• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, August 29, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Belajar Kepemimpinan dari Megoak-Goakan

Diyana Putra by Diyana Putra
2 October 2025
in Budaya, Opini
1
0
Sumber ilustrasi: Wikibooks.org

Pada fenomena banjir di Bali kemarin, sentimen publik negatif atas statemen dari Gubernur Bali Wayan Koster perihal bencana ekologis itu. Tidak lama kemudian, muncul polemik tentang iuran bertarif ASN untuk korban banjir. Meskipun pemerintah menegaskan bahwa bantuan bersifat sukarela, adanya patokan nominal dan persepsi wajib menimbulkan keraguan publik. 

Dua peristiwa ini sebenarnya mengajarkan hal yang sama, banjir sebagai ujian ekologis dan iuran ASN sebagai ujian etis sama-sama menegaskan betapa pentingnya kita membaca kembali nilai kepemimpinan.

Di tengah riuh kritik itu, saya berkesempatan hadir pada peresmian Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan pada Sabtu, 20 September 2025, bertepatan dengan tumpek landep. Ada hal unik dalam seremoni kali ini. Biasanya acara menyambut Menteri di Bali identik dengan tarian, tetapi kali ini selain tari juga ditampilkan permainan tradisional Megoak-Goakan.

Permainan ini dimainkan oleh anak anak hingga remaja. Ini merupakan permainan berkelompok. Dalam permainan, barisan dibentuk seperti ular panjang, dengan satu orang di depan berperan sebagai kepala (pemimpin). Barisan anggota yang mengular saling berpegangan erat menjaga keutuhan barisan. Kemudian, 1 orang lawan/musuh mencari atau berusaha menangkap anggota barisan yang ada diujung/ekor agar selamat. Ketika musuh bergerak, kepala sigap menghalau. Barisan mengikuti pergerakan kepala, menjaga agar ekor tetap selamat. Kepala dan barisan saling menjaga, saling melengkapi.

Mari kita membaca nilai kepemimpinan dalam permainan ini

Kepala ini harus lincah, cerdas, dan mampu membaca strategi lawan. Kepala goak tidak hanya menggerakkan barisan ke kanan/kiri, tetapi harus punya strategi jangka pendek (menghindar) sekaligus visi jangka panjang (bagaimana memenangkan permainan). Ini menunjukkan nilai kepemimpinan sebagai pelindung, pengarah, dan penjaga integritas kelompok. Seorang pemimpin diuji dalam keputusan cepat dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan bersama, bukan hanya dirinya. kepemimpinan adalah melayani dan melindungi, bukan sekadar memerintah.

Nilai kepemimpinan dalam Megoak-Goakan adalah kepemimpinan yang protektif, strategis, kolektif, dan bertanggung jawab terhadap anggotanya. Pemimpin ideal digambarkan bukan sebagai sosok dominan yang meninggalkan yang lemah, tetapi sebagai pengarah yang menjaga keselamatan bersama melalui koordinasi dan strategi.

Mengutip dari Subakdi (2025)1 Prinsip kepemimpinan kolektif menekankan bahwa kekuatan seorang pemimpin hanya bermakna ketika ia didukung oleh partisipasi dan solidaritas masyarakat. Tanpa dukungan itu, kepemimpinan akan kehilangan legitimasi. Dalam permainan ini, Walaupun kepala goak yang memimpin, kekuatan kelompok sejatinya ada pada kebersamaan. Anggota lain ikut menopang, menyalurkan energi, dan bergerak serempak. Satu kesalahan kecil bisa membuat ekor tertangkap. Maka keberhasilan kelompok tidak hanya ditentukan oleh kekuatan fisik, tetapi oleh kekompakan mengikuti arahan pemimpin dan kesediaan untuk saling menjaga.

Inilah pelajaran sederhana tapi relevan: di era industrialis dan serba digital, manusia makin sibuk bekerja dan mengejar target. Justru di saat seperti ini, kita butuh kepemimpinan yang melindungi yang lemah dan mengarahkan semua pada kebaikan bersama. Jangan biarkan teknologi dan modernitas menggerus sisi kemanusiaan kita. Saatnya kita kembali belajar dari akar budaya: pemimpin sejati bukanlah yang berkuasa di atas, melainkan yang mampu berjalan bersama, menjaga harmoni, dan memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal di belakang.

1 Subakdi, S. (2025). Kepemimpinan Nusantara: Integrasi Nilai Lokal dalam Praktik Kepemimpinan Kontemporer. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora, 4(1), 834-849.

Tags: banjir balimegoak-goakanOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Diyana Putra

Diyana Putra

Pencinta cerita, alam dan layar

Related Posts

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
Apa Kabarmu, Setahun Blabar Bali? Adakah Perbaikan dan Mitigasi?

Apa Kabarmu, Setahun Blabar Bali? Adakah Perbaikan dan Mitigasi?

18 August 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Angka Perceraian bukan untuk Diturunkan, Apa yang Ada di Baliknya?

17 August 2026
Menguji Akses Publik di KEK Kura Kura Bali Hasil Reklamasi Serangan

Menilai Distribusi Ekonomi Mall Baru

10 August 2026
Merayakan Kesenian Tradisi Bali

Internalisasi Nilai “Eda Ngaden Awak Bisa”

30 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Next Post
Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Kata Warga Ubud tentang Kemacetan dan Fasilitas Publik

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

Refleksi Gempa Flores: Sudahkah Bali Siap Menghadapi Ancaman Gempabumi?

29 August 2026
Mau ke Mana Pemulung, Tukang Pilah tak Bergaji di TPA Suwung

Langit Terlihat Biru, tapi Polusi Udara Memburuk

28 August 2026
Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

Setelah 15.000 Mangrove Ditanam, Apakah bisa Hidup dan Mengganti yang Mati?

28 August 2026
Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

Warisan Budaya Kolonial Dulu dan Kini

27 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia