• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, January 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Banyak IDU Salahgunakan Buprenorphine

Anton Muhajir by Anton Muhajir
9 January 2009
in Kabar Baru, Travel
0
1

Oleh Anton Muhajir

Injecting drug user (IDU) pasien terapi buprenorphine di Bali banyak yang menyalahgunakan obat tersebut dengan cara menyuntikkan. Padahal obat ini seharusnya digunakan dengan cara oral, diletakkan di bawah lidah.

Buprenorphine, di kalangan IDU lebih dikenal dengan nama pasaran Subutex, adalah obat untuk terapi substitusi heroin. Pasien terapi buprenorphine adalah pengguna heroin yang sedang berusaha melepaskan ketergantungannya dari heroin. Penggunaan buprenorphine dengan dosis yang terus menerus mengecil akan mampu menghilangkan ketergantungan dari narkoba.

Menurut aturan pakai di bungkus obat maupun resep dari dokter, obat berbentuk pil ini harus dipakai dengan cara oral, dilarutkan di bawah lidah. Namun, bagi IDU yang sudah terbiasa mengonsumsi heroin dengan cara menyuntik, cara pakai tersebut dianggap tidak asik. Maka, mereka menyalahgunakan dengan cara menyuntikkan.

Salah satu pasien terapi buprenorhpine, Iwan, bukan nama sebenarnya, mengaku dia lebih senang menyuntik buprenorphine dibanding melarutkannya di bawah lidah. “Kalau pakai dengan cucaw (bahasa slang untuk menyuntikkan Narkoba), lebih ada sensasinya,” katanya.

Iwan yang pernah menggunakan heroin sejak 1998, sebelum beralih ke buprenorphine, mengaku menyuntikkan buprenorphine sebenarnya lebih sakit. Rasa obat juga tidak terasa dibanding kalau menggunakannya secara oral. Namun, dia melakukan itu karena belum bisa menghilangkan sugesti ketika pakai heroin.

Karena itu dia tetap saja menyuntikkan buprenorphine meski rasanya tidak seenak kalau dioral. “Yang penting kan bisa menghilangkan sakaw (rasa sakit ketika tidak menggunakan heroin),” ujarnya.

Iwan menggunakan Subutex sejak pertama kali obat tersebut dijual di Bali sejak sekitar 2004. Dari yang semula aktif menggunakan putaw, bahasa slang untuk heroin, Iwan kemudian beralih ke buprenorhpine. Kini dia memakai buprenorphine dengan dosis 2 ml untuk dua hari. “Saya bagi dua saja obatnya untuk dua hari,” katanya.

Dia tidak mau pakai methadone, obat jenis lain yang digunakan untuk substitusi heroin juga. “Percuma. Biasanya kalau pake methadone pasti masih pakai heroin,” katanya.

IDU lain, Agus, nama samaran, juga melakukan hal yang sama. Dia memilih menggunakan buprenorphine dengan cara menyuntik daripada cara oral.

“Dokter juga sudah tahu sejak awal kalau aku pakai dengan cara cucaw,” akunya ketika ditemui di depan apotik di daerah Sanglah tempat dia membeli Subutex.

“Tapi dokter toh tidak melarang. Katanya yang penting aku tidak pakai putaw,” tambahnya.

Kini Agus menggunakan buprenorhine dengan dosis 2 ml per hari. Obat itu, yang menurut cara pakainya harus dioral, dia haluskan lalu dicampur air. Setelah disaring dengan kapas, air campuran buprenorphine itulah yang kemudian dia suntikkan ke urat.

Penyuntikan ke saraf ini berbahaya. Sebab, kalau tidak tepat pada saraf, maka obat itu akan mengakibatkan pembengkakan pada urat (abses).

Iwan mengaku tidak pernah mengalami abses karena dia menyuntik dengan besih. “Kalau aku kan saring dulu agar ampas Subutexnya tidak ikut masuk ke urat,” katanya. Agus beda lagi. Sudah tak terhitung berapa kali dia mengalami pembengkakan di urat.

Tapi Agus cukup pakai kompres untuk menyembuhkan pembengkakan tersebut. “Paling dua hari sudah hilang bengkaknya,” kata Agus.

Pembengkakan merupakan salah satu dampak negatif penyalahgunaan buprenorphine. Toh, hampir semua pasien terapi buprenorphine ternyata melakukan itu, menyuntikkannya. “Aku yakin 85 persen IDU (pasien terapi buprenorphine) menyuntik daripada oral,” kata Agus.

Nyoman Suasta, petugas lapangan Yayasan Hatihati, salah satu lembaga penanggulangan AIDS di Bali yang melaksanakan program harm reduction, antara lain dengan memberikan jarum suntik steril pada IDU, mengatakan semua kliennya adalah pengguna buprenorphine dengan cara menyuntik.

Nyoman yang bekerja untuk wilayah Denpasar dengan tujuh klien, mengaku kliennya adalah pengguna buprenorhpine dengan jarum suntik, bukan oral. Dia sudah memberikan informasi tentang dampak negatif penyalahgunaan tersebut, namun kliennya tetap menyalahgunakan buprenorphine tersebut.

“Kami semua tidak perlu dikasih tahu dampak negatifnya. Kami semua sudah tahu. Tapi kami kan belum bisa menghilangkan sugesti,” kata Agus.

Denny Thong, dokter yang memberikan layanan terapi buprenorhine, mengakui bahwa di kalangan IDU memang banyak penyalahgunaan buprenorphine ini. “Mereka masih terus menyuntik meski kamu sudah berusaha setengah mati untuk tidak melakukan itu,” kata Denny. Hal tersebut, lanjutnya, tidak hanya terjadi di Bali tapi juga Indonesia dan dunia. Dari sekitar 100 pasiennya, Denny mengaku hampir semuanya menyuntikkan buprenorphine.

Menurut Denny, penyuntikan Subutex bisa berakibat fatal. Selain pembengkakann juga bisa mengakibatkan pembuluh darah tertutup. “Paling parah bisa mengakibatkan kematian,” ujar Denny.

Selain dengan cara memberi tahu dampak negatif, menurut Denny, saat ini juga sudah ada obat baru bernama Suboxon dengan kandungan zat yang sama dengan Subutex. Namun, lanjut Denny, banyak IDU yang tidak suka dengan obat ini. Sebab kalau disuntik memang tidak terasa apa-apa.

“Kami seperti menjerit di tengah padang pasir. Tidak ada yang mau peduli,” ujarnya. [b]

Tags: BaliDenpasarKesehatanNarkoba
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Amazing Bakmi at Cafe Me

Amazing Bakmi at Cafe Me

Comments 1

  1. joni says:
    17 years ago

    emang ada kesengajaan dan permainan dari para bandar heroin/putauw dindonesia khususnya untuk menyusun rencana agar subutex di hentikan karena selama masih ada butex pemasukan mereke otomatis berkurang.kita bukan kecanduannya tetapi bagaimana menghilangkan sugesti cicauw.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia