• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Inikah Kekalahan Buku Melawan Game?

Anton Muhajir by Anton Muhajir
7 October 2010
in Buku, Kabar Baru, Pendidikan
0
4

Teks Ni Ketut Sriwati, Ilustrasi Internet

Diperlukan perhatian lebih dari orang tua agar anak-anak tetap memilih untuk membaca buku dari pada main game.

Pagi ini udara di Ubud terasa sejuk dan segar. Kesejukkan itu terasa sampai di lantai atas Pondok Pekak, tempat perpustakaan untuk anak-anak, di Ubud, Gianyar. Ribuan buku-buku berderet rapi di rak. Namun dari pagi belum ada seorang anakpun yang datang untuk melihat apalagi menjamah dan membacanya.

Mungkin mereka masih di sekolah, sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler. Mungkin main ke rumah teman. Mungkin lagi asyik main play stationn (PS), Nintendo. Atau mungkin lagi main game di internet. Ada begitu banyak kemungkinan.

Main PS. Hal ini mengingatkan saya ketika dua hari yang lalu bertemu Dede, sebeut saja begitu di Pondok Pekak. Dede  anak kecil kurus dengan rambut coklat kepirangan. Hampir setiap hari Jumat dia dan dua orang temannya datang untuk belajar menari jauk di lantai bawah Pondok Pekak.

Selama di Pondok Pekak tidak sekalipun Dede datang ke perpustakaan anak. Padahal begitu bannyak buku-buku yang menarik untuk anak seusianya. Dari majalah, buku cerita bergambar, novel, ensiklopedi sampai aneka jenis permainan yang mengasah otak. Namun, semua itu tidak mampu menarik perhatiannya.

Dede, yang berumur 10 tahun, ini sangat suka ke ruangan perpustakaan umum. Lokasinya di lantai bawah. Dia selalu ke sana sebelum latihan menari dimulai. Namun, yang dicarinya bukan buku, melainkan permainan internet. Di perpustakaan umum ada tiga unit komputer dilengkapi internet.

Pernah saya tanyakan ke Dede apakah dia suka membaca? Dan dengan tak acuh dia menjawab, “Tidak.” Waktu saya menanyakan alasannya dia hanya mengangkat bahunya.

Pertanyaan yang sama pernah saya tanyakan ke keponakan saya. Dia bilang cepat ngantuk kalau membaca buku sementara kalau main game. “Itu baru mantap,” jawabnya sambil mengacungkan jempol.

Ketagihan game ternyata hampir melanda semua anak-anak. Hal ini juga dikatakan oleh Jane Watson, salah satu turis dari Inggris yang sudah cukup lama menetap di Bali. Menurutnya, cara mencegah menjauhnya anak dari buku adalah dengan menjauhkan anak-anak dari game dan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan keluarga.

Untuk itu, setiap dua kali seminggu Watson datang ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. Setiap sore dia menyisihkan 1 jam waktunya untuk membaca buku-buku tersebut bersama anak-anaknya.

Biasanya setelah membaca di akan menanyakan pendapat anak-anaknya tentang buku tersebut. Banyak maanfaat yang dia rasakan dengan kegiatan membaca bersama ini. Selain menghindarkan anaknya dari pengaruh game, juga dapat meningkatkan hubungan antara ibu dan anak. “Anak-anak pun terbiasa untuk mengemukakan pendapatnya dengan tenang, santun dan terbuka,” katanya. [b]

Tags: Anak-anakBukuGameSosialUbud
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Kearifan Lokal di Tengah Arus Global di UWRF 2025

Kearifan Lokal di Tengah Arus Global di UWRF 2025

22 October 2025
Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

3 October 2025
Ubud yang Tenang Berubah Bising dan Macet

Pengembangan Kawasan Rendah Emisi di Sanur dan Ubud

19 September 2025
Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

Mengharapkan Perubahan Ubud dari Warga dan Pemerintah

15 September 2025
Jelajah Inovasi Desa di Ubud, dari Transportasi Hingga Pedestrian

Jelajah Inovasi Desa di Ubud, dari Transportasi Hingga Pedestrian

10 September 2025
Next Post

Penyelamat Bersiap Menyambut Paus Terdampar

Comments 4

  1. Titut says:
    15 years ago

    aku menaruh buku di mana-mana. di ruang tv, di ruang makan, di ruang tidur, di kamar mandi, di teras. skarang mulai beli mainan2 yang bisa dimainkan tandem ortu-anak. terus sering main ke luar: main bola atau layangan. dan ga mau nyoba memperkenalkan anakku ke game2 macam gitu. well, akhirnya dia kenal sendiri di after school care. tp, juga tidak menunjukkan keinginan untuk punya di rumah.
    sebelum tidur, kami baca buku sama-sama: dia bacain aku 1 buku, aku bacain dia 1 buku atau 1 chapter. sambil dia ‘do her number two’ di kamar mandi, dia baca juga.
    membiarkan anak main game dan nonton tv memang enak buat ortu (dapat baby sitter gratis). dan tidak membiarkan memang berat. tapi, uumm 😀 (well, ini masalah pilihan sih). hehe

    Reply
  2. .gungws says:
    15 years ago

    sekarang bisa maen iPad sambil baca ebook juga…
    *uhuk..uhuk*

    Reply
  3. deweu says:
    15 years ago

    Di Bali memang tidak ada kebiasaan membaca. Mungkin karena lontar dulu hanya dibaca di saat2 tertentu oleh kalangan tertentu saja. Mengubah kebiasaan yang sudah membudaya tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Membuat buku bermutu yang bisa menyaingi keasyikan bermain PS mungkin merupakan solusi yang paling ampuh, walaupun pastinya tidak mudah sama sekali.

    Reply
  4. Yohan Wibisono says:
    15 years ago

    Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia