• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, October 10, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Denpasar Kota Semrawut

I Nyoman Winata by I Nyoman Winata
9 December 2008
in Kabar Baru, Opini
0
0

Oleh I Nyoman Winata

Pulang ke Denpasar beberapa hari lalu membuat saya terperanjat. Denpasar yang sudah demikian semrawut awut-awutan kini menjadi semakin semrawut. Hampir setiap pertigaan, perempatan atau perlimaan, berjejer foto-foto para kontestan pemilu. Saking ramainya aksi para caleg ini sampai-sampai saya mengesankan kalau mereka semua layak disebut orang-orang barbar (tidak punya aturan, etika). Kalau bahasanya di Wayan Juniartha di Bungklang-bungkling di Bali Post, mereka adalah juaranya mereka yang juari-juari.

Kata Juari dalam bahasa Bali merujuk pada orang yang tidak tahu malu. Kalau ada yang disebut juari maka itu berarti orang itu tidak punya rasa malu. Ya, para caleg yang pasang fotonya gede-gede di perempatan jalan adalah masuk kelompok manusia-manusia juari (tak tahu malu). Memasang foto wajah lalu meminta orang untuk mendukungnya, padahal ia bukanlah siapa-saiapa dan tidak pernah melakukan apa-apa untuk masyarakat. Lebih juari lagi kalau mereka yang pasang foto besar adalah mereka yang sudah pernah duduk sebagai anggota legislatif. Bukankah mereka selama ini hanya asyik masyuk mengeruk uang rakyat saja?

Mungkin ini pula yang menjadi cermin dari sikap prlaku para caleg di Kota Denpasar. Kesemrawutan kota bukanlah hal yang penting lagi. Bagi para caleg yang penting syahwatnya untuk merebut peluang duduk di kursi legislatif terpenuhi. Jika mereka adalah para juari apa yang bisa diharap ketika mereka benar-benar dudukjadi anggota legislatif?

Tidak penting menanggapi apa isi dari pesan sponsor mereka yang tertampang di baliho-baliho besar dan kecil. Terlepas darikelucuan-kelucuan yang mereka tunjukkan, penting untuk disimak bahwa mereka sangat sedikit punya semangat berjuang melalui jalan terhormat. Mereka lebih memilih berjuang melalui proses instant. Tak peduli apakah orang terganggu dengan tampilnya wajah mereka dijalanan dengan senyum dan wajah yang belum bisa dipastikan kejujurannya. Yang jelas mereka sedang berjuang untuk mendapatkan penghasilan/pekerjaan, karena rata-rata mereka adalah pengangguran atau pensiunan.

Di saat seperti ini, sangat kentara bagaimana lemahnya pemerintahan di kota Denpasar. Ke mana birokrasi di saat hukum-hukumnya diperlukan untuk menata kota? Di mana para birokrasi ketika warganya mengabaikan soal ketertiban? Apa kerja perangkat pengawas pemilu, apa kerja dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Denpasar? Mengapa mereka sangat sulit menegakkan hukum untuk menciptakan keteraturan. Denpsar memang berada dalam out of order yang parah. Denpasar memang kota Semrawut awut-awutan.

Tags: OpiniPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Nyoman Winata

I Nyoman Winata

I Nyoman Winata lahir dan besar Denpasar tahun 1975. Pernah kuliah di Fakultas Ekonomi Unud sampai wisuda. Di tahun 2013 lulus kuliah di Magister Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro dengan predikat cumlaude. Bekerja di sebuah Media massa yang berkantor pusat di Bali. Dari akhir tahun 2004 lalu bekerja di Semarang Jawa Tengah. Tidak punya hobi pasti, dulu suka olahraga, sekarang tidak pernah jelas. Rumah di depan Terminal Ubung persis, disebelah rumah makan padang "Minang Ubung".

Related Posts

Bali dan Banjir: Apakah Kita Serius Menata Kota?

Kesalahpahaman dalam Penganggaran Mitigasi Bencana di Bali

25 September 2026
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Bugbug, Wilayah Frontier, dan Tubuh yang Dikorbankan

17 September 2026
Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

Negara yang Meminta Kami Terus Beradaptasi

16 September 2026
Inilah Kunci Kemewahan Sejati Primo Chocolate Bali

Gotong Atas, Royong Bawah

8 September 2026
Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

Tumpek Uye: Manusia bukan Satu-satunya Mahluk di Bumi tapi Paling Invasif Merusak

6 September 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Next Post

ASITA Akan Tertibkan Online Tour

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Diorama Pembagian Peran dari Pasar Tradisional

Diorama Pembagian Peran dari Pasar Tradisional

9 October 2026
Belajar Membongkar, Lupa Menyambung

Belajar Membongkar, Lupa Menyambung

9 October 2026
Pekerjaan Melampaui Gender

Pekerjaan Melampaui Gender

8 October 2026
Siasat Toko Isi Ulang di tengah Warung Sachet dan Kebiasaan Belanja

Siasat Toko Isi Ulang di tengah Warung Sachet dan Kebiasaan Belanja

8 October 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia