• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, February 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Bali, Jangan Khawatir jadi Minoritas

Ni Nyoman Ayu Suciartini by Ni Nyoman Ayu Suciartini
4 October 2016
in Kabar Baru, Sosial
0
7

galungan-bali

“Namanya siapa?”

“Kenzu”

“Paling kenken?”

“Oh… Tidak isi nama Bali. Biar nasional saja.”

Ada yang mengalir deras di dada saya ketika menyimak perbincangan mahmud, mamah mamah muda. Rasanya ingin menggenggam pundaknya, lalu menanyakan dengan serius tentang arti nasionalisme itu.

Lantas niat ini saya urungkan. Ya… anak-anak mereka sendiri. Merekalah yang berhak menamai seperti apa buah hatinya itu. Soal nama, ada harapan, ada doa. Tidak ada nama yang buruk. Semuanya baik. Tergantung pada bakat lingkungan yang turut membesarkannya.

Bukan sekali ini saja saya menemukan seorang ibu muda yang memberi nama anak mereka dengan sentuhan modern tanpa mengikutsertakan identitas kebalian yang sudah termasyhur.

Jika menengok sahabat di belahan timur Indonesia, mereka akan berbinar mengatakan nama marganya yang terdahulu. Telenggen, Doken, Kogoya, lantas mereka menyebut namanya, Annike, Salomo, Dakus. Senyum sumringah merekah di bibir masing-masing.

Bagi mereka, ketika menyebut nama marga ini, mereka berharap menemukan nama marga yang sama, menemukan keluarga jauh, lalu memeluknya erat seolah menemukan sekandungnya.

Kebanggaan ini juga saya rasakan ketika berkunjung ke luar daerah. Meski telah mengenalkan diri atas nama Uci, kawan-kawan di pulau seberang lebih senang memanggil saya Komang. Terkesan seperti sedang di Bali, katanya memuji. Hingga saya tegaskan, jika mereka tetap memanggil saya Komang sampai di Bali, maka ribuan pasang mata akan berbalik menoleh atas panggilan itu, bukan hanya saya.

Namun, lagi-lagi mereka tidak peduli. Dengan jelas di kontak telepon selulernya ditulis “Komang Bali”

Bagi saya, menjadi insan modern tidak lantas membuat saya harus meninggalkan identitas lokal kebalian saya yang justru jadi daya tarik tersendiri. Ke manapun saya melangkah, sejauh apapun itu, seseorang akan tahu bahwa saya berasal dari Bali, agama saya Hindu, dan saya dibesarkan di sebuah pulau yang katanya bak surga.

Keluarga saya akan dengan cepat menemukan saya jika tersesat di luar negeri atau melakukan tindak kejahatan. Semuanya akan sepakat… “Oh, orang Bali.”

Saya cukup paham dengan kekhawatiran mahmud tadi terkait menjadi minoritas ketika kelak anak-anak kesayangan mereka pergi meninggalkan Bali. Menuntut ilmu ke tanah luar, mencari kos-kosan, bahkan mencari pasangan seumur hidup, mungkin menemui kendala dalam identitas sebuah nama.

Embel-embel Putu, Made, Komang, Ketut, bahkan Wayan balik  akan memberi rasa tidak nyaman dan susah diterima dalam sebuah komunitas yang rentan membully minoritas. Lantas sampai kapan akan bersembunyi ketika menjadi minoritas?

Mari tunjukkan diri dengan merangkul setiap yang berbeda. Minoritas tidak boleh bersembunyi. Tidak ada waktu untuk memperdebatkan apa agamamu, apa yang halal atau haram bagimu. Arahkanlah waktu lebih banyak untuk ikut berkarya agar generasinya tidak dianggap gagap. Atau paling tidak ikut tepuk tangan menyaksikan negeri ini mulai berbenah.

Soal modernitas itu terletak pada pemikiran, sama sekali tidak ada korelasinya dengan nama, apalagi embel-embel kelokalan nama Bali. Jadi, jangan takut terlihat kuno atau takut mendapat perlakuan buruk hanya karena menggunakan nama khas Bali, seperti Putu, Made, Komang, dan Ketut. Jangan latah yang kebablasan.

Michael White, seorang warga asing berkewarganegaraan Australia akhirnya memilih nama Made Wijaya. Dia belajar Bahasa Bali dan Agama Hindu di Griya Kepaon. Saat itu juga, dia memutuskan untuk memilih Agama Hindu dengan mengikuti prosesi Suddhi Wadani. Baginya, nama Made Wijaya serupa roh yang menyatukannya dengan Bali. Meski menggunakan embel-embel Made, pemikirannya tak terbatas, karya dan kecintaannya juga mendunia.

Jika nanti Anak anda bertanya, “Ayah, Ibu, kenapa nama saya tidak isi Ketut, Komang, Made, atau Putu”

Jawaban apa yang akan Anda beri? [b]

Tags: BaliBudayaCitizen Journalism AwardCJAward 2016NamaSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ni Nyoman Ayu Suciartini

Ni Nyoman Ayu Suciartini

Saya seorang pembelajar

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Rantau di Bali #CitizenJournalismAward

Rantau di Bali #CitizenJournalismAward

Comments 7

  1. Riko Arsana says:
    9 years ago

    Karakter “Bali”, selayaknya ditunjukkan oleh prilaku. Nama hanyalah salahsatu cara. Banyak koq, kalau tak bisa dibilang sangat banyak, orang Bali yg tdk berperilaku Bali, sekalipun mereka menyandang embel2 nama Bali. Begitupun sebalikbya.
    Untuk pengingat saja, sejak jaman awal Majapahit datang pun, orang Bali tidak mengenal Wyn Md Nym Kt. Apakah mereka bukan orang Bali?!
    Mulai kolonialisme, politik devide et impera penjajah, membuat kita terkotak-kotak (dan memang itu tujuannya!!)
    Catur Kasta berkembang, Catur Warna hilang.
    Dan kita begitu bangga pula melestarikannya, walau sdh dihapus, termasuk turunannya (manak salah, nyerod, alangkahing karang hulu, dsb)
    Jadi menurut saya, silakan memakai nama apapun, krn itu hak, dan harapan. Kita hrs hormati, jgn malah memojokkan dgn persepsi tdk bangga dgn kebaliannya. Sangat banyak koq, orang Bali ygtdk pake embel2 nama Balinya, tetapi dharma Hindunya yg ditonjolkan. Why not?
    (Just meluruskan, agar kita tak justru menyalahkan pilihan cara orang, dinilai dari satu kasus saja)
    Semoga Bali tetap Shantih, dgn karakter Dharma nya.

    Reply
  2. somebodythatyouusedtoknow says:
    9 years ago

    kalau menurut saya sih mungkin orang-orang tersebut hanya menghindari sistem perkastaan di Bali
    Mungkin mereka ingin biar anak mereka tidak dibeda2kan denggan sistem kasta makanya tidak memakai nama wayan made nyoman ketut. Sehingga orag-orang yang berkasta (oknum ya, bukan generalisir) lebih hati2 bicara, soalnya terkadang ada orang2 yang berkasta setelah ngomong dengan orang yang dibawahnya langsung berubah bahasanya, lebih tidak sopan dibandingkan dengan orang yang sederajat.
    Mungkin seperti itu…..

    Reply
  3. Gedeeka says:
    9 years ago

    Keren, setuju.

    Reply
  4. I Made Suarjana,SH. S.Sos says:
    9 years ago

    Siapakah yg akan melestarikan Bali, kl bukan orang Bali itu sendiri..? Bali sdh mengalami degradasi dari segala sisi, dan ini sungguh ironi. Kl bagi sy orang Desa, dl waktu ortu memberi nama, hrs menunggu 3 bln, dan diiringi dengan upakara, karena sungguh benar, nama adlah doa dr ortu. Kl skr bnyk orang,begitu selesai USG dan jenis kelamin sdh diketahui, langsung dikasi nama. Akan bnyk sudut yg bs diperdebatkan di sini, tp bagi saya, nama hrs sesuai dengan nilai dan perbuatan, karena bekal kita kelak hanyalah nama dan perbuatan kita, bukan yg lain.

    Reply
  5. I made wirata says:
    9 years ago

    Sah sah saja.. hehehhehe karena sayav menamai anak saya dengan asal usulnya plus satu nama modern yang kami sukai.. i putu kenzo angwirata… neneknya bali, kakeknya cina, dan nama yang disukai kami.

    Reply
  6. K'tut soekarno says:
    9 years ago

    Nama saya Ketut Soekarno, tapi orang jawa asli. Sehari-hari dipanggil Ketut. Diberi nama Ketut karena saya anak keempat yg lahir di Denpasar, nama Soekarno karena pada waktu saya lahir presiden Soekarno sedang berkunjung ke Bali. Saya tidak beragama Hindu, tapi beragama minoritas juga. Sekarang saya tinggal di Jawa Barat. Selama hidup saya tidak pernah mengalami masalah dengan menyandang nama Ketut. Jadi mengapa orang Bali justru meninggalkan identitasnya ?

    Reply
  7. dekyo says:
    9 years ago

    saya suka tulisan ini, matur suksma Mbok. majeng ring sameton tityang sane tiyosan, ngiring piteket2 niki anggen pakeling manten nggih, artinya saya senang penulisnya ‘mengingatkan’, dari banyak hal yg harus kita ingat. saya tidak berpikir substansi tulisan ini dibuat untuk mendeskreditkan posisi lainnya, tetapi justru mengingatkan. saya menyetujui juga jika ada hal lain yg menjadi simbol selain nama, namun bukan berarti kita menghilangkan satu atau lainnya. maksud saya adalah selain nama, tyang pikir bahasa bali, adat istiadat, religi, budaya berupa gamelan atau tarian juga diposisi yg penting (bagian mana yg belum anda pelajari?). semua mendapat nilai, terlebih kita dalam upaya yg sama dalam menjaga dan melestarikannya, dan meskipun dlm ranah praktisnya anda (baru) melakukan satu atau dua simbol identitas itu sudah bagus, apalagi mendalami semuanya malah lebih istimewa… dumogi rahayu sinamian nggih…

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia