• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, July 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Dampak Semu Eksploitasi Kawasan Bali Selatan

Wayan Indrabayu by Wayan Indrabayu
19 August 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan, Opini, Sosial
0
1

Tanjung Benoa

Beberapa minggu terakhir, masyarakat Bali dihebohkan oleh pro kontra upaya upaya reklamasi pantai di Tanjung Benoa.

Pro kontra ini tidak sebatas perang argumen di media semata namun hingga memunculkan ancaman pemakzulan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Alasannya karena Pastika dianggap tidak becus mengeluarkan surat keputusan (SK) pembangunan yang justru mengancam kelestarian alam Bali.

Polemik berkepanjangan ini pada akhirnya menarik perhatian saya untuk turut memberikan opini terhadap konflik yang terjadi. Saya sendiri bukanlah seorang ahli, melainkan hanya pelajar dan praktisi yang kebetulan bergelut dan mendalami dunia perencanaan. Melalui tulisan ini pun saya tidak berusaha mengkritisi atau turut berpolemik dalam masalah reklamasi, melainkan hanya memberikan sudut pandang pada aktivitas investasi yang banyak dilakukan di kawasan Bali Selatan.

Sebagaimana diketahui, kawasan Bali selatan (Badung, Denpasar, Gianyar) memang sudah sejak lama menjadi primadona dan tulang punggung ekonomi Bali khususnya untuk industri pariwisata. Sudah bukan hal aneh pula jika investasi dan pengembangan infrastruktur lebih diprioritaskan pada ketiga wilayah ini.

Secara makro bisa dikatakan pola pengembangan wilayah di Bali cenderung mengikuti konsep kutub pertumbuhan (Growth Pole), di mana kawasan Bali selatan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi. Growth pole telah lama diakui sebagai sebuah konsep yang secara instan mampu meningkatkan perekonomian wilayah. Sebagai bukti, dalam triwulan pertama 2013, pertumbuhan ekonomi Bali tercatat mencapai 6,71 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional (6,02 persen).

Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali (RTRWP), kawasan Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan) ditetapkan menjadi pusat pertumbuhan serta kabupaten lainnya menjadi sub pusat pendukungnya. Konstelasi hubungan antar wilayah (kabupaten) di Provinsi Bali akan selalu menimbulkan pergerakan sumber daya baik itu manusia, komoditas hingga permodalan. Permasalahnya apakah linkage antar wilayah ini telah menghadirkan hubungan yang mutual bagi wilayah-wilayah lain di Bali?

Cepat
Investasi ekonomi (sarana dan prasarana) mayoritas diarahkan untuk melayani daerah perkotaan (Denpasar-Badung) yang relatif memiliki pertumbuhan cepat. Sebagai dampaknya, ekonomi kawasan rural tidak memperoleh nilai tambah yang proporsional akibat ketidakmampuan bersaing dengan daerah urban. Tipologi perekonomian daerah-daerah di Bali yang cenderung sama, bertumpu pada sektor pertanian dan pariwisata, menciptakan kesamaan produk jual, sehingga pemusatan investasi pada sebuah kawasan tentunya dapat mematikan potensi kawasan lainnya untuk berkembang.

Khusus untuk sektor pertanian, minimnya industri pengolahan di daerah juga semakin melemahkan daya saing wilayah di mana tercipta ketidakseimbangan nilai tukar produk daerah terhadap produk/jasa perkotaan. Kondisi ini menimbulkan surplus ekonomi di mana daerah menjual bahan baku dalam harga murah dan setelah melalui proses pengolahan, kota menjadikan daerah sebagai pasar dengan margin harga lebih besar. Dalam konteks demikian, wajar apabila terjadi eksploitasi sumber daya secara berlebihan sehingga seringkali merugikan ekonomi daerah itu sendiri.

Investasi ekonomi pada kawasan Bali selatan juga menghadirkan masalah sosial kependudukan. Pertumbuhan penduduk daerah Badung dan Denpasar yang hampir tiga kali lipat daerah lain di Bali mengindikasikan bahwa, atraksi ekonomi pada dua daerah ini benar-benar menjadi magnet bagi penduduk untuk bertempat tinggal. Tidak jarang bahkan, peningkatan jumlah penduduk datang dari arus migrasi daerah lain di Bali.

Bagi Badung dan Denpasar, peningkatan jumlah penduduk yang sedemikian tinggi jelas sudah menimbulkan masalah sosial ekonomi. Kemacetan, kriminal, dan spekulasi lahan yang tak terkontrol adalah sedikit contoh dari realita yang ada. Bagi daerah, kondisi ini juga menghadirkan dua ancaman pembangunan, eksploitasi sumber daya alam secara berlebih serta berkurangnya sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung pembangunan.

Pada akhirnya masalah di atas bermuara pada satu isu utama, disparitas pembangunan antar wilayah.

Disparitas memang merupakan kelemahan pendekatan Growth Pole, dan Bali secara nyata menunjukkan bukti bahwa investasi ekonomi pada kawasan Bali Selatan telah menghadirkan ketimpangan sosial dan spasial terhadap daerah lain di sekitarnya.

Kembali ke masalah reklamasi kawasan Tanjung Benoa, terlepas dari benar tidaknya proses yang ditempuh, investasi pada kawasan Bali Selatan hanya akan menimbulkan jurang pemisah yang semakin lebar bagi kondisi perekonomian antarwilayah di Bali. Hal ini akan menjadi bom waktu bagi masalah-masalah social ekonomi dan budaya tidak hanya di Badung dan Denpasar namun juga kabupaten lainnya.

Pendekatan pembangunan berkonsep Growth Pole terang-terangan telah menghadirkan dampak semu, dimana secara rill dampaknya dirasa belum sebagus angka statistik. Melihat ketidakmutualan hubungan antar wilayah yang terbentuk, sudah sewajarnya jika pemerintah provinsi secara bijak mengalihkan prioritas investasi pada usaha-usaha ekonomi mikro, kecil dan menengah di daerah untuk meningkatkan daya saing daerah terutama di era otonomi dan pasar bebas ini. [b]

Tags: LingkunganOpiniSosialtata ruang bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Indrabayu

Wayan Indrabayu

Mahasiswa Magister Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro melalui program beasiswa unggulan Diknas 2012.

Related Posts

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Renungan untuk Hari Disabilitas

Kenapa Jalur Disabilitas tidak untuk Semua Ragam Disabilitas? 

30 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Gemerlap Pariwisata dan Kemegahan Ritual Bertemu Krisis Ketenteraman Batin

23 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Next Post
Parlemen Muda Indonesia (Roadshow Bali)

Parlemen Muda Indonesia (Roadshow Bali)

Comments 1

  1. Ade Ubud says:
    12 years ago

    Terimakasih ulasannya. Saya share ya.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia