• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Barong Ngelawang Saat Galungan Kuningan

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
31 May 2014
in Berita Utama, Budaya, Foto, Kabar Baru
0
1
Anak-anak berjalan untuk mencari rumah yang mau membayar untuk pertunjukan.
Anak-anak berjalan untuk mencari rumah yang mau membayar untuk pertunjukan.

I Ketut Adi dan Weda menyemangati teman-temannya untuk terus bergerak dari rumah ke rumah.

Kedua siswa SD ini memperlihatkan satu wadah anyaman bambu berisi hasil dari Ngelawang Barong hari itu. Anyaman itu hampir penuh berisi uang.

Tak hanya Adi dan Weda, belasan anak dari Banjar Sima, Denpasar Utara juga penuh semangat mempertunjukkan Barong Bangkal. Barong ini berupa sosok barong dengan rupa babi jantan tua.

Dua anak menarikan barong dalam jubah kain hitam. Salah satunya memakai topeng babi dengan taring tajam.

nglawang-masukrumah
Mengetuk rumah demi rumah demi satu dua rupiah.

Adi mengetuk pintu rumah untuk minta izin pentas singkat. Warga melihat mereka menari. Barong memainkan babak perkelahian dengan rangda simbol baik dan jahat (rwa bhineda). Ada adegan menusukkan keris ke tubuh barong. Ada pula yang berperan sebagai pemangku yang menetralisir dua kekuatan ini untuk berdamai.

Sebagian anak menjadi pemain betel atau tetamburan, perangkat gong sederhana dari kempul dan cengceng. Gamelan terus dimainkan untuk menarik perhatian warga. Warga yang mendengar pun keluar rumah. Mereka duduk di pinggir jalan dengan santai sambil menunggu grup ngelawang mendatangi.

nglawang-keris-kayu
Keris tiruan terbuat dari kertas sebagai senjata pemain.

Grup Ngelawang ini biasanya keluar usai Galungan dan Kuningan. Selain pertunjukkan seni, di luar konteks magisnya, juga dianggap upaya merekatkan kekerabatan. Anak-anak akan bersua dengan temannya di seluruh banjar karena mereka menari dari rumah ke rumah.

“Melatih keberanian menari sambil mencari uang jajan,” seru Weda senang. Ia mengatakan temannya tak perlu latihan khusus untuk Ngelawang.

nglawang-ketakutan
Sebagian penonton malah ketakutan ketika melihat barong.

I Kadek Suartaya, dosen Seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dalam jurnal kampusnya menyebut Ngelawang memiliki makna melanglang lingkungan.

Pada awalnya ngelawang adalah sebuah ritus sakral magis. Benda-benda keramat seperti Barong dan Rangda misalnya diusung ke luar pura berkeliling di lingkungan banjar atau desa. Hal ini dimaknai sebagai bentuk perlindungan secara niskala kepada seluruh masyarakat.

nglawang-timgamelan
Penabuh gamelan mengiringi pemain barong saat ngelawang.

Kehadiran benda-benda yang disucikan itu ditunggu dan disongsong dengan takzim oleh komunitasnya. Penduduk yang dapat memungut bulu-bulu Barong atau Rangda yang tercecer, dengan penuh keyakinan, menjadikannya obat mujarab atau jimat bertuah.

Dalam perjalanannya, masyarakat Bali yang kreatif tak hanya ngelawang mengusung benda-benda sakral namun dibuat tiruannya untuk disajikan sebagai ngelawang tontonan.

Pada tahun 1970-an, Suartaya menyebut aura magis ngelawang itu masih berbinar. Figur-figur topeng yang bersumber dari cerita pewayangan Ramayana ini disongsong dengan antusias oleh seisi rumah. Diawali dengan sepotong tembang, misalnya tokoh punakawan Malen dan Merdah, lalu disusul tokoh Subali dan Sugriwa menari semenit dua menit di halaman merajan. Selesai.

Kendati singkat, umumnya masyarakat senang dan percaya aura ritual-magis yang dipancarkan ngelawang Galungan itu akan memberikan keselamatan dan perlindungan.

nglawang-weda-uang
Hasil setelah keliling dan menghibur orang.

Suartaya dalam tulisannya menduga ngelawang berkiblat dari sebuah mitologi Hindu, Siwa Tatwa. Alkisah ketika Dewa Siwa dan Dewi Uma bercinta tidak pada tempat dan waktunya, harmoni terguncang. Akibatnya adalah kesengsaraan bagi umat manusia dan makhluk hidup yang lainnya.

Sadar akan kekhilapannya itu, Dewa Siwa mengutus para dewa untuk menenangkan dan menenteramkan kembali seisi alam. Setiba di bumi, para dewa itu menciptakan dan mementaskan beragam bentuk kesenian. Lewat kasih pagelaran seni itu seisi jagat kembali damai.

Makna ruwatan dalam mitologi Siwa Tatwa tersebut juga senapas dengan kandungan tolak bala dalam legenda hancurnya keangkaramurkaan Mayadanawa yang kemudian disyukuri atau jadi pijakan awal Galungan, perayaan kemenangan dharma atas adharma. [b]

Tags: BaliBudayaDenpasarFoto
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

Sidang Perdana Aktivis karena Konten Medsos

26 March 2026
Next Post
Keramahan di Balik Mewahnya Nusa Dua

Keramahan di Balik Mewahnya Nusa Dua

Comments 1

  1. Made Terima says:
    12 years ago

    Cerita yang bagus menurut orang Bali. Akan tetapi sebagai ilmuwan tolong pendekatan historis juga dijelaskan. Karena keberadaan ngelawang tersebut nampaknya sudah ada semenjak jaman Raja Anak Wungsu abad ke-11, seniman keliling desa untuk memberikan pertujukan, maaf seperti ngamen. Sedangkan Galungan dan Kuningan itu banyak orang memperkirakan pengaruh sejakan Majapahit 1343, tapi fakta sejarah membuktikan bahwa tahun 1010 sudah dipakai istilah wuku. Hal ini perlu diluruskan agar masyarakat paham tentang kepribadiannya secara rasional.

    Reply

Leave a Reply to Made Terima Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

Keluh Kesah Sampah Rumah Tangga dari Pasar Badung

30 April 2026
Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

Ruang Temu Diaspora Bali di Jepang

30 April 2026
IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia