• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Belajar Kepemimpinan dari Megoak-Goakan

Diyana Putra by Diyana Putra
2 October 2025
in Budaya, Opini
1
0
Sumber ilustrasi: Wikibooks.org

Pada fenomena banjir di Bali kemarin, sentimen publik negatif atas statemen dari Gubernur Bali Wayan Koster perihal bencana ekologis itu. Tidak lama kemudian, muncul polemik tentang iuran bertarif ASN untuk korban banjir. Meskipun pemerintah menegaskan bahwa bantuan bersifat sukarela, adanya patokan nominal dan persepsi wajib menimbulkan keraguan publik. 

Dua peristiwa ini sebenarnya mengajarkan hal yang sama, banjir sebagai ujian ekologis dan iuran ASN sebagai ujian etis sama-sama menegaskan betapa pentingnya kita membaca kembali nilai kepemimpinan.

Di tengah riuh kritik itu, saya berkesempatan hadir pada peresmian Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan pada Sabtu, 20 September 2025, bertepatan dengan tumpek landep. Ada hal unik dalam seremoni kali ini. Biasanya acara menyambut Menteri di Bali identik dengan tarian, tetapi kali ini selain tari juga ditampilkan permainan tradisional Megoak-Goakan.

Permainan ini dimainkan oleh anak anak hingga remaja. Ini merupakan permainan berkelompok. Dalam permainan, barisan dibentuk seperti ular panjang, dengan satu orang di depan berperan sebagai kepala (pemimpin). Barisan anggota yang mengular saling berpegangan erat menjaga keutuhan barisan. Kemudian, 1 orang lawan/musuh mencari atau berusaha menangkap anggota barisan yang ada diujung/ekor agar selamat. Ketika musuh bergerak, kepala sigap menghalau. Barisan mengikuti pergerakan kepala, menjaga agar ekor tetap selamat. Kepala dan barisan saling menjaga, saling melengkapi.

Mari kita membaca nilai kepemimpinan dalam permainan ini

Kepala ini harus lincah, cerdas, dan mampu membaca strategi lawan. Kepala goak tidak hanya menggerakkan barisan ke kanan/kiri, tetapi harus punya strategi jangka pendek (menghindar) sekaligus visi jangka panjang (bagaimana memenangkan permainan). Ini menunjukkan nilai kepemimpinan sebagai pelindung, pengarah, dan penjaga integritas kelompok. Seorang pemimpin diuji dalam keputusan cepat dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan bersama, bukan hanya dirinya. kepemimpinan adalah melayani dan melindungi, bukan sekadar memerintah.

Nilai kepemimpinan dalam Megoak-Goakan adalah kepemimpinan yang protektif, strategis, kolektif, dan bertanggung jawab terhadap anggotanya. Pemimpin ideal digambarkan bukan sebagai sosok dominan yang meninggalkan yang lemah, tetapi sebagai pengarah yang menjaga keselamatan bersama melalui koordinasi dan strategi.

Mengutip dari Subakdi (2025)1 Prinsip kepemimpinan kolektif menekankan bahwa kekuatan seorang pemimpin hanya bermakna ketika ia didukung oleh partisipasi dan solidaritas masyarakat. Tanpa dukungan itu, kepemimpinan akan kehilangan legitimasi. Dalam permainan ini, Walaupun kepala goak yang memimpin, kekuatan kelompok sejatinya ada pada kebersamaan. Anggota lain ikut menopang, menyalurkan energi, dan bergerak serempak. Satu kesalahan kecil bisa membuat ekor tertangkap. Maka keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kekompakan mengikuti arahan pemimpin dan kesediaan untuk saling menjaga.

Inilah pelajaran sederhana tapi relevan: di era industrialis dan serba digital, manusia makin sibuk bekerja dan mengejar target. Justru di saat seperti ini, kita butuh kepemimpinan yang melindungi yang lemah dan mengarahkan semua pada kebaikan bersama. Jangan biarkan teknologi dan modernitas menggerus sisi kemanusiaan kita. Saatnya kita kembali belajar dari akar budaya: pemimpin sejati bukanlah yang berkuasa di atas, melainkan yang mampu berjalan bersama, menjaga harmoni, dan memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal di belakang.

1 Subakdi, S. (2025). Kepemimpinan Nusantara: Integrasi Nilai Lokal dalam Praktik Kepemimpinan Kontemporer. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(1), 834-849.

Tags: banjir balimegoak-goakanOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Diyana Putra

Diyana Putra

Pencinta cerita, alam dan layar

Related Posts

Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Sambah Ayunan, Bermain Bersama Mencegah Bala

Patriarki Sebagai Bentuk Ketidakadilan: Patriarki Nggak?

18 December 2025
Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

Data-Driven Marketing vs Feeling-Driven Decisions: Kesenjangan Praktik Pengambilan Keputusan di Perusahaan

17 December 2025
Cukupkah Bisnis Online Hanya dengan Website?

Generasi Check Out : Jerat Konstruksi Pasar

11 December 2025
Tujuh Langkah Mitigasi Jika Gunung Agung Erupsi

Media Sosial yang Berisik, Kita yang Beraksi

9 December 2025
Next Post
Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Keresahan dalam Selimut Rust en Orde

9 January 2026
Menelusuri DAS Tukad Badung, Sungai Tengah Kota yang Terbengkalai

Tumpang Tindih Tata Kelola Air di Bali

9 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia