• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Berplesir Denpasar dengan Dokar

Astarini Ditha by Astarini Ditha
26 March 2011
in Kabar Baru, Travel
0
0

Teks Astarini Ditha, Foto Ilustrasi I Gusti AM Yogiswara

Ingin mencoba alternatif gaya berlibur berbeda? Bosan dengan ingar bingar Kuta, Sanur, dan lainnya?

Bergegaslah ke kawasan kota tua Gajah Mada. Kawasan heritage, begitu tulisan di prasasti di pertigaan jalan menuju Gajah Mada, Denpasar. Kawasan ini merupakan jantung perniagaan Denpasar yang telah ada bahkan sebelum zaman kolonial. Deretan toko-toko; toko kelontong, toko kain, dan lainnya memadati kiri kanan jalan. Di kawasan ini terdapat dua pasar yang di bawahnya air Sungai Badung mengalir tenang; Pasar Badung dan Pasar Kumbasari.

Bila Anda tidak hanya mencari hiburan dan keramaian, masuklah ke dalam pasar. Barangkali anda bisa sedikit belajar perihal tradisi masyarakat Hindu di Denpasar. Pasar, tempat masyarakat kota Denpasar dan sekitar melebur melakukan aktivitas jual-beli, yang berdenyut 24 jam. Namanya saja pasar. Berbagai macam kebutuhan pokok sehari-hari dan kelengkapan lainnya pastilah dijajakan. Sebagai masyarakat beragama Hindu yang taat, kelengkapan upakara untuk beryadnya bisa dengan mudah didapatkan di sini.

Beranjak sedikit ke arah utara sedikit, di pertigaan jalan menuju Wangaya, di pengkolan persis sebelah timur pura desa Anda masih bisa menemukan dokar. Dokar, ya primadona alat transportasi masyarakat kota Denpasar tahun 1960an. “Dulu, sekitar 1960an orang-orang kalau pergi ke mana-mana pakai dokar,” cetus Nengah Purna kusir dokar yang biasa mangkal di sudut itu.

Jika ingin berkeliling di beberapa ruas jalan di Kota Denpasar dengan menaiki dokar, cukup dengan biaya sekitar Rp 30.000 -Rp 50.000.

Meskipun masa keemasannya di dekade 1960an, dokar masih hidup sebagai menjadi saksi sejarah hingga kini. Dia bertahan di antara desakan alat-alat transportasi yang residunya berlomba-lomba memadati ruang udara Kota Denpasar dengan polusi. Nengah mengeluh betapa sepinya penumpang dokar. “Dokar mangkin ampun bedik, misip adeng-adeng tastas sekebesik,” ujar Nengah. Artinya, dokar sekarang jumlahnya sudah sedikit, mungkin nanti pelan-pelan akan habis juga.

Menurut Nengah dokar yang masih bertahan di Denpasar tak kurang dari 25 buah. Jauh berbeda dengan beberapa dasawarsa sebelumnya yang mencapai ratusan lebih. Dokar di ambang punah! Begitu yang tercetus di pikiran. Maka, bak turis mancanegara saya berkeliling ke sejumlah tempat yang dideklarasikan sebagai obyek wisata kota Denpasar oleh Pemerintah Kota (Pemkot).

Cericit Burung
Dengan perasaan agak canggung, basa-basi dengan Pak Nengah cukup melumerkan rasa asing. “Anak-anak muda sekarang biasanya gengsi, malu kalau naik dokar,” ujarnya. Betul saja, keasingan mencuat manakala para pengendara motor memandangi kami.

Kuda yang dilecut sang kusir berkali-kali, perlahan-perlahan menembus kepadatan jalan-jalan Denpasar. Dokar ini melaju di antara lalu lalang kendaraan-kendaraan bermesin modern melewati beberapa tempat. Catur Muka, patung Brahma berkepala empat, berdiri kokoh di perempatan jalan; Jalan Gajah Mada, Jalan Veteran, Jalan Surapati, dan Jalan Udayana. Patung ini amat akrab dengan warga Denpasar. Dia menjadi ikon kota ini.

Bunyi derap kaki-kaki kuda yang meminjam lirik lagu kanak-kanak, tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk, berbelok di jalan Kaliasem sebelah utara lapangan Puputan, mengajak untuk mampir ke Pasar Burung Satria. Sebelum berbelok di seberang lapangan, di kiri jalan terdapat Gedung Widya Sabha, rumah dinas Gubernur Bali. Konon tempat ini termasuk juga dalam kawasan Puri Agung Denpasar di era kerajaan tempo dulu. Perlahan pak kusir mengarahkan kudanya menuju Pasar Burung Satria.

Pasar Burung Satria merupakan salah satu obyek wisata kota Denpasar. Di pasar ini ada pelbagai jenis burung dan berbagai hewan. Burung-burung yang paling banyak ditemui adalah jenis burung dara, tekukur, kacer, gelatik, sri gunting, dan beberapa jenis unggas lain dari daerah lain, semisal ayam khas Jawa Barat. Suara beberapa cericit burung berbagi riuh dengan suara pembeli-penjual.

Pasar Burung di Denpasar ada dua, di Pasar Burung Satria dan di Sanglah. “Dulu kan jualan burung di Sanglah. Lama-lama kami dipindah ke sini,” jelas Ali lelaki keturunan Cina pedagang barang-barang antik, batu akik yang telah berjualan di Pasar Burung Satria sejak tahun 1997.

Karena dianggap tempatnya strategis, dibangunlah Pasar Burung di sana. “Mungkin, ya, dulu itu tempat orang megecel, matajen, sabung ayam, sehingga ramai di sana. Di sana khan juga dulu lapangan, dekat puri,” jelas Aridus Jiro salah seorang tokoh masyarakat kota Denpasar.

Kalau Yogyakarta punya Pasar Burung Ngasem, maka Denpasar juga punya Pasar Burung Satria. Keduanya, sama-sama terletak dekat dengan kawasan kediaman raja. Pasar Burung Satria yang konon juga termasuk dalam areal halaman Puri Agung Denpasar tempo dulu, menyisakan beberapa potong sejarah. Pohon beringin tumbuh menjulang di belakang pasar di dekat pura. Sedang di sebelahnya sebuah puri peninggalan kerajaan juga terdapat di areal tersebut.

Meski menguarkan bau kurang sedap, kios-kios ini tetap saja ada yang menyinggahi. Salah satunya pedagang asal Jember yang sejak tiga tahun lalu berjualan di sana membantu kakaknya, Herman. Dia tampak telaten membersihkan kandang-kandang ayam yang dipamerkan bak manekin di etalase sebuah toko. Tak hanya unggas, monyet, musang juga dijual di sana. “Harganya Rp 350.000,” ujar pemilik toko dengan mimik agak dingin merujuk pada harga seekor monyet dan musang.

Di seberang toko, tampak lelaki berkulit legam dan memakai topi sejenis peci berwarna putih menjajakan burung gagak. Warnanya hitam pekat, paruhnya amat runcing. “Ayo, mbak. Silakan ditawar,” ujarnya setengah menyeringai.

Cericit burung yang dipasung di sangkar-sangkar dan ekspresi murung satwa-satwa yang dirantai seperti menjerit ingin dilepas. Tapi transaksi harus tetap jalan. Orang-orang ada yang pulang dengan seekor burung tekukur di tangan, sejumlah tikus putih di dalam kantong kertas, beberapa ekor anak ayam. Ada juga yang membeli sangkar-sangkar baru untuk burung kesayangannya.

Merasa asing
Dokar masih terparkir di Pasar Burung Satria. Cerita belum usai.

Tak hanya menjual satwa dan sangkarnya, di Pasar Burung Satria ada juga yang menjual benda-benda antik dan batu akik. Mister Han, begitu ia mengenalkan namanya, misalnya. Mantan seniman ini mengaku telah lama menekuni usaha jual beli benda-benda antik dan batu akik. Sejumlah dagangan digelar di sebuah meja. Tanpa keberatan ia mengenalkan dengan detil hampir semua barang dagangannya. Sejumlah batu dengan corak yang beragam, dikenalkan olehnya, semisal batu obsidian. “Ini coba lihat, ini pahatannya mirip manusia. Yang ini mirip kodok, coba lihat itu ada matanya,” beber lelaki nyentrik yang mengaku berhubungan darah dengan penerus kerajaan Majapahit.

Di sisi meja yang lain, Mister Han juga menjajakan sejumlah batang-batang pohon yang dipercaya memiliki kekuatan. Ada beragam bentuk batang pohon. “Ini fungsinya buat jaga rumah, kalau yang ini ditaruh di tas untuk pengasih-asih,” ujarnya merujuk pada sebatang pohon damar dengan akar tiga dan sebatang pohon bambu dengan ruas yang berhadapan sejajar. Percakapan dengan  Mister Han kemudian segera berakhir. Roda dokar kembali berputar perlahan meninggalkan keramaian Pasar Burung.

Nengah, pria baya berumur lebih dari 70 tahunan, ini kembali melecut kudanya. Perjalanan kembali berlanjut, membelah kepadatan Jalan Pattimura, Jalan Melati, Jalan Surapati belok di Jalan Mayor Wisnu.

Di kawasan ini terdapat dua situs yang juga dijadikan obyek wisata, pura Jagatnatha dan Museum Bali. Suasana di tempat tersebut cukup teduh dengan pohon-pohon besarnya yang rindang. Sementara di lapangan segerombolan anak-anak, muda-dewasa, bermain sepak bola. Obyek wisata seperti ini biasanya tak lepas dari kehadiran pedagang makanan kecil yang menyebar di beberapa sudut lapangan.

Perjalanan dilanjutkan menuju jalan Sulawesi, kawasan perniagaan kain terkenal di Denpasar. “Wah kalau ini memang sudah terkenal dari zaman Belanda,” tukas bapak berputra tiga ini.

Menurutnya, aktivitas perniagaan kain di kawasan ini dulu dibawa oleh orang-orang Arab. Beraneka jenis kain yang dijual di kawasan padat ini. Toko-toko kain saling berdampingan berbagi pembeli.

Hari telah senja, beberapa toko mulai tutup. Orang-orang beranjak pulang, sama seperti Nengah yang harus pulang, mengistirahatkan kudanya agar esok bisa dibawa mengantar penumpang berkeliling atau sekadar mengantarkan beberapa pembeli dari Pasar pulang ke rumah. Dokar, dokar riwayatmu kini.

Seperti tuan rumah yang merasa asing di tengah perubahan dalam rumahnya sendiri, barangkali seperti itulah kehadiran dokar. [b]

Foto diambil dari blog I Gusti Ag Md Yogiswara.

Tags: DenpasarTravelWisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Astarini Ditha

Astarini Ditha

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Desa di Bali Menuju Kemandirian Energi

Desa di Bali Menuju Kemandirian Energi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia