
Sebuah kesadaran kecil muncul setelah membaca The Post Corporate World karya David C Korten, buku yang dengan elegan membedah pergeseran peran negara yang mulai berorientasi pada korporasi atas nama pertumbuhan dan kemajuan. Korten membuka argumennya dengan premis yang tampak sederhana namun konseptual: “If you want to change the behavior, change the image.” Dalam kerangka teori perubahan sosial, pernyataan tersebut merujuk pada bagaimana konstruksi imajinatif membentuk preferensi publik.
Meski ditulis 23 tahun silam, semakin dibaca hari ini, justru semakin relevan. Formula tersebut mencerminkan bagaimana ekonomi digital saat ini bekerja. Kini pasar tidak lagi bergantung pada strategi hard selling yang bersifat persuasif dan terkesan memaksa. Sebagai gantinya, mereka membangun ekosistem digital yang nyaman dan relevan. Ketika gagasan Korten direfleksikan dengan kecenderungan konsumsi yang serba instan saat ini, timbul fakta yang agak menyedihkan.
Ternyata selama ini kita tidak seotonom yang dibayangkan. Kita sering merasa tengah berpikir bebas dalam mengambil keputusan atas kesadaran pribadi. Namun harus diakui di balik layar, mekanisme pasar sedang menuntun lewat rekomendasi algoritma. Iklan sering kali tampil seolah memahami kebutuhan pengguna, hingga muncul respon spontan “kok pas banget ya, kan lagi perlu”. Dalam situasi ini, posisi iklan mengalami pergeseran, tidak lagi dilihat sebagai gangguan melainkan sebagai respon atas kegelisahan dan kebutuhan yang belum terungkap.
Asupan informasi yang diklaim mampu memperkaya wawasan justru kerap bekerja layaknya mesin fotokopi. Pelan-pelan meniru dan menyesuaikan dengan perilaku yang mereka rancang. Dalam proses ini, rekayasa budaya berlangsung tanpa resistensi, menghidupkan kembali konsumerisme dengan legitimasi baru. Jadilah kita generasi yang lebih takut kehabisan promo daripada mempertimbangankebutuhan dan rasionalitas.
Menariknya, situasi ini berbeda dengan fase awal kehadiran e-commerce di Indonesia. Masyarakat menyambutnya dengan penuh kewaspadaan dan kekhawatiran soal barang palsu. Pembeli diminta percaya hanya pada deskripsi danfoto barang yang entah diambil dari mana. Kondisi ini semakin kuat karena ditopang pengalaman empirik yang begitu membumi. Di awal kemunculannya,
sebagian dari kita hampir pasti pernah menerima paket yang isinya memicuekspresi hening penuh penyesalan. Ukuran tidak sesuai, warna beda tipis tapi menyakitkan atau kualitas yang terasa jauh dari kata “premium” seperti yang dijanjikan. Alih-alih menimbulkan efek jera, pengalaman zonk tersebut justrumenjadi momentum pematangan digital yang menguntungkan e-commerce.
Pasar melihatnya sebagai proses trial and eror yang diperlukan untuk perbaikan sistemik. Keraguan dan ketakutan konsumen diredam dengan amunisi baru melalui fitur real time, sistem rating, jaminan refund, sistem pembayaran COD, hingga promo gratis ongkir.
Puncak inovasinya saat kemunculan fitur belanja live streaming. Sebuah strategi yang perlu diakui cerdik dan manusiawi. Konsep ini berhasil menghapus keengganan konsumsi karena keterbatasan informasi. Live streamer menampilkancitra unik, ramah dan hangat dengan sapaan ikonik seperti “kakak sayang, cintaku..” dan panggilan centil lainnya. Panggilan penuh afeksi yang mungkin
bahkan tidak kita dengar dari lingkungan terdekat. Sebuah pengalaman belanja yang jelas mustahil didapat di toko offline. Jangankan manggil kakak sayang, bertanya harga pun pembeli sungkan.
Di ruang live streaming, pembeli dikondisikan untuk merasa diperhatikan dan seolah bagian dari lingkaran eksklusif yang kebetulan juga sedang ditawari diskon kilat. Komunikasi para live streamer tidak hanya berfungsi sebagai relasi jual-beli, tetapi juga membangun kedekatan emosional. Dalam suasana seperti ini, keputusan ekonomi yang semestinya didasarkan pada pertimbangan rasional berubah menjadi reaksi spontan yang mendorong keinginan untuk segera check out.
Rekayasa budaya berbelanja ini memperlihatkan bagaimana pasar memanfaatkan teknologi, karakter demografi dan sisi psikologi secara bersamaan guna menjaga pola konsumsi. Perlu diakui, perilaku konsumsi kita telah diubah secara dratis dan dimanjakan oleh e-commerce. Segala jenis kebutuhan, bahkan yang sebenarnya dapat dibeli di warung tetangga, kini lebih sering dipesan melalui e-commerce hanya karena selisih harga beberapa ribu rupiah.
Murah berarti benar, cepat berarti ideal. Rasionalitas ekonomi seolah menjadi pembenaran, meski ironisnya turut menggeser relasi sosial yang dulu biasa terbangun antara pembeli dan penjual di lingkungan sekitar. Di sinilah tampak jelas bagaimana kesadaran kita tidak lagi tumbuh secara alamiah, melainkan perlahan dikonstruksi oleh logika pasar yang bekerja melalui narasi kenyamanan.
aafikotasarni.org








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
