• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, September 1, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Drakula Cengkeh Pangeran Tampan Cendana

Komang Armada by Komang Armada
15 March 2017
in Berita Utama, Politik
0
0
Lahan kebun cengkeh di Munduk, Buleleng yang pernah menjadi korban drakula BPPC. Foto Komang Armada.

Cerita petani cengkeh tentang tipu daya di zaman Orde Baru. 

Tahun 1972 sampai 1980-an bisa disebut periode penanaman cengkeh paling marak di desa saya, Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Desa saya salah pusat komoditas cengkeh di Bali.

Saat itu, orang-orang tak perlu berpikir panjang untuk menyulap sawah atau kebun kopi mereka semata demi tiga nama paling menjanjikan saat itu: Zanzibar, Si Putih dan Sikotok.

Saking mahal, menggiurkan dan tingkat kesulitan mendapatkannya (karena harus didatangkan dari pusat pembibitan di Malang dan Jember), anakan-anakan cengkeh tersebut diperlakukan layaknya pusaka kesayangan.

Mirip bangsawan-bangsawan Jawa memperlakukan keris-keris keramat atau burung perkutut melik yang memiliki katuranggan cemerlang. Dielus. Disingkirkan semua gulma. Ditepiskan semua serangga pengganggu. Dibasahi hati-hati dengan percikan air yang paling lembut.

Cengkeh, masa-masa itu bahkan dipadankan dengan Laksmi, manifestasi Tuhan dalam kosmologi Hindu yang dipercaya sebagai pemilik otoritas tertinggi atas segala sesuatu yang berhubungan dengan kemakmuran.

Benar, semenjak itu pendapatan petani-petani di desa saya membaik, selain pengetahuan tentang metode-metode pertanian modern yang bertambah, tentunya. Istilah intensifikasi pertanian, misalnya, atau diversifikasi lahan – dua istilah yang sekian tahun kemudian baru saya pahami artinya melalui bangku sekolah – kala itu fasih dipaparkan, terutama oleh para penyuluh (PPL) dari dinas perkebunan.

Sampai di sini, segala sesuatunya berjalan baik, ‘toto tentrem landuhing ati’. Kalaupun ada catatan buruk yang bahkan sampai hari ini dilakoni sebagai ritus adalah, mulai periode itu petani-petani di desa saya banyak bersentuhan serta kian massif mempergunakan pupuk kimia pabrikan dari berbagai merk dan jenis di lapangan.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Puncak kematian para petani cengkeh akhirnya tiba juga.

Itu terjadi pada 1990-an saat munculnya sosok drakula bernama BPPC alias Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (dikuatkan dengan Keppres Nomor 20/1992 jo Inpres Nomor 1/1992). Badan usaha bentukan Tommy Soeharto yang selama delapan tahun mengakali alur distribusi cengkeh dari petani ke industri rokok.

Harga cengkeh ambruk ke angka Rp 1.500/kg kering.

Selesai? Belum. Penjualan maksimum dibatasi hanya 25kg/petani/10 hari, itupun dimonopoli oleh “pembeli” satu-satunya: KUD.

Hari-hari ini Pak Tommy, pangeran tampan itu, kembali rajin menampakkan diri ke publik walau dalam misi dan jubah berbeda. Kemunculannya, betapapun saya abaikan, tak urung menghidupkan lagi ingatan saya tentang sosok drakula keji dan serangkaian tahun-tahun kelam mematikan itu. [b]

Tags: BulelengPertanianPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Komang Armada

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan sepakbola indah.

Related Posts

Penyebab Tanah Longsor di Desa Munduk

Penyebab Tanah Longsor di Desa Munduk

25 August 2026
Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

Kebun Melon di Kaki Gunung Agung

16 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

Klub Bola bisa jadi Ruang Artikulasi Sikap Politik

24 June 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Next Post
Sambil Menyelam Bersih-bersih Sampah Lautan

Sambil Menyelam Bersih-bersih Sampah Lautan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Harapan Pengembangan Usaha Disabilitas

Harapan Pengembangan Usaha Disabilitas

1 September 2026
Catatan Perjalanan Desa Ban: Masih Terjal dan Krisis Air

Catatan Perjalanan Desa Ban: Masih Terjal dan Krisis Air

31 August 2026
Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

Keahlian Menipiskan Adonan Uli dan Begina di Desa Guliang Kangin

30 August 2026
Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia