebun kakaonya cepat panen. Lalu, dapat dikirim ke pembeli yang sudah menunggu hasil kebunnya.

“Punya 50 kilogram, langsung angkut ke koperasi aja, Pak. Di koperasi sudah tidak ada bahan lagi. Pesanan dari Perancis ada 12,5 ton untuk November,” I Ketut Ade Sujana, anggota koperasi yang menyalurkan hasil kebun kakao petani Jembrana ke pembeli, memberikan saran.

Bak berhasil mendapatkan sesuatu yang telah lama diidam-idamkan. Kesejahteraan yang selama ini diragukan, kini terbayarkan sudah. Geliat ini semakin jelas dirasakan Guru Eka sejak petani kakao Jembrana kebanjiran pesanan hasil kebun kakaonya.
Tak hanya permintaan pembeli kakao yang tinggi. Guru Eka mengaku peluh dan lelahnya mengolah tani kakao terbayarkan dengan harga sesuai. “Ya, berkat hasil kakao juga, sekarang saya bisa nambah lahan. Ngga banyak sih, ada 40 are di sebelah kebun yang sudah ada,” akunya tersenyum simpul.

Perubahan harga kakao ini memberikan pengaruh besar pada kehidupannya sebagai petani. Dia menjual kakao ke Koperasi Kerta Semaya Samaniya (Koperasi KSS). Di sana kakao keringnya terjual Rp 42 ribu per kilogram. Bahkan pernah terjual Rp 55 ribu per kilogramnya. Padahal, kalau di tengkulak cuma Rp 20 ribu.

Sehari-hari Guru Eka mengelola kebun kakao seluas 4,5 hektare. Kesibukannya makin padat ketika musim kering menyambangi kebunnya. Dia harus menyiram kebun kakao yang terbilang lumayan luas itu. Namun, kerasnya kehidupan petani berbuahkan hasil ketika kerja kerasnya terbayarkan setimpal.

“Ya, lumayan. Berkat kegigihan bapak kami bisa menyekolahkan dua anak hingga jenjang perguruan tinggi,” tutur Ni Made Budiayu Anggreni, istri Guru Eka.

Rupanya, kesuksesan petani tidak hanya dirasakan keluarga Guru Eka. I Wayan Diana, petani muda yang juga pengurus di Koperasi KSS turut merasakan kesejahteraan sama.

Lelaki 30an tahun ini merasakan perbedaan signifikan menjadi seorang petani kakao saat ini. Yandi, panggilan akrabnya, membandingkan hasil kebunnya dulu dengan sekarang. Kalau dulu per hektare paling tidak dapat 300 kilogram. Harganya Rp 18 ribu per kilogram. Saat ini, Yandi bisa panen sampai 1 ton sampai 1,5 ton per hektare dengan harga mencapai Rp 42 ribu.

Wajah kesejahteraan terhadap petani ini ternyata tak hanya dirasakan oleh pelakunya saja. Keberhasilan petani kakao di jembrana juga diamati Agus Suardikayasa, anggota koperasi lainnya. “Saya lihat teman-teman petani kakao sekarang sudah ada yang bisa membangun rumah,” ungkapnya.

Menurut Agus perubahan harga kakao lebih manusiawi akan mampu memanusiakan petaninya. Perubahan ini baru bergerak dari satu sisi saja, tetapi sudah memberikan pengaruh besar terhadap kesejahteraan petani.

Keberhasilan petani Jembrana mengangkat citra pekerjaan petani di mata anak-anak muda. Foto Anton Muhajir.

Jatuh Bangun

Beragam cerita di balik geliat petani. Menjadi petani sukses seperti cerita Guru Eka dan Yandi tidaklah didapatkan semudah membalikkan telapak tangan. Siang itu Guru Eka menceritakan bagaimana jatuh bangun mengelola hingga menjadi seperti sekarang.

Menggarap kebun seluas 4,5 hektare tanpa tahu cara mengolahnya, bukanlah hal mudah. Namun, inilah yang dirasakan Guru Eka. Semenjak tamat sekolah, Guru Eka harus menggarap kebun kakao milik orang tuanya. Sekitar 33 tahun lalu, Guru Eka mendapat tugas mengurus kebun ayahnya karena sang ayah harus pergi ke Sulawesi. Guru Eka belum pernah berkebun.

“Sebelumnya saya ikut ke pasar untuk berjualan bersama ibu saya dan tidak pernah ke kebun. Saya hanya tahu kalau bapak punya kebun kakao,” tuturnya.

Ketika harus mengurus kebun yang terhitung lumayan luas itu, Guru Eka mengaku kaget. “Wih, kok segini tingginya pohon cokelat,” pikirnya saat itu.

Waktu terus bergulir, Guru Eka mulai terbiasa menggarap kebunnya. Ia merasa bangga berkebun kakao saat itu. Menjadi petani kakao itu gampang, anggapnya waktu itu. Ia cukup ke kebun ketika panen, lalu memetik buah kakao. Harganya pun lumayan tinggi baginya saat itu. Sekitar Rp 17 ribu per kilogram pada 1998.

“Saya bangga berkebun saat itu, karena sekali panen dapat Rp 3 juta sampai Rp 3,5 juta,” tuturnya sembari mengingat harga kakao pada zaman itu.

Penghasilan itu membuat Guru Eka asyik berkebun kakao. Ia tinggal meneruskan cara berkebun seperti yang dilakukan sebelumnya. Hanya menunggu panen, lalu tinggal petik saja. Tiap minggu sudah mendapat uang Rp 3 juta. “Tiang napet ngalap gen waktu nike, tiang ten nawang budidaya,” ungkapnya dalam bahasa Bali. Artinya, “Saya tinggal metik saja waktu itu, saya tidak tahu budidaya.”

Namun, siapa sangka keasyikkan Guru Eka pun terusik. Sekitar sepuluh tahun lalu semua daun tanaman kakaonya rontok dan menguning. Bukan kuning karena kena matahari atau panas. Bahkan tanaman kakaonya terus rontok pada musim hujan sekalipun.

Guru Eka mulai stres. Penyemprotan dengan zat kimia sudah ia lakukan. Bahkan sudah dibelikan obat-obat mahal. Namun, hasilnya nihil. Tanaman kakaonya terus rontok dan menguning. “Rasanya saya ingin menyerah. Kayaknya tanaman pun sudah mandi pake racun karena saya semprot menggunakan mesin,” imbuhnya.

Kondisi tanaman yang semakin memburuk mendesaknya untuk bertahan. Ia mulai belajar mengamati. “Kok masih ada satu dua tanaman yang bagus? Kok ngga semua kena? Berarti kan kekuatan tanaman menghadapi penyakit itu berbeda-beda,” pikirnya.

Setelah itu ia menyadari bahawa tanaman kakaonya terkena penyakit VSD. Penyakit yang menyerang pembuluh kayu tanaman kakao. Padahal, sebelum terserang penyakit itu, Guru Eka bisa panen 5 kuintal kakao kering dalam 10-15 hari. Bahkan bisa mencapai 1,5 ton kakao basah.

Namun, keganjalan yang diamati membuat ia berinisiatif mengambil tindakan untuk menyambung tunas tanaman yang masih bertahan ke tanaman lainnya.

Setelah setahun menyambung akhirnya Guru Eka akan memangkas pohon kakaonya. Namun, lagi-lagi ia mendapati kondisi ajaib pada tanaman kakaonya. Pohon yang disambung dengan tunas pohon lain beberapa waktu lalu membuahkan hasil lebih bagus. “Akhirnya saya berpikir inilah solusinya,” serunya.

Program Kakao Lestari di Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Gila Berkebun

Asam manis berkebun kakao secara perlahan mulai dia rasakan. Kebanggaannya bahkan membuat orang di sekitarnya menganggap Guru Eka orang gila berkebun kakao. Namun, kegilaannya berkebun kakao tidak membuat perubahan harga yang signifikan sebagai pendapatan utama mata pencahariannya. Sejak dulu, Guru Eka menjual kakaonya ke tengkulak-tengkulak. “Tengkulak di lingkungan saya bilang, buah kakao dari kebun saya bagus,” ungkapnya.

Namun, Guru Eka melanjutkan, biarpun dibilang bagus, harga kakaonya tetap sama dengan kakao asalan. “Contohnya gini, kakao saya dibilang bagus, lalu ada kakao lain yang asalan, tetap aja harganya sama dibeli Rp 20 ribu per kilogram,” paparnya. Tidak adanya perbedaan harga pada kualitas kakao membuatnya sadar dan merasa pesimis menjual kakao ke tengkulak.

“Gitu dah kalau dulu, saya jual ke tengkulak. Apalagi tengkulak-tengkulak semua tetangga. Kalau kasi tengkulak yang ini, tengkulak yang itu marah,” ungkapnya.

Ia menyadari pemasaran kakao dari dulu gampang. Ketika dulu harga kakao meningkat, saat panen kakao tinggal dijemur, tengkulak akan datang. Sampai dibawakan karung sama tengkulak. Nanti sudah kering, tengkulaknya mengambil, langsung timbang. Kita tinggal terima uang. Namun, semua harga kakao ditentukan oleh tengkulak. Petani hanya menerima harga yang sudah ditentukan.

Hingga kira-kira 2,5 tahun lalu Guru Eka mendapatkan informasi dari temannya mengenai budidaya bertani kakao. Saat itu ia dikumpulkan dengan petani-petani dari berbagai subak. Ia mengetahui kegiatan itu dinaungi oleh Koperasi KSS. Di sana ia diberikan pelatihan mengenai cara berkebun tanaman kakao hingga dikenalkan dengan standar pasar kakao.

“Ternyata banyak kesalahan yang saya lakukan saat berkebun selama ini,” ujarnya. Ia menyadari sebelumnya tidak pernah mengorientasikan perkebunannya untuk budidaya. Standar pasar pun tidak ia perhatikan. Setelah mendapat pelatihan dari koperasi, ia mulai mengenal adanya standar kakao.

“Seperti ukuran bean count yang standar isi 117 biji paling banyak dan saya ngga tau sebelumnya. Jadi, sebelumnya asal berbuah aja dulu. Sekarang kan budidaya harus bisa mengikuti selera pasar,” tandasnya.

Banyak hal mulai ia sadari. Akhirnya ia mulai tertarik bergabung di Koperasi KSS. Hal paling kentara ia rasakan adalah perbedaan harga. Waktu itu Koperasi menghargai kakao Rp 38 ribu per kilogram. “Kalau di rumah saya jual ke tengkulak Rp 18 ribu per kilogram. Karena harganya bagus, membuat saya tertarik bergabung dengan koperasi,” jelasnya.

Berbicara mengenai harga pasar, Guru Eka menuturkan sejak dulu harga kakao tiap tahunnya memang berbeda-beda. Harga kakao yang paling kentara ketika ia baru bergabung di koperasi. Harga asalan di tengkulak hanya Rp 15-18 ribu. Harga ini membuat ia tidak bergairah berkebun. “Karena harga terlalu rendah. Saat itu saya juga sudah mulai lirik-lirik harga pasar,” tandasnya.

Pada suatu hari, pernah tengkulak menghargai kakao kering Rp 40 ribu per kilogram. Sedangkan harga di koperasi saat itu Rp 38 ribu per kilogram. “Akhirnya diadakan rapat anggota, lalu harga di koperasi dinaikkan menjadi Rp 42 ribu,” katanya. Perubahan harga itu membuat Guru Eka khawatir menjual biji kakao ke tengkulak. Sedangkan di koperasi biji kakao disepakati dengan harga yang stabil.

Meski sudah bergabung di koperasi, Guru Eka sampai saat ini masih menjual biji kakaonya ke pengepul.“Tapi sisa sortiran yang dibawa ke koperasi. Jadi biji-biji kecil, biji luka, biji berkecambah yang tidak diterima di koperasi, daripada jadi sampah saya kasi ke tengkulak,” tuturnya. Biasanya biji kakaonya dihargai Rp 20 ribu per kilogram oleh tengkulak. “Tapi kan tetap lebih menguntungkan dijual ke koperasi, meski saya harus tetap menyeleksi,” lanjutnya.

Guru Eka menuturkan, tanaman yang dibudidayakan cukup sedikit sortirnya. Adapun tanaman asalan, tidak mengikuti standar akan banyak menghasilkan biji sampah. Makanya sulit untuk bisa masuk ke koperasi. “Istilahnya, biji be mecakcak (biji sudah rusak), sulit akan masuk ke koperasi, karena kalau diproses fermentasi gak jadi. Rugi juga, petani rugi, koperasi rugi. Memulainya harus dari biji yang unggul makanya bisa gampang diterima koperasi,” ujarnya.

Setelah bergabung di Koperasi KSS, tak hanya informasi tentang standar harga pasar kakao yang Guru Eka dapatkan. Ia pun mengetahui jenis-jenis bibit unggulan tanaman kakao. Ia menyadari ternyata sejak dulu sudah bergeliat di kancah perkebunan kakao. Di kebunnya saat ini, ia memiliki beberapa jenis bibit. Sekitar sepuluh tahun lalu ia mendapatkan tunas dari Sulawesi.

“Saya dapat dari teman yang studi banding. Saya dikasih batangnya, sudah layu lagi setelah empat hari dari Sulawesi. Sampai di sini tetap bisa tumbuh, saya gunakan untuk sambung samping.” Bibit lainnya ia dapatkan dari Kalimajari setelah bergabung dengan koperasi. Ada juga dari pemerintah, bibit BLB50 (bibit yang dianjurkan).

Bibit kakao di kebunnya terus bertambah. Namun, meski mempunyai bibit kakao dari luar, ia tetap menjaga bibit yang memang ada di kebunnya. “Jadi di kebun punya jenis tunas double. Tapi di kebun saya, masih tetap pohon kakao buah berwarna hijau, bibit dari kebun sendiri yang paling eksis,” tandasnya. Bibit itu ia sayangi sebab terus bertahan sejak kebunnya terserang penyakit.

Selain berbekal kemampuan yang didapat dari adaptasi di kebun sendiri, Guru Eka kini terus menambah pengetahuan berkebunnya dari koperasi. Sebelum bergabung di koperasi, ia mengakui sudah mengetahui cara menyambung.“Tapi ngga ada tempat berguru. Nah, Kalimajari bersama Koperasi KSS yang menjadi tempat berguru saya sekarang,” jelasnya.

Bergabung di koperasi ia dikenalkan dengan program kakao lestari. Banyak pengetahuan tentang berkebun hingga kondisi pasar yang diajarkan oleh Kalimajari.

Seiring berjalannya waktu, ia mendapatkan pengetahuan tentang cara menyambung untuk peremajaan tanaman kakao. Ia mulai mengetahui cara menyambung tanaman kakao adalah melakukan sambung tunas di batang yang rendah. Sembari mengingat, Guru Eka membandingkan proses berkebunnya sebelum bergabung di Koperasi.

Sebagai petani yang sudah terbiasa menjual biji kering sejak dulu ke tengkulak, ia tidak pernah mengikuti standar. “Dulu tinggal jual saja ke tengkulak, tidak mempedulikan biji kecil, biji luka, tidak mementingkan aroma, dicampurkan begitu aja. Tidak ada istilah QC (quality control). Asal-asalan gitu.”

Mengulik lebih jauh tentang tanaman kakao. Guru Eka menceritakan satu pohon kakao yang ditanam dari biji akan mulai berbuah selama dua tahun. Berbeda dengan tanaman hasil sambungan, satu tahun saja sudah berbuah. Kakao merupakan tanaman yang akan panen sepanjang tahun selama cuaca mendukung. Sebagai petani kakao yang pernah merasakan bertani secara asal-asalan, ia memperkirakan perbedaan hasil kebun yang dibudidayakan.

“Kalau tanaman kakao yang tidak dibudidaya (asal-asalan) paling tidak empat sampai lima bulan sudah panen dalam setahun,” imbuhnya.

Pengolahan dengan cara fermentasi meningkatkan kualitas kakao Jembrana. Foto Anton Muhajir.

Standar Pasar

Seperti beranak pinak dengan tanaman kakao, pengetahuan yang didapat di koperasi membuat Guru Eka semakin memahami setiap kondisi tanaman, termasuk kualitas kakao sesuai standar pasar. Ukuran biji menjadi salah satu penentu kualitas kakao. Ukuran pot turut memiliki standar. Biasanya, standar kakao untuk ekspor adalah 117 biji per pod.

Musim pun turut mempengaruhi kualitas tanaman kakao. Ketika musim hujan, biji kakao bisa besar-besar. Isinya bisa 117 sampai ke bawah dan ini menjadi standar untuk bisa diekspor. “Kalo pod yang kecil-kecil isi 120 biji ada, tapi tidak masuk standar.” Guru Eka banyak belajar dari standar yang ditetapkan Koperasi.

“Di koperasi kan dipilih biji yang besaran. Kalau yang kecil jadi sampah. Buah yang kecil-kecil itu udah ngga normal,” katanya.

Perlakuan wajib dalam budi daya kakao adalah pemangkasan. Semakin tua tanaman kakao maka semakin sering dipangkas. Perlakuan ini karena kakao berbuah di batang. Pemupukan pun dengan pupuk organik. Untuk membasmi hama sebisanya dibasmi oleh predator alaminya yaitu semut hitam dan semut merah (semangah).

“Biarkan ada cahaya sedikit yang masuk. Membiarkan banyak rumput liar di samping tanaman kakao juga lebih bagus.” Petani berumur hampir setengah abad itu menegaskan, yang paling penting pemilihan tunas yang cocok dengan kondisi kebun.

Tanaman kakao merupakan tanaman yang tidak bisa hidup sendiri. Sifat asli tanaman kakao hidup di bawah tajuk pohon. Maka dari itu harus ada penaungnya.“Di kebun saya ada beberapa pohon kelapa, cengkeh, ada juga pisang, saya jadikan selingan. Biar ada yang ngisi lahan yang kosong.” Namun, kakao tetap yang Guru Eka utamakan.

Bertani kakao tidak boleh bersih. Selera tanaman kakao adalah mendapatkan energi dari yang ada di pangkal dan sekitarnya. “Saya banyak berguru pada tanaman. Selain juga mendapat informasi Kalimajari.” Banyak faktor yang mempengaruhi dalam bertani, seperti beda lokasi beda cara penanamannya. Kalau beda bibit, beda juga perlakuannya. “Kalau saya lebih suka bibit yang toleran,” pilihnya. Makanya kalau mau harga yang bagus kita juga harus memulainya dari bibit yang bagus juga.

Di sisi lain, Guru Eka merasakan berbagai perubahan setelah bergabung di koperasi. Mulai adanya perbedaan harga. Koperasi berani membeli jauh lebih tinggi dari harga tengkulak.“Karena menurut saya menjadi petani memang harus ada standar, tidak boleh bertani asal-asalan. Dan saya sendiri pun masih jauh dari standar,” tegasnya. Menurutnya, saat ini pertanian terintegrasi yang paling bagus.

Pekerja di Koperasi Kerta Samaya Samaniya Jembrana memilah kakao hasil fermentasi. Foto Anton Muhajir.

Sempat Gulung Tikar

Bagi petani kakao Jembrana, perubahan yang mereka alami memang tak bisa lepas dari peran Koperasi KSS. Padahal, citra koperasi ini sempat hancur di mata petani. Dan, membangun kembali citra itu bukanlah usaha gampang. Apalagi membuktikan citranya hingga kancah internasional.

Pada tahun 2007-2008, Koperasi KSS sempat gulung tikar akibat citra yang dibentuk manajemen lama sehingga petani tidak lagi percaya terhadap koperasi ini. Hingga pada tahun 2011 datanglah Yayasan Kalimajari. Organisasi non pemerintah yang berkantor di Denpasar ini bekerja mendukung masyarakat, terutama di isu rumput laut dan kakao.

Kalimajari bersama beberapa petani Jembrana bertemu pemerintah untuk membangun koperasi baru di Jembrana. Namun, permohonanan itu tidak diterima. Para pemangku kepentingan di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana memberikan arahan untuk membangkitkan kembali koperasi yang sudah ada, Koperasi Kerta Semaya Semaniya.

Rujukan tersebut akhirnya membuat para petani dan Kalimajari mengadakan rapat istimewa. Semua laporan mengenai koperasi itu dikumpulkan agar bisa menggunakan koperasi sesuai yang diharapkan. Hingga akhirnya diputuskan untuk memulai dari nol. “Koperasi ini dulu, manajemen koperasi kurang baik sehingga bangkrut. Banyak image jelek kepada koperasi di mata petani di dekat Melaya yang dulu bergabung dengan koperasi,” ungkap I Ketut Wiadnyana, selaku Ketua Koperasi KSS.

Beberapa petani yang bertekad membangun koperasi bersama Kalimajari mengadakan sosialisasi dengan Dinas Perkebunan Jembrana. Ternyata hasilnya tetap nihil. Tahun 2011 sampai 2012 koperasi jalan di tempat karena memang citranya telanjur jelek. “Nama KSS sampai dipelesetkan menjadi Koperasi Sakit-Sakitan,” Ketut Wiadnyana menyebutkan istilah yang terus terngiang hingga sekarang.

Tak pantang menyerah, usaha terus digalakkan dengan sosialisasi ke petani-petani Jembrana. Jalu door to door pun sempat ditempuh. Akhirnya dua tahun berjalan, usaha membuahkan hasil. Pada tahun 2013 ada 17 subak abian yang bergabung Koperasi.

Pergerakan itu tak lantas membuat para pengurus koperasi dan Kalimajari berpuas diri. Setiap pergerakan terus diamati oleh petani dan subak abian. Setelah berjalan selama dua tahun koperasi yang dibangun kembali itu belum bisa melakukan penjualan. Hingga tahun 2013 status koperasi masih bersifat konvensional.

Pada tahun 2014 koperasi mulai melakukan penjualan. “Kita melakukan penjualan melalui sertifikasi UTZ. Kita mendapatkan apresiasi dan harga cukup tinggi,” tutur I Wayan Diana. Capaian itu akhirnya menjadi pemikat sehingga subak yang ingin ikut bergabung ke koperasi semakin kuat.

Tetapi, pengurus koperasi dan Kalimajari masih tetap berjuang meningkatkan sumber daya manusianya, di samping juga terus merekrut petani. Dimulai dengan bekerja sama dengan dinas, Kalimajari mengadakan pelatihan good agriculture practices (GAP) dan sebagainya. Sedikit demi sedikit petani tahu bagaimana cara budidaya kakao dengan baik. Begitu pula memahami bagaimana cara mengatur hasil panen yang baik. Hingga mengetahui bagaimana cara bercocok tanam yang baik sehingga respect petani semakin baik.

Seiring berjalannya waktu, sejak perjalanan membangun kembali KSS dimulai, pengurus koperasi dan Kalimajari sudah memikirkan masa depan. Pada tahun 2011, KSS juga diusahakan mendapatkan sertifikasi UTZ sebagai jaminan masa depan. UTZ adalah badan sertifikasi dari Belanda. Semua produk yang tersertifikasi UTZ menandakan bahwa anggota di dalamnya mendapat kesejahteraan yang layak, baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan sekitar. Sertifikasi UTZ memiliki standar penilaian dengan memperhitungkan aktivitas lembaga terhadap lingkungannya, manusianya (anggota di dalamnya), dan benefit dari lembaga itu sendiri.

Capaian ini menjadi cambuk bagi pengurus koperasi dan Kalimajari untuk mengubah mindset. Setali tiga uang, program UTZ itu ternyata sesuai dengan konsep di Bali yaitu adanya uger-uger untuk mewujudkan perilaku inti. Dengan program perilaku inti, pelatihan yang diberikan oleh dinas, pendampingan dari Kalimajari berdampak positif untuk perkembangan KSS. Mulai dari yang kemarin belum melakukan proses fermentasi, sekarang sudah melakukan fermentasi.

“Dari dulu petani ingin mendapatkan harga yang baik. Harga setimpal dengan apa yang mereka lakukan. Akan tetapi tanpa mengubah mutu, sama saja bohong. Maka dari itu, kita menerapkan bahwa mutu petani kakao adalah fermentasi,” tandas I Putu Dian Pratama.

Perkembangan koperasi terus meningkat. Namun, dibalik itu ada pengurus koperasi yang berjuang dengan tekad. Waktu awal perjalanan, semua pengurus masih berstatus sosial. Pengurus mendapatkan imbalan dari sisa hasil usaha (SHU). Jadi, ketika masa perintisan itu memang bergerak bersama Kalimajari, dengan mengandalkan skema subsidi silang yang didapat dari keuntungan menjalankan program di sektor rumput laut di bagian timur Indonesia.Untuk mendapat bekal kantong bagi pengurus ketika menjalankan program Kakao Lestari di Jembrana.

Ketika itu Kalimajari dapat mendampingi program pengembangan rumput laut di daerah lain. Sehingga dari pengurus ikut membantu intensif program rumput laut dan dan minimal mendapat subsidi transportasi ke beberapa daerah.

Hasil Setimpal

Menjadi organisasi berasas anggota, KSS memiliki visi utama memberdayakan petani kakao Jembrana, agar petani mendapatkan hasil setimpal dengan apa yang dilakukan. Mendapatkan hasil sesuai dengan jerih payahnya. “Kami koperasi tidak serta merta menguntungkan koperasi secara finansial, tetapi yang pertama kami untungkan adalah petani. Karena petani merupakan hasil kami di koperasi yang utama,” jelas I Ketut Ade Sujana.

Pengurus koperasi menyadari, tanpa petani koperasi tidak mungkin ada. Jadi, yang pertama, yang untung itu harus petani. Sama seperti program Bupati Gede Winasa saat itu. Sebenarnya sesuai tujuannya dibentuk koperasi yang dulu, agar keluaran kakao Jembrana satu pintu. Baik produk olahan ataupun produk material dan meningkatkan mutu kakao Jembrana.

“Koperasi sudah punya nama yang cukup baik di dunia internasional, kami punya harapan besar kepada pemerintah agar membantu dari segi pemetaan dan segi volume atau kualitas yang masuk ke koperasi,” ujar Agus Suardikayasa, salah satu pengurus koperasi saat ini yang bertanggung jawab di bidang produksi. Dengan demikian koperasi bisa mandiri, bisa eksis dan senantiasa bisa mensejahterakan petani dengan petani sejahtera, koperasi tetap ada.

Keberhasilan Koperasi Kerta Semaya Samaniya tidak terlepas dari dukungan Kalimajari yang tidak lelah untuk berjuang. Kalimajari datang bukan hanya memulai program, tetapi kalimajari juga memberikan solusi bagaimana permasalahan petani kakao bisa teratasi. I Gusti Agung Ayu Widiastuti, sebagai Direktur Kalimajari juga mencarikan pembeli untuk hasil koperasi.

Kalimajari, merupakan organisasi sukarelawan yang berdiri pada 21 Mei 2002. Kalimajari diambil dari kata “lima” yang melambangkan jumlah pendirinya, lima orang. Hingga saat ini Kalimajari fokus pada dua komoditas yaitu rumput laut dan kakao.

IGA Agung Widiastuti, Direktur Yayasan Kalimajari. Foto Anton Muhajir.

Semangat Agung Widi mendirikan Kalimajari dilatar belakangi adanya ketimpangan di kalangan masyarakat madani. Mereka pun melaksanakan program Sustainable Action and Advocacy in Kakao (SUBAK) yang didukung secara pendanaan oleh UTZ Indonesia. Namun, kesadaran Widi tak berarti berjalan mulus untuk ditangani. Berangkat sejak tahun 2011, kini Widi bersama Sri Auditya Sari, salah satu anggota Kalimajari yang baru bergabung, telah melanglang buana untuk menyebarkan semangat fermentasi seperti yang telah diterapkan program kakao lestari di Jembrana ke wilayah lain di Indonesia. Hingga saat ini, fokus inisiasi pengembangannya ditargetkan di daerah Sulawesi atau Papua.

Namun, kesadaran yang tak sama membuat perjalanan Kalimajari terasa keras. “Awalnya, Kalimajari mencari potensi kakao terbesar yang terdekat dari Denpasar yaitu Tabanan. Tapi gayungnya kurang bersambut, program kakao lestari ditolak,” tutur Tya, pelaksana program SUBAK Yayasan Kalimajari.

Penolakan ini tentu bukan akhir perjalanan Kalimajari. Masih di tahun sama, Kalimajari akhirnya bergerak ke Jembrana, setelah membawa bekal informasi dari Badan Pusat Statistik bahwa Jembrana adalah daerah dengan potensi kakao terbesar di Bali. Selain itu, beberapa tahun sebelumnya Kalimajari sudah pernah bermitra dengan pemerintah kabupaten Jembrana untuk non-timber forestry program. Mengingat pengalaman kerja sama yang cukup baik dengan pemerintah setempat, program Kakao Lestari pun ditekadkan dan siap diterapkan di Jembrana.

Namun, hasilnya setali tiga uang. Berangkat ke Tabanan ditolak, bergegas ke Jembrana program kakao lestari juga ditolak.

“Kenapa Kalimajari baru datang pas wabah penyakit kakao merebak? Kenapa ngga datang pas tahun 1980-an, ketika kakao di Bali sedang jaya-jayanya?” Tya menirukan pertanyaan yang didapat ketika program kakao lestari ditawarkan ke pemerintah Jembrana.

“Program kakao lestari yang dibawa Kalimajari bagus, tapi dibawa di saat yang tidak tepat. Begitu kurang lebih respon yang kami dapat ketika awal perjalanan Kalimajari di Jembrana,” ungkap Tya.

Penolakan pun berlanjut. Ketika Agung mengirimkan surat untuk audiensi ke bupati, surat itu dibuang ke tempat sampah di hadapannya. “Akhirnya Bu Agung mengatakan, kalian boleh remehkan kami sekarang, tapi kakao Jembrana pasti akan berhasil suatu saat nanti,” tegas Tya menirukan direkturnya.

Penyelamat Petani

Berbekal tekad dan menyadari potensi kakao saat itu, akhirnya terbentuklah Kalimajari dengan program kakao lestarinya di Koperasi KSS seperti sekarang. Petani Jembrana mulai memproduksi kakao fermentasi. “Yang awalnya menyindir sekarang sudah bergandengan tangan dan justru menganggap Kalimajari adalah penyelamat ketika petani tidak ada lagi yang diajak untuk berkeluh kesah,” paparnya.

Perjalanan Kalimajari menjelajah kakao dengan program kakao lestari akhirnya mengusung prinsip bahwa, lebih baik membangun pilar yang tinggi ke atas daripada melebarkan tanah ke samping. Kalimajari ingin satu komoditas di satu daerah untuk maju terlebih dahulu. Sehingga, nantinya kesuksesan itu akan diduplikasi ke daerah lain. Saat ini Kalimajari masih fokus membangun kakao di daerah Jembrana. Kemudian skema yang dianggap berhasil tersebut dapat diduplikasi di daerah lainnya.

Kakao Jembrana binaan Kalimajari telah bekerja sama dengan UTZ, badan sertifikasi dari Belanda dan telah terverifikasi selama tujuh tahun berturut-turut 2011-2018. Selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2015 lalu, kakao Jembrana juga memperoleh sertifikasi organik dari Control Union (eropa) dan USDA (amerika).

Auditya Sari mengungkapkan tujuan dari sertifikasi adalah untuk kesejahteraan petani sendiri. Mengingat kakao fermentasi Jembrana menyasar pasar premium yang sudah pasti lebih percaya pada komunitas yang sudah terverifikasi. Untuk melihat secara konkret seorang petani itu sejahtera.

Kalimajari memiliki metode pendampingan khusus yang mengajak kawan petani untuk berbagi cerita tentang perubahan apa yang terjadi pada kehidupan pribadinya mereka sebelum, selama dan sesudah program. “Bisa dilihat dari ekonominya yang meningkat, dilihat dari pendidikan generasi berikutnya yang awalnya orang tuanya tidak sekolah, kemudian berkat program kakao lestari bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang universitas,” ujar Tya.

Kiprah Kalimajari secara singkat terlihat dari perubahan minat dan pandangan petani terhadap program kakao lestari. Berangkat dari anggota yang diempu melalui KSS awalnya berjumlah 98 petani kini Kalimajari dan KSS berhasil menggandeng 609 petani. “Awalnya kami susah mencari pasar, sekarang kami harus rela menolak pembeli biji kakao kami. Karena kami tidak ingin terlena oleh permintaan yang meningkat, namun lalai akan nafas utama kami, yaitu fermentasi untuk biji yang berkualitas tinggi” cetus Tya.

Dilihat dari perubahan harga, sebelum ada program kakao lestari biji kakao, petani hanya dijual sekitar 20-25 ribu per kilo biji kering. Namun, sejak bergabung di program kakao lestari, koperasi dan Kalimajari mengusahakan harga kakao kering tidak kurang dari Rp 50 ribu per kilogram. Bahkan pernah pada suatu saat, salah satu buyer menghargai kakao fermentasi kamiRp 68 ribu per kilogram. Dari peningkatan pendapatan inilah otomatis ekonomi petani juga meningkat.

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jembrana turut mengapresiasi kiprah petani kakao. Seperti yang diungkapkan Kadis Pertanian dan Pangan, I Wayan Sutama, berupaya untuk memberdayakan petani mulai dari bantuan benih subsidi pupuk. Tak sampai di sana, selaku pemangku kebijakan di Jembrana, dinas juga berupaya hingga bagaimana petani bisa memasarkan hasilnya. “Bantuan prasarana seperti bibit, sampai alat pengolahan mesin pertanian setidaknya mengolah biji fermentasi tengah kami usahakan,” papar Sutama.

Melihat perkembangan kerja keras petani kakao yang sudah menginjak pasar global, Sutama berharap melalui program kakao lestari dapat meningkatkan pendapatan petani kemudian mengangkat kesejahteraan petani. “Jika petani atau subak berjalan parsial, tidak akan menangkap peluang yang lebih besar. Sehingga bertani melalui satu pintu yaitu koperasi, saya yakin pendapatan dan kesejahteraan petani meningkat,” tandasnya. [b]

 

Tak Sekadar Membeli tetapi Juga Membantu Petani

Cau Chocolate merupakan salah satu pembeli kakao fermentasi hasil produksi petani kakao Jembrana. Cau Chocolate dikenal sebagai salah satu supportive buyer yang tidak hanya membeli kakao fermentasi kemudian pergi. Cau Chocolate juga turut membantu menyejahterakan petani kakao Jembrana.

Menurut pelaksana program SUBAK Kalimajari, Sri Auditya Sari, Cau Chocolate telah menjalin kerja sama pembelian kakao fermentasi dengan sistem prabayar.

Pabrik Cau Chocolate berada di Dusun Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan Bali. Perusahaan coklat ini didirikan pada tahun 2014 oleh Dr. Ir. I Wayan Alit Artha Wiguna, M.Si., dan dikelola oleh anaknya, Kadek Surya Prasetya Wiguna.

Wayan Alit, selaku pendiri Cau Chocolate sekaligus Penyuluh Utama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali, melihat bahwa selama ini, Indonesia telah menjadi penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Namun dari segi kualitas Indonesia menempati posisi terbawah.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Wayan Alit pun termotivasi untuk mendalami ilmunya tentang budidaya kakao dan pengolahan biji kakao, sehingga terbentuklah Cau Chocolate ini. Pada awal terbentuknya perusahaan, dapat dikatakan Wayan Alit tidak mendapatkan hasil signifikan sebab sebelumnya dia lebih banyak berkecimpung dalam pertanian padi.

Bagi Wayan Alit, kegagalan-kegagalan yang terus menghampirinya bukanlah sesuatu yang berarti sebab dalam membangun perusahaan, Wayan Alit berbekal misi yakni mengenalkan pertanian kakao pada masyarakat umum dan untuk mengembangkan dan mencintai budaya pertanian, khususnya tanaman kakao dan budaya subak di Bali. Hal ini juga yang memotivasi Wayan Alit untuk terus mengembangkan perusahaan cokelat yang didirikannya sehingga derajat kakao Indonesia dapat lebih baik lagi di mata dunia.

Pada masa-masa dirinya belajar mengolah biji kakao, Alit menyadari bahwa kualitas kakao tidak hanya diukur dari masa sebelum panen, tetapi juga saat pascapanen atau pengolahan biji tersebut. Untuk mendapatkan cokelat yang baik dengan aroma yang khas, Wayan Alit mengungkapkan biji kakao yang akan diolah tersebut harus melewati masa fermentasi agar aroma dari biji cokelat itu dapat keluar saat diolah.

Sejak itu Wayan Alit pun berkomitmen bahwa perusahaannya hanya membeli kakao fermentasi dan ia pun berani membayar dengan harga tinggi kakao fermentasi tersebut.

Pengolahan cokelat di pabrik Chau Chocolate. Foto Bagus Ryan.

Dalam mengembangkan perusahaan ini, Wayan Alit tidak mampu melakukannya sendirian. Ia pun menarik salah satu anaknya, Surya Prasetya Wiguna untuk turut mengembangkan perusahaan Cau Chocolates. Demi menjaga loyalitasnya, Surya pun merelakan dirinya resign dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya.

“Tidak semua petani melakukan fermentasi biji kakao karena fermentasi biji kakao biasanya membutuhkan volume besar. Saya harap ke depannya dapat ditemukan cara agar petani dapat melakukan fermentasi biji kakao dengan volume yang kecil,” ungkap Wayan Alit.

Pengorbanan tersebut pun tidak sia-sia. Peluh dan kerja keras Wayan Alit dan Surya pun membuahkan hasil. Terbukti saat ini, Cau Chocolate telah menghasilkan 70 jenis produk yang tersebar di seluruh pusat perbelanjaan di Bali seperti, Coco Mart, Circle K, Carrefour, hingga pintu keluar Bandara Ngurah Rai. Produk-produk Cau Chocolate juga tersebar hampir di seluruh swalayan yang ada di Ubud juga café-café sekitaran Seminyak hingga Gianyar juga menjual produk-produk dari Cau Chocolate.

Cau Chocolate juga melayani permintaan dari berbagai daerah lain di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya, dan dari mancanegara seperti Amerika, Singapura dan Australia serta Amerika Serikat. [b]

 

I Komang Sindu Yoga : Petani Sambangi Negeri Kincir Angin. Foto Anton Muhajir.

I Komang Sindu Yoga : Petani Sambangi Negeri Kincir Angin

Mampu berhasil lolos mewakili petani Indonesia untuk belajar tentang pertanian ke Belanda bukanlah hal mudah. Namun, hal ini berhasil dibuktikan oleh seorang petani kakao di Jembrana, Bali. I Komang Sindu Yoga membuktikan bahwa menjadi petani bukan hanya tentang sabit dan cangkul.

+++

Rutinitas lumayan padat mengiringi keseharian I Komang Sindu Yoga akhir September 2018 lalu. Tidak hanya rutinitas panen kakao di kebun, dia juga harus mempersiapkan keberangkatannya pada 5 Oktober 2018 ke Belanda sebagai petani. Ya, Sindu salah satu petani muda dari Jembrana, Bali yang lolos mengikuti pelatihan manajemen dan kerja sama di Belanda.

Seusai mengikuti wawancara dari salah satu organisasi pertanian dari Belanda, Agriterra, Sindu berjuang untuk lolos seleksi dan terpilih mengikuti pelatihan bidang pertanian itu. Hanya ada tiga orang dari Indonesia yang terpilih dan mengikuti seleksi. Kemudian diseleksi lagi untuk berangkat ke Negeri Kincir Angin itu. Kabar baik menjumpai Sindu. Dia terpilih dari seleksi itu dan lolos berangkat ke Belanda.

Keberhasilan itu membuktikan petani tidak hanya menyambangi lahan perkebunan. Sindu menjadi saksi petani mampu berlayar ke negeri lain. Unjuk diri dengan bersaing melalui kualitas.

Komang Sindhu (kaos putih) saat mengikuti program untuk petani muda di Belanda. Foto Agriterra.

Capaian istimewa ini, tak semata-mata Sindu dapatkan begitu saja. Beragam lika-liku mewarnai perjalanannya sebelum sampai Belanda. Salah satu tantangannya adalah kemampuan berbahasa Inggris. Sebagai orang yang hidup di lingkungan petani, Sindu tak begitu fasih berbahasa asing. Hal ini membuat ia bertekad kuat mengenal bahasa asing, di samping keberangkatannya ke negeri sebelah.

“Saya sempat kursus bahasa Inggris karena bahasa Inggris saya tidak terlalu lancar,” ungkap lelaki usia 27 tahun itu. Usaha Sindu memahami bahasa asing itu tidak hanya terbatas di bangku kursus. Ia juga banyak belajar dari murid-murid luar negeri yang magang di Koperasi Kerta Semaya Samaniya.

Di tengah kesibukan mempersiapkan keberangkatan, ia juga harus tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Tekad dan keuletannya menjadi petani kini perlahan mulai ia panen. Melalui pertemuan petani ini, Sindu berkesempatan berdiskusi bareng bersama petani muda dari sembilan negara lainnya.

Pembahasannya sebagai petani tak melulu tentang cangkul dan sabit lagi. Sindu mendapat pengetahuan luas tentang pertanian selama program Youth Master Class Amsterdam Agriterra selama 15 hari. Di sana ia belajar bagaimana sistem pertanian yang sesuai zamannya. Melakukan terobosan-terobosan baru dan belajar sistem manajemen serta penguatan di bidang koperasi. “Petani bukan melulu tentang cangkul dan sabit,” tandas Sindu.

Ada yang berbeda jika berbicara soal petani dari perspektif Sindu. Menjadi petani sudah ia geluti sejak lulus SMA tapi tidak membuatnya menyesal sedikit pun. Bagi Sindu, petani tak sekadar mencangkul. Hingga saat ini, Sindu membuktikan keyakinannya itu. Mulai dari mendapatkan wawasan bertani dari teman-teman petaninya di Eropa dan Jepang.

Berbeda dengan stigma yang berkembang di masyarakat saat ini. Sindu sangat mensyukuri hidup di lingkungan mayoritas petani. Menurutnya, hidup di bidang agrikultura membuatnya dapat memahami bagaimana pentingnya ekosistem. “Menjadi petani tidak melulu ke kebun. Di zaman sekarang ini, kita (petani) dapat bersosial dengan siapapun, bahkan dari seluruh dunia pun dapat membangun jaringan atau koneksi, karena pertanian menyerap banyak sekali bidang ilmu,” tandasnya.

Di samping itu, melalui petani ia belajar banyak untuk peduli lingkungan. Menurutnya, inilah yang membedakan petani generasi muda dengan orang tua dulu. Bertani zaman now, harus melihat dari sisi lingkungan. “Berbeda, kalau dulu kebanyakan orang tua tidak peduli dengan lingkungannya. Asal berkebun saja seperti menggunakan pestisida, herbisida yang sangat merusak lingkungan.” kata Sindu.

Mengubah cara berpikir generasi muda untuk memahami tentang petani memang terasa sulit baginya. Namun ia yakin poin pertama sebagai generasi muda yaitu menjadi awal untuk perubahan. Perubahan untuk lingkungan dari hal kecil yaitu keluarga.

“Selama ini petani kakao pada umumnya konservatif dan tidak mau terbuka,” tandasnya. Namun, Sindu memiliki keyakinan, melalui generasi muda inilah dapat membuka wawasan para orang tua tentang bertani yang sehat. Bertani saat ini sudah menerapkan sistem peremajaan ataupun cara bertani yang baik. [b]

Editor: Anton Muhajir

Laporan ini merupakan hasil liputan mendalam Anugerah Jurnalisme Warga BaleBengong 2018 kerja sama BaleBengong dengan Yayasan Kalimajari.