• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Buku

Buku-Buku Penuh Warna agar Anak Rajin Membaca

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
6 January 2016
in Buku, Kabar Baru
0
1

Buku anak-anak

Salah satu malasah warga Indonesia adalah kurang membaca tapi banyak komentar.

Begitu komentar salah seorang pengguna internet (netizen). Anggapan itu ada benarnya. Bacaan di Indonesia, termasuk untuk anak-anak memang kurang.

Sejumlah guru mengakui minat baca sangat didorong bahan bacaan. Karena itu, mereka mendorong diskusi antar guru dan murid. Mereka juga membuat buku-buku bacaan.

Upaya membuat buku bacaan anak itu difasilitasi Yayasan Literasi Anak Indonesia (Indonesian Children’s Literacy Foundation). Enam buku ini diluncurkan pada 11 Desember lalu di Taman Baca Kesiman, Denpasar.

Kusumadewi Yuliani dan Anna Triana pembuat buku berjudul Lautkah Ini? Buku ini mengisahkan siklus air dari uap menjadi titik hujan, mengalir di sejumlah saluran air, hingga menjadi uap lagi.

Mereka intens berdiskusi tentang buku mereka. Keduanya membahas bagaimana respon anak-anak setelah buku ini diujicobakan di sekolah.

“Anak-anak sangat senang gambar ini. Mereka langsung tahu apa itu uap air,” kata Kusumadewi, penulis cerita.

Uap air dalam bukuterlihat hidup dan memperlihatkan ekspresinya ketika harus berubah wujud dan menjadi awan.

Keduanya tertawa senang sambil membolak balik tiap lembar buku berwarna itu. Kusumadewi guru di Sekolah Dyatmika, Denpasar. Ia membuat cerita lalu direspon Anna dalam bentuk buku bergambar yang menarik.

Hal menarik di buku ini adalah ilustrasinya yang mengadopsi desain batik. Figur tumbuhan dan ekosistem digambar tidak realis namun dari garis-garis dan motif batik.

Anna, mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memang menyebut terinspirasi batik Indonesia dalam berkarya. Dia menggunakan teknik dalam buku Lautkah Ini?

“Saya selalu bertanya pada anak apakah dia bisa menebak ini apa dan ini asyik didiskusikan oleh mereka,” lanjut Kusumadewi lagi soal ilustrasi buku mereka.

“Awalnya saya takut jika menyederhanakan bentuk. Biarkan saja mengapresiasi,” seru Anna.

Keduanya juga mendiskusikan bagaimana anak merespon warna awan yang berbeda seperti gelap, agak terang, dan lainnya. “Ini awan mau hujan,” terang Kusumadewi meniru ucapan anak didiknya.

Ia terlihat sangat senang, bukunya bisa menjadi bahan diskusi yang asyik di kalangan siswanya.

Judul buku lain yang diluncurkan berjudul Raka Bangga karya Ayu Sugati dan Diani Apsari tentang belajar surfing, Waktunya Cepuk Terbang oleh Debby Lukito dan Jackson, Karang Gigi untuk Makiki oleh Aini Abdul dan Fanny Santoso, serta Jana tak Mau Tidur karya Eka Yuliati dan Chike Tania.

Buku anak beda isi tiap level

Dalam peluncuran buku juga diperlihatkan sejumlah buku lain yang dibuat untuk merangsang minat baca anak. Ada enam seri buku untuk berlatih membaca, tiap level dibedakan dari warna cover yakni merah, hijau, biru, coklat, kuning, dan abu. Tiap level masing-masing berisi lima cerita pendek dengan gambarnya.

Tiap halaman hanya berisi gambar dan satu kalimat. “Sulit sekali mencari buku seperti ini dalam bahasa Indonesia. Kebanyakan buku cerita padahal saat belajar baca anak-anak tak bisa menggunakan banyak kalimat,” jelas Kusumadewi.

Intinya, anak senang diapresiasi jika berhasil membaca satu kata kemudian satu kalimat. Ini untuk membuat mereka nyaman dengan aktivitas membaca.

Sonia Piscayanti, dosen Universitas Ganesha di Singaraja juga hadir bersama sejumlah mahasiswanya yang belajar children literacy. Sonia memperlihatkan sejumlah buku anak karya mahasiswanya. “Mereka menulis dan menggambar ilustrasinya. Jadi mungkin masih mentah gambarnya,” kata Sonia.

Ia mengatakan literasi anak harus terus dikembangkan. Karena itu ia selalu menantang mahasiswanya membuat buku anak yang menarik.

Yayasan literasi Anak Indonesia dan Room to Read bekerja sama mempromosikan literasi melalui penerbitan buku anak dalam bahasa Indonesia. Tujuannya prakonvensi mengajarkan strategi memahami buku seperti memperkirakan, mempertanyakan, meringkas, visualisasi dan mengklarifikasi.

Eka Yuliati, salah satu pelatih dari Yayasan Literasi Anak Indonesia ini mengatakan pihaknya sudah membuat lebih dari 50 judul buku dan menargetkan 19 sekolah di Badung sebagai pilot project.

“Ini bagian dari mendukung kurikulum wajib membaca 15 menit per hari tiap anak di sekolah,” katanya.

Selain itu mendorong program literasi anak yang melibatkan guru dalam pengembangan strategi. “Menurut riset banyak anak bisa baca tapi gak paham,” kata Yuli soal anak Indonesia. [b]

Tags: AnakBukuPendidikan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

There Is ‘Book’ in ‘Bukit’: Library Movement from Jimbaran

28 May 2025

Produktif Berkarya selama Magang di BaleBengong

15 May 2021
Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

Lentera Peradaban: Gerakan Kecil di Tengah Gemerlap Kota Denpasar

1 February 2021
SMK Penerbangan Cakra Nusantara Ikuti Program Kepala Sekolah CEO

SMK Penerbangan Cakra Nusantara Ikuti Program Kepala Sekolah CEO

31 December 2020
Revolusi Hijau, Menjerat Petani dengan Racun

Saya pun Bermimpi Menjadi Raja di Pulau Mancawarna

30 October 2020
Next Post
Mencari Capung Terakhir

Di Balik Citra Pulau Wisata Terbaik Dunia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia