
Dua bulan ini, ada dua panggung seni inovatif di Pantai Padang Galak, Sanur, Denpasar.
Pertama, Art Event Bali Tolak Reklamasi. Kedua, Plays On The Sea: Persembahan yang Tetunda, Sang Baruna Menolak Kehancuran.
Event pertama ada kejutan panggung melayang, kelompok musik atau penari mentas di ketinggian belasan meter dari tanah. Sangat indah dipotret dengan latar belakang cahaya matahari terbenam dan malamnya disorot tata cahaya dan kilatan projektor.
Nah, akhir pekan ini, tim kreatif sudah beberapa hari berendam di pesisir Sanur. Mendirikan tiang pancang di pasir, mengawasi alur ombak dan arus Pantai Padang Galak yang terkenal memang galak. Apakah panggung di atas laut ini akan berdamai dengan deburan ombak?
Siapa kreator event-event tersebut? Ada Yoka Sara, seorang seniman arsitek dan produser film Janggan. Juga ada mantan guru Bahasa Perancis, Anom Darsana. Keduanya, duet arsitek dan ahli tata suara itu adalah aktor di balik panggung menyatukan seniman dan musik dalam bahasa perjuangan.
Berikut Anak Agung Ketut Anom Wijaya Darsana yang lebih dikenal dengan nama Anom Darsana, pria pendiri Antida Sound Garden kelahiran Kesiman, 31 Mei 1972 ini. Nama Antida dirangkai dari Anom dan Tiziana Darsana, istrinya.
Event Plays on The Sea bagaimana proses kreatifnya?
Kita sudah mulai set panggung Selasa, sudah 4 hari. Mengikat tiang di laut dan nanti set flooring, lighting, genset, dan Sabtu ready. Biasanya habis Tilem, air akan surut. Kemungkinan dari jam 4 sampai 10 malam, terus air naik lagi. Semoga saja.
Kita ingin memberi kejutan, sesuatu beda. Belum pernah saya dengar di Indonesia ada panggung melayang dan di atas laut. Biar mereka, penonton dan seniman punya pemikiran kreatif membuat sesuatu yang beda. Tema laut yang dihancurkan investor. Menghalangi reklamasi dengan proses seni.
Ini izinnya dari polisi cepat selesai karena tidak ada embel Bali Tolak Reklamasi seperti event sebelumnya.
Acara (Art Event Bali Tolak Reklamasi) sebelumnya kenapa?
Berminggu izinnya karena ada Bali Tolak Reklamasi dan Superman is Dead. Dari Kapolsek ke Kapolda. Menurut saya dengan kesenian masyarakat menyadari, menarik perhatian publik karena kita memberikan sesuatu yang bagus. Intinya menolak reklamasi. Tidak setuju apa yang akan terjadi di teluk. Menghimpun komunitas, mendatangi, dan membuat persembahan. Juga untuk laut dan masyarakat Bali. Efeknya sangat baik. Bersama Yoka Sara, perannya dia arsitek stage, beberapa ide performance, dan video mapping.
Kapan mulai teribat dalam kampanye ini?
Terlibat sejak diadakan konser-konser mini oleh ForBALI dan bazzar, tapi saat itu sebagai publik. Saya melihat acara itu, semakin lama dan semakin besar tapi publiknya tak begitu luas. Lalu saya buatkan konsep merangkul semua seni, teater, world music, hiphop memberikan dampak yang lebih bagus dan meluas. Karena mereka juga menolak seperti Cok Sawitri, teater dari Buleleng, Sanggar Bajra Sandhi, dan lain-lain.
ForBALI juga buat album Bali Bergerak dan band-bandnya masuk, jadi semua menyatu. Acara universal seni. Lebih banyak kesenian, semua memberi energi.
Konsep Art Event dulu, setelah penonton melihat musik punk dilanjutkan tari Bali. Seperti dulu nonton The Djihard setelah itu balik ke Segara Stage, biar otak kita diisi terus. Penonton diajak merasakan perbedaannya agar semakin mencintai kebudayaan lain. Karena biasanya fans itu monotype. Suka punk saja, eh diajak show lain ternyata juga asik tapi dengan ambience yang dikemas.
Cara melibatkan publik berkontribusi?
Isu reklamasi sudah satu setengah tahun dan sudah menghimpun komunitas. Yang sangat berperan Gendo (Wayan Suardana, Koordinator ForBALI), dia membentuk jaringan, publik semua golongan ikut berperan serta.
Lewat media sosial juga sangat dahsyat. Lewat facebook, twitter, whatssapp lebih cepat memberikan pendapat. Facebook saya terus update dan buat sesuatu (konten) yang baru. Waktu Art Event, mengundang 5000 orang, di atas 1000 going dan menyebarkan ke temannya yang lain.
Mobilisasi dana untuk kedua event?
Saya balik 2004 ke Bali (dari Swiss) membuat studi rekaman dan Serambi Arts Antida, lalu buat Ubud Village Jazz Fest, saya mendapat banyak tanggapan positif dari pegiat seni. Memfasilitasi musisi sangat dihargai. Mereka diuntungkan karena memperdengarkan karyanya, ada sound bagus dan lighting. Saya mendapat banyak rspon dan mereka respek. Saya juga respek pada musisi yang berkarya. Apa yang Gung Anom buat kami mendukung. Semua ngayah.
Sound engineering saya banyak link, ada Pregina, Dr Sound, Cahya, lighting, mereka semua support saya dan bantu. Kemarin saya cuma mencari dana untuk crew teknis karena mereka hidup dari sana. Tiga sisi ini, Anom, Yoka Sara, dan ForBALI disatukan membayar semua produksi jadi tak ada hutang. Kalau dihitung-hitung (kalau tak ngayah) bisa hampir setengah milyar habis (Art Event). Mahal sekali.
Juga diprakarsai Banjar Kedaton karena wilayah mereka dan untuk keamanan. Ormas ada beberapa di belakang panggung tapi cuma diam. Mereka juga teman. Walau dibayar tapi tak ngapa-ngapain mereka. Tak pernah membuat onar dan memukul.
Rencana berikutnya untuk event seni?
Besoknya, tanggal 23 ada reggae, Reggaeneration di Sound Garden. Ada musik dan workshop juga nanti selain tempat komunitas tiap bulan. Karena ini memang dunia saya, memfasilitasi seniman.
Kehidupan di Swiss sebelumnya?
Bapak kerja sebagai driver transportasi publik, bus di sana. Tahun 92 saya kuliah bahasa Perancis lalu jadi guru bahasa Perancis, pengen diam di sana. Tapi tak bisa karena (visa) student dan harus pulang. Tapi mencari kegiatan dulu, belajar sound engginering, sekolah audio dan praktik kerja di teater, tivi, 13 tahun di Swiss.
Ketika balik ke Bali?
Tahun 2004 saya kerja di event-event. Ngurus sound engineering Pregina bersama Gus Mantra. Sound system Lolot, dan lainnya. Tahun 2007 sewa tempat (di Jl Waribang-lokasi Antida saat ini), 2008 studio dibuka. Ini tanah tetangga dan sewa sampai 2032, jadi masih bisa banyak berkreativitas.
Kondisi industri musik dan event di Bali?
Semua bisa dilakukan di Bali. Sudah ada studio rekaman yang bagus, dan teknologi media. Tak perlu ke sana kemari ada ITunes, dan lain-lain, kalau musik bagus industri terbangun.
Kualitas apresiasi publik?
Band kesukaan dia pasti dukung. Ini gunanya sound garden membuat semua jenis musik. Musik sangat luas, wawasan anak muda harus mempelajari mendengarkan musik lain. Selain fans SID juga harus mendengarkan world music, mendengarkan musik lain.
Bali sangat sulit menarik penonton musik. Kalau di Jogja, Bandung, Surabaya mereka datang menonton. Sawung Jabo di Jogja penonton berjubel. Entah kenapa mungkin karena daerah pariwisata. Nosstress sih masih ramai. Nanti 23 Desember saya mengundang Leo Kristi, ada tur, launching buku, talkshow. [b]







![[Galeri Foto]: Plays On The Sea](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2014/11/Vifick_22-Nov_Padang-Galak-Dps_Plays-On-The-Sea-9.jpg)

![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)


Padanggalak berada di wilayah Kesiman, bukan sanur……