Pulau Bali, pulau seribu pura. Keto anake ngorahang, mekejang demen melali ke Bali
Toris-torise mancanegara lan domestik, seneng nyingakin budaya, adat, krama wargane…

Lirik tersebut merupakan penggalan salah satu lagu yang menemani hari-hari penulis semasa masih menempuh pendidikan di sekolah dasar. Mendapatkan PR alias pekerjaan rumah untuk menghapal nama-nama pura (tempat suci agama hindu) di Bali, lagu ini menjadi jurus manjur yang diresepkan bibi penulis untuk didengar waktu itu.
Kini setelah mendengarkan lagu itu kembali, penulis tersadar bahwa lebih dari sekadar mendendangkan nama-nama pura di Bali, lagu tersebut juga memberikan selayang pandang akan reputasi pulau Bali, lanskap yang menawan, tradisi dan budaya yang kaya, hingga membawa penulis bernostalgia pada nuansa tahun 2010an.
Masa-masa yang sebetulnya mulai samar-samar dalam benak, namun masih tersimpan dalam hati dan kenangan. Dengan mendengarkan kembali beberapa lagu Bali awal 2010an ini penulis bernostalgia kembali, mendengarkan musik sembari membuka lembaran album-album kenangan yang menemani masa kanak-kanak anak Gen Z ini.
Pulau Seribu Pura
Tidak diketahui tahun pasti secara resmi kapan lagu ini pertama kali dirilis, yang pasti video klipnya telah tersedia di YouTube sejak 2013. Dulu penulis mendengarnya melalui DVD yang sekarang sudah lenyap entah kemana.
Lagu ini diciptakan oleh De Oka, S dan dinyanyikan oleh Putu Tiara, penyanyi cilik waktu itu. Melalui lirik dan melodinya, lagu ini memperkenalkan Bali lewat kekayaan tradisi dan budaya, menuntun pendengarnya mengenal pura-pura terkenal yang tersebar di seluruh pulau.
Video klipnya menampilkan lanskap Bali pada awal 2010-an, anak-anak menari dengan busana adat, serta suasana pura yang masih terasa alami dan belum mengalami perubahan atau renovasi. Seperti pura Besakih yang kini lebih modern dengan dibangunnya berbagai fasilitas tambahan di sekitar area pura.
Lirik lagu “Pulau Seribu Pura” seolah menjadi peta musikal yang memperkenalkan delapan pura terkenal di Bali. Dari Pura Besakih yang berdiri megah di lereng Gunung Agung, Kabupaten Karangasem yang dikenal sebagai pura terbesar dan pusat spiritual umat Hindu Bali, hingga Pura Uluwatu di tebing curam Kabupaten Badung yang menghadap langsung ke Samudra Hindia.
Di sisi barat daya pulau, Pura Tanah Lot di Tabanan berdiri anggun di atas batu karang yang dikelilingi laut, sementara Pura Pulaki di Buleleng memancarkan ketenangan pesisir utara dengan pemandangan laut yang menyejukkan.
Perjalanan musikal itu berlanjut ke Pura Goa Lawah di Klungkung, Pura Rambut Siwi di Jembrana, Pura Tirta Empul di Gianyar dengan mata air sucinya yang digunakan untuk melukat, serta Pura Puseh Luhur Batur di Bangli yang menjadi lambang kesucian dan keseimbangan alam.
Melalui sebaran pura-pura tersebut, lagu ini bukan sekadar pengingat geografis, melainkan perjalanan spiritual yang menuntun pendengarnya memahami makna kesakralan Pulau Bali dari ujung timur hingga barat, dari pegunungan hingga laut.
Melayangan
Semengan tiang bangun kepupungan. Nyemak blakas, nyebit tiying, kanti sap mesugi. Sampun siaga lakar melayangan. Ngajak timpal-timpal sekaa demen layangan.
Nah walaupun penulis tidak bisa membuat layangan secara langsung, tapi penulis pernah menerbangkan layangan walaupun setelahnya nyangkut di pohon.
Lagu yang satu ini juga tidak kalah menyenangkan, penulis sering mendengarkannya kala senggang. Lagu “Melayangan” sudah hadir sejak 2014, merupakan salah satu buah karya band Emoni Bali yang terkenal.
Selain memancarkan semangat kebersamaan, lagu Melayangan juga memperkenalkan berbagai jenis layangan yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Ada layangan Janggan dengan ekornya yang panjang menjuntai anggun di langit, layangan Bebean yang berbentuk ikan dan melambangkan kelincahan, hingga layangan Pecukan dengan bentuknya yang khas dan teknik terbangnya yang menantang.
Lagu ini menggambarkan keceriaan masa kecil di musim angin timur, ketika anak-anak berlarian di sawah atau pantai untuk bermain layangan. Di balik kesederhanaannya, tradisi melayangan menyimpan nilai kebersamaan dan gotong royong “pakedek pakenyung, menyama braya, ajegan seni budaya Bali” yang menegaskan bahwa bermain pun bisa menjadi bentuk pelestarian seni dan budaya Bali.
Lagu ini juga memperkenalkan deretan pantai yang menjadi lokasi lomba layangan populer di Bali. Ada Pantai Mertasari, Biaung, dan Padanggalak, tiga tempat yang selalu ramai setiap musim layangan tiba.









