Beginilah Dampak Virus Corona pada Pariwisata Bali

Turis berkunjung di Pura Batuan, Gianyar pada Januari 2020. Foto Anton Muhajir.

Derasnya hujan berbanding terbalik dengan sepinya turis.

Hujan turun lebat di Pura Puseh Batuan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar pada Kamis, 30 Januari 2020, tengah hari. Selama lebih dari dua jam, hujan tak kunjung berhenti di pura berjarak sekitar 15 km dari Denpasar itu.

Lebatnya hujan menambah lengang suasana pura yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan asing itu. Hanya belasan turis siang itu mengunjungi pura yang dibangun sejak abad ke-11 tersebut. Dari wajahnya mereka sebagian besar turis Kaukasian dan India. Tak ada satu pun wajah turis Cina pada tengah hari itu. Padahal, merekalah yang biasanya membanjiri Pura Puseh Batuan.

“Sekarang tidak ada lagi turis Cina karena memang mereka tidak boleh lagi berwisata,” kata Made Jabur, Kepala Desa Adat (Bendesa) Batuan. Pura Puseh Batuan memang dikelola desa adat Batuan.

Menurut Jabur, setiap hari ada sekitar 1.000 turis Cina berkunjung ke Pura Puseh Batuan. Mereka datang terutama dalam grup, sebagaimana karakter turis Cina pada umumnya. Namun, sejak virus corona yang berawal dari Wuhan merebak akhir tahun lalu, kunjungan ke Pura Puseh Batuan pun menurun drastis, terutama dua minggu terakhir.

Pura Puseh Batuan hanya salah satu tempat di Bali yang mulai terdampak virus corona. Akibat merebaknya virus korona yang bermula dari Wuhan, China, pariwisata Bali pun mulai terkena dampak. Sekitar 10.000 turis dari China membatalkan perjalanan ke Bali sejak virus itu menyebar mulai akhir tahun lalu hingga akhir Januari 2020.

Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASITA) Bali I Ketut Ardana mengatakan dampak tersebut terutama terjadi pada pelaku pariwisata uang mengandalkan turis dari Cina. “Mereka lumayan terpuruk,” katanya.

Dari sekitar 80 anggota ASITA Bali yang bermain di pasar China, menurut Ardana, ada 27 agen perjalanan yang melaporkan pembatalan tersebut. “Beberapa daerah di Cina kan tidak mengizinkan warganya keluar, oleh karena itu teman-teman travel agent dengan pasar Cina pun kena masalah,” kata Ardana.

Turis di Bali menikmati tari kecak di Uluwatu. Pada 2019, turis Cina merupakan yang terbanyak kedua setelah turis Australia. Foto Anton Muhajir

Terbesar Kedua

Tak hanya bagi pengelola Pura Puseh Batuan, merebaknya virus corona memang berdampak luas pada pariwisata Bali saat ini. “Tidak bisa dipungkiri, pariwisata Bali pun kena dampak karena ada turis yang batal datang,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa.

Astawa belum bisa menjawab seberapa besar dampak tersebut, tetapi karena turis Cina merupakan yang terbesar kedua setelah Australia, dia yakin hal ini akan berdampak pada ekonomi.

Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah turis Cina di Bali saat ini memang berada di urutan kedua setelah Australia. Sepanjang Januari-November tahun lalu, wisatawan Cina di Bali sebanyak 1,1 juta (19,27 persen) sedangkan turis Negeri Kanguru sekitar 23 ribu lebih banyak (19,64 persen).

Namun, pada tahun sebelumnya, turis Cina yang lebih banyak dengan 1,3 juta sedangkan Australia 1 juta. “Tiap tahun jumlahnya naik turun, tetapi secara umum turis China memang berperan penting dalam pariwisata Bali,” ujar Astawa.

Karena itulah, menurut Astawa, banyak pelaku pariwisata yang mulai terkena dampak pembatalan turis Cina ke Bali, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi lokasi favorit bagi turis Cina. Pada umumnya, turis dari Cina menyenangi kegiatan wisata air laut, spa dan belanja. Nusa Penida dan Nusa Lembongan, dua pulau terpisah dari Bali daratan, merupakan wilayah yang makin populer di kalangan mereka.

Nusa Penida adalah pulau di Kabupaten Klungkung yang tiga tahun terakhir menjadi tujuan favorit turis Cina. Pesatnya turis di pulau ini membuat warga setempat makin banyak yang terjun di usaha pariwisata, termasuk membangun akomodasi. Namun, sejak merebaknya virus corona, turis di sana pun berkurang.

“Dampak paling terasa di beach club yang memang semua tamunya dari Cina. Sekarang hanya ada 1-2 turis. Jelas tidak bisa untuk menutupi biaya operasional,” kata I Wayan Sukadana, pengusaha pariwisata di Nusa Penida.

Sukadana memberikan contoh beach club Semaya One dan Caspla yang sekarang sudah hampir tidak ada turisnya sama sekali.

Daftar 10 negara penyumbang turis terbesar di Bali sepanjang 2019. Grafik Anton Muhajir.

Kerugian Ekonomi

Menurut Sukadana, turis Cina di Nusa Penida pada umumnya datang berombongan. Mereka hanya sehari ke Nusa Penida dan langsung balik ke Bali daratan. Karena itu dampak terhadap hotel dan penginapan di Nusa Penida, termasuk miliknya, belum terasa. Namun, dia yakin dampak itu akan terasa juga kepada mereka.

“Efek pariwisata itu kan luas. Tidak hanya langsung kepada pelaku pariwisata, tetapi juga sampai ke masyarakat umum karena ekonomi Bali memang sangat tergantung pariwisata,” kata Sukadana.

Ardana menyatakan hal serupa. “Seluruh Bali pasti akan kena. Tidak hanya biro perjalanan wisata, tetapi juga objek wisata, guide, dan masyarakat umum,” ujarnya.

Ardana memberikan contoh kerugian ekonomi akibat batalnya sekitar 10.000 turis Cina setelah maraknya virus corona. Tiap turis Cina menghabiskan sekitar 1.200 dolar Amerika selama mereka di Bali. “Totalnya silakan hitung sendiri,” katanya.

Mengacu pada angka 10.000 turis yang batal datang sementara pengeluaran rata-rata mereka sekitar 1.200 dolar Amerika, maka kerugian pariwisata Bali akibat virus corona mencapai sekitar Rp 164 miliar.

Di tingkat lapangan, kerugian itu terjadi sebagaiman di Pura Puseh Batuan. Menurut Jabur, tiap hari mereka bisa mendapatkan Rp 10 juta sampai Rp 15 juta dari kunjungan turis. Dengan hilangnya turis hingga 90 persen, maka pendapatan mereka saat ini tinggal Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per hari.

Petugas di Pura Batuan mengenakan masker untuk mengantisipasi penularan virus corona. Foto Anton Muhajir.

Antisipasi

Dibandingkan daerah lain di Indonesia, Bali memang termasuk salah satu daerah rentan penularan virus corona. Bali memiliki jalur penerbangan langsung dari Cina terbanyak di Indonesia. Untuk jalur Wuhan – Denpasar saja ada empat penerbangan tiap minggu yaitu Lion Air dan Sriwijaya Air.

Namun, semua penerbangan tersebut sudah ditutup sejak 25 Januari 2020 lalu.

Hingga saat ini, di Bali juga belum ditemukan satu pun kasus virus corona. Pekan lalu sempat ada tiga warga negara asing yang diduga terpapa virus corona dan dirawat di RSUP Sanglah, tetapi ketiganya dinyatakan negatif.

Melalui video yang disebarkan kepada media, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya juga mengatakan bahwa Bali masih aman dari penularan virus corona. Upaya pencegahan penularan juga sudah dilakukan secara sungguh-sungguh. Mulai dari pintu kedatangan di Bandara Ngurah Rai, melalui thermo scanner, tentu akan mencegah masuknya virus. Begitu pula dengan kesiapan layanan kesehatan.

“Sehingga kita berharap dengan cara itu Bali akan terhindar dari masuknya virus corona,” kata Suarjaya.

Dalam diskusi dengan kalangan pariwisata Bali di Denpasar, Kamis, 30 Januari 2020, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Wayan Windia menambahkan Dinas Kesehatan Provinsi Bali sudah mengantisipasi masuknya virus corona ke Bali melalui dua langkah.

Pertama, skrining ketat terhadap penumpang dan kru pesawat yang datang dari daerah terjangkit. Kedua, pemberian Health Alert Card (HAC) bagi penumpang dan kru. “Kami juga melaksanakan surveilens aktif untuk kewaspadaan dini dan menyiagakan seluruh rumah sakit di Bali,” kata Windia.

Khusus untuk pelaku pariwisata, Windia melanjutkan, diharapkan memberikan komunikasi risiko kepada wisatawan. Mereka juga diharapakn melaporkan jika menemukan kasus. “Kami berharap hotel juga bekerja sama dengan memberikan akses kepada petugas yang melakukan pemantauan,” tambahnya.

Di lapangan, antisipasi itu juga terjadi sebagaimana di Pura Puseh Batuan, Gianyar. Para petugas pemberi kain untuk masuk pura dan petugas keamanan (pecalang) pun sudah mengenakan masker untuk pencegahan. “Selebihnya kita mengikuti saja imbauan pemerintah karena mereka juga sudah melakukan pencegahan di bandara dan di hotel-hotel,” kata Jabur.

Dengan cara tersebut para pelaku pariwisata di Bali yakin virus corona tidak akan masuk di Bali dan bisa teratasi. Apalagi pariwisata Bali juga sudah terbukti bisa bangkit setelah mengalami krisis, seperti pada saat wabah kolera, penyakit SARS, bom Bali, dan erupsi Gunung Agung. “Kita sudah mengalami beberapa kali kejadian serupa, termasuk SARS dan kolera terhadap warga Jepang dulu. Buktinya kita bisa menghadapi itu,” kata Ardana.

Adapun Jabur yakin virus corona tidak akan berdampak panjang terhadap kondisi sepinya turis di Pura Puseh Batuan, objek wisata yang dikelola desanya. “Semoga dua bulan lagi sudah pulih kembali,” harapnya. [b]

Keterangan: Versi lain laporan ini juga dimuat BBC Indonesia.