
Pada fenomena banjir di Bali kemarin, sentimen publik negatif atas statemen dari Gubernur Bali Wayan Koster perihal bencana ekologis itu. Tidak lama kemudian, muncul polemik tentang iuran bertarif ASN untuk korban banjir. Meskipun pemerintah menegaskan bahwa bantuan bersifat sukarela, adanya patokan nominal dan persepsi wajib menimbulkan keraguan publik.
Dua peristiwa ini sebenarnya mengajarkan hal yang sama, banjir sebagai ujian ekologis dan iuran ASN sebagai ujian etis sama-sama menegaskan betapa pentingnya kita membaca kembali nilai kepemimpinan.
Di tengah riuh kritik itu, saya berkesempatan hadir pada peresmian Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan pada Sabtu, 20 September 2025, bertepatan dengan tumpek landep. Ada hal unik dalam seremoni kali ini. Biasanya acara menyambut Menteri di Bali identik dengan tarian, tetapi kali ini selain tari juga ditampilkan permainan tradisional Megoak-Goakan.
Permainan ini dimainkan oleh anak anak hingga remaja. Ini merupakan permainan berkelompok. Dalam permainan, barisan dibentuk seperti ular panjang, dengan satu orang di depan berperan sebagai kepala (pemimpin). Barisan anggota yang mengular saling berpegangan erat menjaga keutuhan barisan. Kemudian, 1 orang lawan/musuh mencari atau berusaha menangkap anggota barisan yang ada diujung/ekor agar selamat. Ketika musuh bergerak, kepala sigap menghalau. Barisan mengikuti pergerakan kepala, menjaga agar ekor tetap selamat. Kepala dan barisan saling menjaga, saling melengkapi.
Mari kita membaca nilai kepemimpinan dalam permainan ini
Kepala ini harus lincah, cerdas, dan mampu membaca strategi lawan. Kepala goak tidak hanya menggerakkan barisan ke kanan/kiri, tetapi harus punya strategi jangka pendek (menghindar) sekaligus visi jangka panjang (bagaimana memenangkan permainan). Ini menunjukkan nilai kepemimpinan sebagai pelindung, pengarah, dan penjaga integritas kelompok. Seorang pemimpin diuji dalam keputusan cepat dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan bersama, bukan hanya dirinya. kepemimpinan adalah melayani dan melindungi, bukan sekadar memerintah.
Nilai kepemimpinan dalam Megoak-Goakan adalah kepemimpinan yang protektif, strategis, kolektif, dan bertanggung jawab terhadap anggotanya. Pemimpin ideal digambarkan bukan sebagai sosok dominan yang meninggalkan yang lemah, tetapi sebagai pengarah yang menjaga keselamatan bersama melalui koordinasi dan strategi.
Mengutip dari Subakdi (2025)1 Prinsip kepemimpinan kolektif menekankan bahwa kekuatan seorang pemimpin hanya bermakna ketika ia didukung oleh partisipasi dan solidaritas masyarakat. Tanpa dukungan itu, kepemimpinan akan kehilangan legitimasi. Dalam permainan ini, Walaupun kepala goak yang memimpin, kekuatan kelompok sejatinya ada pada kebersamaan. Anggota lain ikut menopang, menyalurkan energi, dan bergerak serempak. Satu kesalahan kecil bisa membuat ekor tertangkap. Maka keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kekompakan mengikuti arahan pemimpin dan kesediaan untuk saling menjaga.
Inilah pelajaran sederhana tapi relevan: di era industrialis dan serba digital, manusia makin sibuk bekerja dan mengejar target. Justru di saat seperti ini, kita butuh kepemimpinan yang melindungi yang lemah dan mengarahkan semua pada kebaikan bersama. Jangan biarkan teknologi dan modernitas menggerus sisi kemanusiaan kita. Saatnya kita kembali belajar dari akar budaya: pemimpin sejati bukanlah yang berkuasa di atas, melainkan yang mampu berjalan bersama, menjaga harmoni, dan memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal di belakang.
1 Subakdi, S. (2025). Kepemimpinan Nusantara: Integrasi Nilai Lokal dalam Praktik Kepemimpinan Kontemporer. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(1), 834-849.









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
