• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, December 8, 2025
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Desa di Bali Menuju Kemandirian Energi

Anton Muhajir by Anton Muhajir
27 March 2011
in Kabar Baru, Lingkungan, Teknologi
0 0
0

Teks dan Foto Ni Nyoman Ramiati

Melalui pengolahan limbah ternak menjadi biogas rumah, sejumlah desa di Bali bersiap menuju kemandirian energi.

Warga Banjar Penyabangan, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Gianyar salah satu contohnya. Sebanyak 44 rumah di banjar ini telah beralih menggunakan biru sehingga tidak tergantung pada energi dari LPG.

Ni Made Bondol, 75 tahun, merupakan salah satu warga Banjar Penyabangan yang sekarang beralih menggunakan bahan bakar biogas rumah dari semula memakai gas LPG atau kayu bakar. Sejak empat bulan lalu, nenek lima cucu ini menggunakan biogas rumah yang diolah dari kotoran sapi miliknya.

Sumber utama biogas rumah milik Bondol tersebut berasal dari digester di samping kandang berjarak sekitar 10 meter di depan rumahnya. Tiap hari digester berbentuk kubah (fix dome) berukuran 9 meter kubik tersebut menampung sekitar 40 kg kotoran dari 8 ekor sapi miliknya. Setelah diolah, kotoran hewan tersebut dialirkan melalui pipa ke dapur rumah di mana Bondol memasak dua kali setiap hari.

Setelah diambil gasnya, kotoran sapi tersebut dialirkan ke tempat lain dan siap digunakan sebagai pupuk organik. Nyoman Suwena, cucu Bondol, menggunakan pupuk organik tersebut untuk menyuburkan tanamannya, seperti jeruk, pepaya, dan lain-lain di sekitar 1 hektar lahan kebunnya. “Hasilnya sama subur dan banyaknya. Tapi, saya bisa lebih hemat karena tidak lagi perlu beli pupuk kimia,” kata Suwena.

Suwena biasa membeli pupuk kimia antara 5 – 8 sak tiap 5 bulan sekali untuk menyuburkan tanamannya. Harganya sekitar Rp 100.000 per sak. “Sekarang saya tinggal mengambil pupuk sendiri kapan pun saya mau,” tambahnya.

Penggunaan biogas rumah oleh warga Penyabangan terjadi seiring masuknya program Biogas Rumah (BIRU), kerjasama Pemerintah Indonesia dan Belanda. Program yang diinisiasi Hivos dan didanai Pemerintah Belanda ini dimulai pada Mei 2009. Tujuannya untuk menciptakan sumber energi baru terbarukan ramah lingkungan dan berkelanjutan di Indonesia.

Program BIRU mulai berkembang di Lombok, NTB sejak Juli 2010 dan Bali sejak Sepember 2010. Di Bali, selain di Gianyar, biogas rumah juga dilakukan di Bangli, Buleleng, Tabanan, Badung dan Klungkung. Hingga akhir Maret 2011 ini, terdapat 58 keluarga di Bali yang sudah membangun dan memanfaatkan biogas rumah dari limbah ternak, baik sapi, babi maupun ayam, untuk kebutuhan rumah tangga.

I Gede Suarja, Koordinator BIRU Wilayah Lombok dan Bali mengatakan Indonesia, termasuk Bali sebenarnya memiliki potensi sumber energi biogas, sebagai energi terbarukan, sangat besar. Sebagian besar keluarga petani memelihara hewan ternak, seperti sapi, ayam, maupun babi yang menghasilkan kotoran sebagai sumber energi biogas. Sebagai ilustrasi, keluarga petani di Bali rata-rata memiliki 2-3 ekor sapi dan 4-5 ekor babi, cukup untuk menghasilkan kotoran yang dibutuhkan untuk biogas.

Namun, menurut Suarja, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal, meski harga bahan bakar minyak terus naik akibat ketergantungan tinggi pada bahan bakar minyak. “BIRU bisa menjadi salah satu solusi tepat untuk menjawab kebutuhan energi alternatif bagi rumah tangga di Indonesia, khususnya Bali,” katanya.

Untuk wilayah Bali, Suarja menambahkan, program BIRU menargetkan membangun reaktor biogas rumah ini sebanyak 500 – 600 unit hingga tahun 2012. “Program ini sesuai dengan misi Bali menuju provinsi green and clean dan Bali pulau organik,” tambahnya.

Program BIRU di Bali dilakukan bekerjasama dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal, sebagai lembaga mitra pembangun (Construction Partner Organization – CPO).  Lembaga mitra lokal bertanggungjawab mengoorganisir para tukang lokal untuk dilatih oleh tim BIRU menjadi tenaga tukang biogas bersertifkat sesuai standar BIRU. Untuk wilayah Bali, CPO BIRU antara lain Yayasan Bali Organic Association (BOA), Yayasan Manikaya Kauci (YMK), Yayasan IDEP Selaras Alam, dan Yayasan Sunari.

Lembaga mitra lokal ini kemudian bekerjasama dengan warga-warga masyarakat (pemilik ternak) di pedesaan yang berminat membangun reaktor biogas rumah, termasuk warga di Penyabangan.

Nyoman Suardana, Sekretaris Desa Kerta, menyatakan melalui program BIRU, warganya kini bisa memenuhi kebutuhan energi gas dan pupuk organiknya sendiri. “Kami akan menambah terus jumlah warga pengguna biogas rumah agar kami bisa memenuhi kebutuhan energi dan pupuk sendiri,” ujarnya. [b]

Tags: GianyarLingkunganLSMPertanianTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Memanen Air Hujan dan Biogas, Teknologi Tepat Guna bagi Petani Bali yang Terabaikan

Ketimpangan Sumber Daya di Balik Krisis Air Tanah Bali

12 November 2025
Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

Ketika Pulau Menghangat: Urban Heat Island di Pulau Bali

3 November 2025
Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

Adakah Sistem Peringatan Dini Banjir di Bali? Ini Simulasinya

18 October 2025
Next Post
Terima kasih Dukungannya, Sanak Dunia Maya

Terima kasih Dukungannya, Sanak Dunia Maya

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

Beternak Babi untuk Menyelamatkan Puluhan Anjing Telantar dan Sakit

7 December 2025
Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

Pusat Pariwisata Global dengan Transportasi Publik Layak

6 December 2025
“Bapak, wait for me…wait for me..!”

Ekonomi Regeneratif: Solusi Kelelahan Ekologis dan Peta Jalan Baru Bali

5 December 2025
Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

Pernak Piknik: Cara Anak Muda Bali Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

4 December 2025
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia