Bali selalu punya cara untuk menyihir dunia. Brosur pariwisata, unggahan media sosial, hingga cerita para pelancong senantiasa mengagungkan kehangatan penduduknya.
Pulau Dewata dijuluki sebagai tempat ramah di bumi, ‘surga di mana senyuman menyambut siapa saja yang datang dari jauh.’ Namun, baru-baru ini, panggung citra itu mendadak retak oleh sebuah tragedi kemanusiaan yang cukup memilukan.
Seorang pria, sekaligus seorang ayah dari anak yang manis tewas diamuk massa. Alasan di balik tindakan brutal tersebut? Dia kedapatan mencuri seekor ayam.Mencuri tentu tindakan yang salah. Tidak ada yang bisa dibenarkan dari mengambil hak milik orang lain, terlepas dari apa pun motifnya. Hukum harus ditegakkan untuk menjaga ketertiban.
Namun, ketika hukuman atas pencurian seekor hewan ternak adalah vonis mati secara mendadak di tangan amuk massa, kita harus bertanya pada diri sendiri, “sejak kapan harga seekor ayam jauh lebih tinggi daripada nyawa seorang manusia?
Main hakim sendiri dan krisis empati?
Kejadian ini membuka realita kelam yang selama ini tersembunyi di balik riuk-pikuk pariwisata Bali. Menghabisi nyawa seseorang secara brutal bukanlah bentuk keadilan, melainkan tindakan main hakim sendiri (vigilante justice). Di mana akal sehat dan empati warga ketika tindak pidana ringan dibalas dengan penyiksaan berujung kematian. Pria tersebut mungkin melakukan kesalahan fatal, tetapi ia juga seorang ayah.
Ada seorang anak kecil yang kini harus tumbuh tanpa figur pelindung dalam hidupnya, yang menjadi sebuah trauma seumur hidup yang ditinggalkan hanya karena amarah kolektif sekelompok orang yang kehilangan nurani. Apakah ini keramahtamahan yang pilih kasih? Tragedi ini melahirkan keprihatinan yang mendalam tentang paradoks keramahan di Bali.
Tampaknya, label “masyarakat ramah dan toleran” kerap kali hanya beroperasi secara selektif. Kita sering melihat bertapa sabarnya masyarakat lokal menghadapi berbagai ulah wisatawan asing, mulai dari pelanggaran lalu lintas, tidak menghormati tempat suci, hingga tindakan tidak sopan lainnya. Senyuman dan pemaafan begitu mudah diberikan kepada mereka yang membawa mata uang asing.
Namun, ketika berhadapan dengan saudara sendiri yang berbuat salah atau terdesak oleh keadaan, toleransi itu seolah menguap tanpa bekas, berganti menjadi kepalan tangan dan amukan yang tanpa ampun. Keramahan yang sejati seharusnya lahir dari nilai-nilai kemanusiaan dasar, bukan sekadar komoditas ekonomi yang hanya dipajang untuk para turis.
Kejadian ini adalah alarm keras bagi aparat penegak hukum dan tokoh masyarakat setempat. Fenomena main hakim sendiri tidak boleh dimaklumi atas alasan “kekesalan warga” atau “kecewa pada hukum”. Jika tindakan barbar seperti ini dibiarkan tanpa hukuman yang menjerat para pelaku pengeroyokan, maka kita sedang melegalkan hukum rimba. Aparat harus mengusut tuntas siapa saja yang terlibat dalam aksi pengeroyokan ini. Hukum tidak boleh kalah oleh amuk massa.
Mencuri ayam adalah pelanggaran hukum, tetapi merenggut nyawa manusia adalah kejahatan berat terhadap kemanusiaan. Jangan sampai Pulau Dewata yang indah ini kehilangan roh utamanya: kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh warganya, bukan cuma bagi mereka yang berpaspor luar negeri. Mencuri jelas perbuatan salah dan harus dihukum. Tapi ketika hukuman atas pencurian seekor ayam adalah kematian di tangan amuk massa, ada yang sangat rusak dengan cara berpikir masyarakat kita. Tragedi pengeroyokan seorang ayah hingga tewas di Bali ini bukan lagi soal penegakan hukum, melainkan soal hilangnya nurani dan akal sehat.



