Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #6

Ekspresi tari Calon Arang/id.wikipedia.org

Ajaran kalepasan akan diberikan Baradah kepada Airlangga. Sebelum itu, ada syarat yang harus dipenuhi sang raja yakni “mempersiapkan Sang Hyang Dharma.” Dharma sudah lama menjadi kata yang abstrak. Ada banyak terjemahan Dharma jika dicari dalam kamus.

Dalam teks Calon Arang, yang dimaksud dengan Dharma adalah menggelar asurud ayu dan meninggalkan budi yang buruk. Asurud ayu, berarti memohon kesucian dan menjadi pendeta. Meninggalkan budi buruk maksudnya berperilaku adil semenjak dari dalam pikiran.

Melakukan surud ayu, berarti Airlangga akan dinobatkan sebagai pendeta. Jika hendak menanggalkan budi buruk, ada yang harus diperhatikan oleh raja demi belajar kalepasan: bangga [sombong], kuhaka [tidak sopan], paradara [zinah], caracara mareda [kebiasaan moral], dremba [serakah], moha [bingung], lobha [tamak], damacreyan [pengendalian diri], tresna gang [tangkai ikatan], sungsut [marah]. Semua itulah yang mesti diperhatikan oleh Airlangga. Semuanya berpusat pada pikiran dan perilaku yang baik. Inilah susila, inilah etika. Jelaslah mengapa ada yang mengatakan jika ingin belajar kalepasan, tamatkan dulu pelajaran moral, susila.

Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh Airlangga jika ingin belajar kepada Baradah? Jumlahnya disebut Pirak Sabuwana. Pirak Sabuwana berarti perak sedunia. Juga disebut dengan istilah Pongkab Sabda. Pongkab Sabda berarti pembuka suara, maksudnya pembuka ucapan.

Pongkab Sabda ini terdiri dari nista [kecil], madya [menengah] dan utama. Sepaha [1.600] adalah nista. Patang iwu [4.000] adalah madya. Walung iwu [8.000] adalah utama. Yang paling utama dari yang utama adalah walung laksa [80.000]. Tapi, menurut Baradah meskipun tanpa Pirak Sabuwana itu pun, Airlangga bisa belajar. Caranya adalah dengan memiliki kesungguhan belajar, tidak pernah merasa bosan dan lelah, jika disuruh oleh guru pasti dilakukan, dan tidak membantah perintah. Siswa yang memiliki klasifikasi itulah yang disebut siswa utama.

Menurut tradisi, murid yang baik adalah murid yang tidak melawan perkataan guru. Murid itu pun harus memiliki kesungguhan belajar. Kesungguhan belajar bisa dicek lewat keseharian. Apakah murid-murid itu sudah tepat waktu? Sudahkan mereka belajar menjaga susila? Jika memang betul seorang murid diperiksa oleh gurunya, di dunia ini tidak akan ada murid yang dengan mudah melewati beraneka rangkaian ujian.

Hubungan guru dan murid dalam konteks ini adalah hubungan guru-murid spiritual. Jika ada suatu kaum spiritual yang murid-muridnya bertindak amoral, artinya ia tidak benar-benar melewati ujian ketat gurunya. Pada akhirnya, gurunyalah yang harus diperiksa. Caranya memeriksa, salah satunya dengan membandingkan apa yang ditulis dalam sumber-sumber sastra dengan perilakunya. Tapi, apakah seluruh garis perguruan spiritual di dunia ini memiliki sumber yang jelas?

Mari kita tinggalkan sejenak pertanyaan tadi. Sekarang kita baca lagi, apa yang dilakukan oleh Airlangga ketika diberitahu perihal syarat-syarat menjadi murid. Ternyata Airlangga memutuskan, “hamba akan membayar sebanyak 8.000 Tuanku.” Sudah diputuskan, bahwa Airlangga yang konon menguasai Nusantara itu akan membayar 8.000 perak kepada Baradah.

Baradah lalu mengajarkan Airlangga tentang bunga [tingkah ikang puspa], katanya “Bukan beringin yang paling sakti. Susun 27 sirih dan oles dengan kapur. Letakkan pada sangku [mangkuk] emas. Di puncaknya isi permata mirah, lengkapi dengan sekar ura [bunga taburan] emas, dan perak yang bersinar lembut. Tempa agar tipis lalu potong, bijinya adalah mirah seadanya.”

Itulah yang disiapkan oleh raja, tujuannya agar semua orang di dunia tunduk di hadapannya. Saya tidak menemukan petunjuk apapun untuk menjelaskan perlengkapan upacara ini. Saya juga tidak ingin berasumsi bahwa pada masa teks Calon Arang ditulis, ada praktik-praktik mistik yang dilakukan oleh raja demi tunduknya musuh dan rakyat.

Di dalam tradisi Bali, saya hanya pernah mendengar bahwa memang ada suatu ritual yang bisa dilakukan agar orang-orang terkagum-kagum, tertunduk-tunduk. Ilmunya konon disebut panangkeb. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan kepada para praktisi. Saran saya, jangan tanyakan pada yang pura-pura praktisi.

Raja Airlangga tidak sendiri disucikan, tapi beserta permaisuri yang tidak disebutkan namanya. Dalam proses penyucian itu, konon para Rsi dari langit juga datang untuk menyaksikan peristiwa bersejarah itu. Airlangga, raja gagah perkasa yang konon menjadi pelindung Mpu Kanwa kini disucikan oleh Mpu Baradah.

Baradah meminta raja untuk mendekat, lalu berkata “Aku belum melakukan puja homa [angomani] padamu sampai aku sedepi basaja.” Sedep berarti menyenangkan terkait bau, rasa atau perilaku sopan santun. Basaja berarti alami, polos, sederhana, jujur, tulus. Sedepi basaja berarti menyenangi kesederhanaan. Mpu Baradah menyenangi kesederhanaan, kejujuran, ketulusan yang ditunjukkan oleh Airlangga. Karena itu pula dengan senang hati Baradah memberi gelar pada Airlangga sebagai Jatiningrat.

Upacara dilanjutkan dengan memindahkan bunga yang telah disiapkan tadi. Bunga-bunga itu didasari dengan emas lalu kengsar tiga kali. Kengsar diterjemahkan menjadi ‘digetarkan’. Barangkali maksudnya disentuh-sentuhkan sebanyak tiga kali pada bagian tubuh Airlangga dan permaisurinya. Prosesi menyentuh-nyentuhkan peralatan upacara masih bisa ditemukan dalam ritual pabayuhan atau ngotonin dalam tradisi Bali. Fungsinya memang sebagai ritual penyucian.

Airlangga lalu diajarkan tentang kelahiran [dumadi] dan tidak dilahirkan [tan daden]. Sayangnya ajaran ini tidak dijelaskan secara terperinci dalam teks Calon Arang. Airlangga juga diajarkan cara bertapa di kerajaan [atapeng rajya] dan bertapa di hutan gunung [atapeng giri wana]. Dua jenis cara bertapa ini juga tidak dijelaskan lebih lanjut oleh pencerita, mungkin karena bersifat teknis. Ajaran-ajaran yang tidak dijelaskan dalam teks, barangkali bisa kita cari dalam teks lain.

Baradah juga mengajarkan tentang Catur Asrama: Agrahastana, Awanapastra, Abiksukana, Brahmacarina. Menurut teks Calon Arang, masing-masing bagian dari Catur Asrama memiliki pengertian. Pengertiannya adalah sebagai berikut.

Agrahastana artinya wiku [pendeta] yang menikah, memiliki anak serta cucu. Awanapastra artinya yang menyepi [adukuh] di hutan. Adukuh dalam hal ini berarti melakukan kerja atau kegiatan sebagai dukuh. Dukuh berarti orang yang menyepi di hutan. Dalam teks Calon Arang, orang yang menjalankan Wanaprasta [Dukuh] adalah orang yang ‘maryamangan yan tan olihnya angrenggut suket godong kanang dukuhnya’ [tidak lagi makan jika tidak didapatnya memetik daun semak di padukuhannya].

Artinya, orang yang menjalankan janji diri [brata] sebagai Dukuh, menurut teks Calon Arang menjauh dan menyepi ke tempat sepi. Ia akan berhenti makan, jika seluruh dedaunan dan semak-semak yang ada di padukuhannya sudah tidak ada lagi. Lebih tegas lagi, teks Calon Arang menyatakan ‘matya uripa, tan kencak pwa ya sakeng sana’ [saat mati atau hidup, tidak pindah dari tempatnya]. Dukuh berarti pendeta yang menyerahkan dirinya kepada semesta.

Tempat yang layak menjadi padukuhan menurut teks Sewasasana adalah hutan. Tetapi bukan sembarang hutan yang boleh dijadikan padukuhan. Idealnya, padukuhan dibangun dengan syarat ‘lamun alas wus ?inukuhan de ning wong len, haywandukuhi’ [jika hutan yang telah dihuni [dinukuhan] oleh orang lain, jangan ditempati]. Memang sulit. Justru karena sulit, hal itu disebut brata. Tidak ada brata yang mudah dilakukan. Yang mudah, hanya mengatakan.

Abiksukana artinya pendeta yang menikmati kesejahteraan [mahapandita mukti]. Ia boleh membunuh [wenang amatyani]. Boleh memiliki pelayan secukupnya [wenang adrewya kawula]. Boleh beristri dan berhubungan seksual [mapatni majajamaha]. Pendeta yang demikian tidak boleh dihukum oleh raja, sebab memang ada aturannya demikian. Pendeta jenis ini tampaknya diberikan kebebasan dalam artian yang luas. Teks Calon Arang, tidak menjelaskan syarat bagi seseorang yang ingin menjalankan brata sebagai pendeta abiksukana. Tidak dijelaskan, bukan berarti tidak ada.

Brahmacarina, dapat dibagi menjadi empat jenis. Pertama, Suklabrahmacari berarti anak yang Lebu Guntung. Lebu Guntung berarti belum tahu rasa nasi dan daging, belum tahu rasa berhubungan suami istri. Anak Lebu Guntung ini belajar tentang ajaran sedari kecil, itulah Suklabrahmacari.

Kedua, Tan Tresnabrahmacari berarti orang yang dahulu memiliki pikiran sombong, tidak sopan, lalu mendapatkan ajaran kebaikan [warah ayu], merasakan rasa sekecap dua kecap, karena itu dirasa penuh olehnya. Karena rasa yang utama itu telah dirasakannya, ia memutuskan untuk meninggalkan asalnya, juga meninggalkan anak-istri tanpa sebab, lalu ia belajar sungguh-sungguh tentang ajaran. Tan Tresna berarti tidak terikat.

Ketiga, Sawalabrahmacari artinya jalan yang ditempuh oleh orang yang berselisih paham dengan pasangannya. Ia dikalahkan dan merasa malu jika mengadu kepada tuannya. Tetapi tidak dibenarkan jika malu, lalu ia belajar sungguh-sungguh.

Brahmacari Temen, artinya sang wiku yang memahami seluruh rasa. Ia juga paham jalan keluar masuk di dunia. Intinya, segala ajaran telah berhasil dipahaminya. Begitu juga dengan hakikat Darma.

Keempat tahapan hidup menurut teks Calon Arang, dijalani oleh orang yang disebut sebagai wiku. Seorang wiku adalah seorang pendeta. Teks Calon Arang pada bagian ini sedang menjelaskan tentang aturan-aturan yang mestinya dipelajari oleh pendeta. Jika semua aturan ini dipelajari oleh pendeta dan calon-calon pendeta, entah bagaimana jadinya.

Saya meyakini, dalam satu garis perguruan kependetaan ada aturan-aturan yang sudah ditetapkan, disepakati dan dijalani. Aturan-aturan semacam itu mestinya ditulis dalam sebuah sasana. Jadi akan ada rujukan tekstual yang bisa dijadikan pedoman dalam dunia kependetaan. Dengan begitu, yang menjadi pendeta memang orang-orang terpilih dan mampu menjadi mataharinya dunia. Bukankah tujuan menjadi pendeta adalah untuk mencapai pencerahan? Bukankah kecerahan itulah yang disebut sebagai Widya? Bukankah Widya adalah terjemahan untuk pengetahuan? Menjadi pendeta berarti membadankan pengetahuan.

Setelah upacara selesai, Baradah hendak kembali ke pertapaannya di Lemah Tulis. Airlangga menghaturkan biaya belajar, tapi tidak sesuai dengan janjinya. Airlangga mempersembahkan 50.000 yatra, 50 pakaian lengkap, emas, permata, juga pengikut di antaranya: pekerja sawah 100 orang, pemahat 100 orang, kerbau, sapi.

Apa yang dimaksud dengan kawula [pengikut] oleh teks Calon Arang? Apakah budak? Perbudakankah?

Calon Arang dan Hal-hal Mistis yang Belum Diungkap #5