• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, March 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Gunung Batukaru, Medan Pendakian untuk Pemula

Fadlik Al Iman by Fadlik Al Iman
24 December 2014
in Kabar Baru, Travel
0
5

Mendaki Gunung Batukaru 02

Toni, Akmal, Irvan, Andi dan tiga kawannya telah menunggu di sebuah SPBU di kawasan Kapal.

Hari itu jadi hari pertama mereka mengukir sejarah pendakian. Gunung Batukaru pas untuk para pendaki pemula karena tingginya 2.275 meter. Dia juga sehijau Taman Nasional Bali Barat.

Hal di atas menjadi wajar karena Gunung Batukaru telah ditetapkan menjadi Cagar Alam melalui surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 716/Kpts/Um/11/ 1974 teranggal 29 November 1974 dengan luas 1.762,80 Ha.

Sementara luas seluruh Kelompok Hutan Batukahu berjumlah 15.153,28 Ha, terdiri dari 14.262,74 Ha hutan alam, dan 890,54 Ha hutan tanaman.

Gunung Batukaru memiliki curah hujan tinggi dengan keragaman flora dan fauna kaya. Menurut fungsinya Kelompok Hutan Batukaru didominasi oleh Hutan Lindung seluas 11.899,32 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 1.491,16 Ha.

Posisi Cagar Alam Batukaru di sebelah utaranya terdapat Taman Wisata Alam Danau Buyan dan Tamblingan. Di sebelah selatan terdapat Kebun Raya Eka Karya. Di sebelah barat terdapat Hutan Lindung. Di sebelah timur terdapat Kebun Raya dan Hutan Lindung Batukaru.

Wilayah Batukaru merupakan daerah tabungan air bagi wilayah selatan Bali. kawasan ini memiliki nilai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang penting di Bali.

Khayal menerawang, senang rasanya dapat berada di puncak Batukaru bersama sama kawan seperjalanan. Di puncak Batukaru terdapat Pura Kedaton, tempat itu akan menjadi tujuan kami sampai beberapa jam ke depan.

Malam larut kami sampai di kaki gunung, Dharmaning telah sampai lebih dahulu tiba di pintu hutan bersama beberapa kawan. Saya dan Agus menyusul setelah satu jam berselang. Malam sehabis hujan nampak sepi, saya membayangkan bahwa esok akan menjumpai beberapa flora khas seperti Cemara Pandak (Podocarpus imbricatus).

Malam masih sepi sehabis hujan, kami masak untuk mengisi amunisi, gigil dirasa, sesekali tenggeret bersuara.

Tepat pukul 00.30 dini hari kami meniti dengan jumlah 10 orang pendaki. Beberapa kawan terkendala dengan senternya yang tidak menyala, meski hal itu tidak berlangsung lama. Kami memutuskan untuk terus mendaki. Mulai dari ketinggian 1.600 kami bisa melihat lampu lampu kota yang berada di bawahnya.

Beberapa orang minum terlalu banyak, hal ini sering terjadi pada pendaki pemula. Ketika lelah melanda mereka langsung duduk hal ini yang mengakibatkan suhu tubuh dingin terlalu cepat.

Tak terasa empat jam sudah kami berjalan, melewati tanah, batu dan akar akar tumbuhan yang timbul dari tanah-tanah yang kita pijak. Rona memerah sudah sedikit nampak di ufuk timur. Kami mulai menjumpai tanaman paku pakuan di ketinggian 2.190 mdpl. Kami terus mendaki karena kanopi hutan juga sudah jarang melindungi kepala.

Tepat pukul 04.20 subuh, kami tiba di puncak.

Rasa lelah terbayar sudah, Gunung Agung yang berada di sebelah timur terlihat jelas dilatari Gunung Rinjani di pulau Lombok. Kami foto secara bergantian, ada yang memasak untuk asupan tenaga.

Mendaki Gunung Batukaru 01

Kami memang bangga pada gunung ini, Batukaru merupakan hutan hujan tropis number one dengan iklim tipe A, rata rata hujan 2.000 mm – 2.800 mm per tahun.

Di puncak rambut kami di lapisi embun kecil, sangat lembap, jumlah rata-rata hujan di Batukaru 155,6 hari per tahun. Wajar jika resapan air gunung Batukaru menjadi tabungan untuk wilayah Denpasar dan sekitarnya.

Gunung ini memang tak sedingin gunung lain seperti Gunung Agung. Namun hutan lebat membuat kami terkesan padanya. Jumlah bulan basah di Batukaru 4 – 10 bulan, bulan keringnya 0 – 5 bulan dengan suhu rata rata di gunung 11,5 – 24? C.

Matahari mulai menampakkan wajahnya. Semua mulai terlihat, danau di bawah, gunung gunung serta suara burung. Menurut catatan gunung Batukaru kaya dengan jumlah faunanya. Bagi penikmat burung mereka bisa menemukan berbagai macam jenis seperti, Walik Kepala Ungu (Ptilinopus porphyreus), Serindit Jawa (Loriculus pusillus), Tepus Pipi Perak (Stachyris melanothorax), Takur Tohtor (Megalaima armillaris), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cinenen Jawa (Orthotomus sepium), dan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi).

Karena status Batukaru sebagai Cagar Alam tentunya banyak hewan dilindungi di sini, seperti Kijang (Muntiacus muntjak), Kucing Hutan (Felis bengalensis), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachiura), dan Lutung/Budeng (Trachypithecus auratus).

Bagi para pendaki pemula di Bali bisa mencoba gunung Batukaru setelah gunung Batur hal ini karena keadaan topografi kawasan ini berbukit dan bergelombang, dengan kondisi yang terdiri atas tiga lokasi bukit yang terpisah, yaitu Cagar Alam Batukahu I (Bulit Tapak), Cagar Alam Batukahu II (Bukit Pohang/Pohen), dan Cagar Alam Batukahu III (Bukit Lesong), dengan altitude/ketinggian antara 1.860 m – 2.089 m dari permukaan laut (dpl).

Tak terasa dua jam sudah kami di puncak. Pengalaman tujuh orang kawan yang mengaku kapok ketika mendaki ternyata dicabut kembali. Pengalaman di puncak melarutkan semuanya menjadi satu, yang lahir hanya rasa syukur.

Cagar Alam ini telah menjadi kelas, perpustakaan, sekolah dan sahabat untuk kami, bahwa ternyata bersemayamnya Batukaru harus dijemput dengan niat banyak belajar dan berbagi ketika tibah di rumah.

Menurut catatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Bali bahwa keanekaragaman jenis tumbuhan di Cagar Alam Batukahu paling tidak terdapat 45 jenis pohon yang diantaranya termasuk jenis yang langka. Beberapa jenis yang dominan adalah Bunut (Ficus indica), Sompang (Laplaceae sp.), Seming (Engelhardia spicata), Cemara Geseng (Casuarina junghuniana), Udu (Litsea velutina), Belantih (Homalanthus giganteus), Lateng (Laportea sp.), dan Kedukduk (Astronia spectabilis). Jenis flora yang tergolong langka adalah Cemara Pandak (Podocarpus imbricatus), dan Kepelan (Manglitia glouca).

Perjalanan kami lanjutkan menuju rumah. Sepuluh orang bergerak turun. Agus, Dharmaning berjanji akan banyak belajar pada alam, mereka ingin melakukan petualangan berikutnya, menghampiri bukit bukit bersemayam di pulau Bali, hingga kelak waktunya tiba mereka akan berbagi. [b]

Tags: KomunitasPerjalananTabanan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Fadlik Al Iman

Fadlik Al Iman

Pegiat lingkungan di Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI) Bali.

Related Posts

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Aksi Bali Mengkritisi Kebijakan Bias Gender dan Tolak RUU TNI

Gerakan Kesadaran Neurodiversitas untuk Keberagaman dan Melawan Stigma

21 June 2025
Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

Adu Balap di Jalan, Janji Sirkuit Ditagih

3 June 2025
Gemuruh di Bali Utara: Hulutara, Irama Utara, Beluluk (Bagian 1)

Gemuruh di Bali Utara: Hulutara, Irama Utara, Beluluk (Bagian 1)

4 September 2023
Menyambut Kelinci Air di Benoa

Menyambut Kelinci Air di Benoa

24 January 2023
Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

1 February 2021
Next Post
Misteri Harta Karun Gaib di Nusa Penida

Misteri Harta Karun Gaib di Nusa Penida

Comments 5

  1. Jurnal Blog says:
    8 years ago

    Saya dua kali naik ke Batukaru tapi pernah sampe atas, dan selama naik gunung baru di Batukaru yang ngalamin hal-hal diluar nalar

    Reply
  2. Nita santoso says:
    8 years ago

    Kalau saya pengen mendaki gunung batu karu.. adakah yang jasa yang mengurus semua keperluan pendakian, camping, termasuk porternya..

    Reply
  3. putri gita heavenly says:
    7 years ago

    kak, mau nanya apa jalur pendakiannya bisa dilewati sama orang awam yang belum pernah sama sekali kesana kak? apa harus perlu guide untuk mendaki kesana? makasih kak. mohon dijawab ya kak

    Reply
  4. Islam Berkemajuan says:
    3 years ago

    My sincere appreciation for sharing such valuable insights!

    Reply
  5. Islam Berkemajuan says:
    3 years ago

    Thanks for the informations! we are use this into our dataset collections

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
Titik Berburu Takjil di Bali

Titik Berburu Takjil di Bali

6 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia