Anak Muda, Mari Memilih Pemimpin Bangsa


Kampanye rasanya sudah tidak asing lagi. Apalagi ketika Pemilu sudah dekat.

Saya selaku anak muda yang merasa memiliki dan cinta akan tanah air, pastinya akan turut ikut serta dalam pesta rakyat ini. Namun, pesta bukan sekadar pesta. Untuk menghadiri sebuah pesta kita harus mengetahui tata caranya.

Semisal memilih pakaian yang pas atau cocok untuk menghadiri pesta tertentu. Ini sesuai dengan ruang dan pesta yang kita akan datangi. Agar nanti saat pesta berlangsung kita pribadi merasa nyaman. Pesta pun berjalan aman.

Pun begitu rasanya saat nanti pelaksanaan pesta rakyat. Kalau mau menghadiri pesta besar rakyat tentu kita harus mengumpulkan data dan referensi yang sangat matang. Agar tak terjebak pada tujuan kita pribadi.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan data serta referensi untuk memilih saat pemilu nanti. Bisa kita lihat dari berbagai macam bentuk kampanye. Baik melihat langsung dengan mata dan kepala kita sendiri apa yang ada di sekitaran kita atau melihat dari balik sosial media.

Apapun medianya, tentunya sudah tidak asing lagi soal informasi calon-calon yang akan menjadi kandidat wakil rakyat. Tak terkecuali calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), kedudukan dan peringkat tertinggi untuk negara kita.

Ada banyak hal bentuk-bentuk kampanye. Pertama kita sudah tidak asing lagi dengan baliho ataupun iklan-iklan di pinggir jalan. Bahkan karena terlalu banyaknya baliho di pinggir jalan, saya kadang sampai terheran-heran rasanya melihat begitu banyak foto para calon kandidat beserta visi misinya.

Paling sering saya jumpai adalah jargon “membangun lingkungan masyarakat yang bersih, jujur dan adil.” Kalau boleh saya tertawa kecil. Mau bersih dari mana, Pak? Orang tim suksesnya saja masang baliho ngawur gitu.

Kadang dipaku di pohon, kadang dilem kertas di tiang listrik, kadang membagikan brosur di jalanan setelah dibaca akan di buang oleh masyarakat. Itu sah saja bagi saya. Mungkin untuk kepentingan memenangkan pemilu nanti.

Namun, kalaupun kepilih atau tidak, ingat saja dibersihkan kembali agar tak terlihat omong kosong. Tentu saja untuk kita khususnya saya sebagai anak muda yang akan memilih, ditambah lagi orang awam soal ini. Justru kampanye seperti itu sangat membantu untuk menentukan pilihan. Agar nantinya tidak golput atau asal-asalan.

Ada juga bentuk kampanye langsung oleh calon dengan massa yang datang secara langsung di suatu tempat terbuka. Di sana biasanya akan lebih terlihat lagi, seberapa jauh calon wakil rakyat itu sudah memiliki massa pada daerah tertentu.

Tentu saja pada bentuk kampanye ini pasti ada tim sukses atau tim hore. Ini juga bisa menjadi referensi agar kita mengetahui visi dan misi kandidat tersebut dengan cara ikut secara langsung jika ada waktu luang. Namun, hati-hati. Kadang-kadang beberapa orang yang tak lazim melontarkan ajakan tidak baik. Ada juga yang menyebar hoax.

Kita sebagai anak-anak muda biasanya terjebak dengan ajakan yang menjelekkan satu sama lainya. Padahal kita sendiri kalau mau jujur belum mengerti sejauh mana diri kita mengenal calon kandidat, dan seberapa jauh mengenal dunia politik.

Jadi, kalau boleh saya sarankan, jangan sampai terjebak dan buta oleh hal itu. Hati-hati juga dengan kampanye yang memberikan sangu untuk kuliah atau kampanye yang menyebarkan kebencian pada ras atau agama berbeda. Kita sedang memilih dan memikirkan perkembangan Indonesia sebagai negara berkembang, bukan soal hari kiamat sudah dekat.

Jangan terkecoh teman-teman.

Ada pula kampanye yang sudah tidak asing lagi, bahkan tidak bisa kita tolak adalah dunia maya atau media sosial. Di ruang ini segala informasi dengan cepat kita dapatkan, pun soal kampanye. Saya saja sampai terheran, baru saya buka Facebook sudah ada bentuk kampanye terulis atau foto dan video. Baru saya buka instagram sudah ada kampanye lagi.

Ya, saya tidak menyalahkan. Karena memang pemilu sebentar lagi wajar saja jika hal itu terjadi. Saya pun tidak bisa menghindar dalam hal itu. Pernah ingin menghindar pun tidak bisa karena terus saja informasi itu terbarui. Jadinya mau tidak mau saya lihat dan baca-baca. Mungkin saja bisa jadi referensi saya untuk memilih agar saya mengetahui siapa yang cocok untuk saya pilih.

Namun, ada kejanggalan juga ternyata bentuk kampanye seperti ini. Ada saja oknum-oknum pengguna media sosial tertentu yang boleh saya katakan terlalu berlebihan membela atau menjelekkan lawan kandidatnya. Mungkin tedensinya agar masyarakat ikut-ikutan dan gampang percaya akan hal itu.

Nyatanya? Justru malah ada lagi oknum-oknum yang tidak terima jika kandidatnya difitnah atau dijelek-jelekan. Mereka malah membalas dengan cara yang lebih dari sebelumnya. Begitu seterusnya. Sampai kalau saya lihat malah seperti menebar kebencian antar satu sama lain. Ditambah lagi kalau saya lihat pada postingan tertentu pasti isi komentar yang kadang melenceng dari konteks pembicaraan sehingga membuat percikan kebencian semakin membesar.

Di sini saya ingin mengungkapkan perasaan saya kepada teman-teman muda yang budiman. Selain media sosial sebagai alat yang mudah untuk mencari referensi dan data soal kandidat yang akan kita pilih, janganlah kita sampai termakan oleh berita-berita yang tidak penting.

Kalau boleh saya katakan, tidak ada orang yang bodoh untuk dipilih menjadi capres dan cawapres. Semua sudah diperhitungkan segala kemungkinanya. Hanya saja kita yang jangan sampai terhasut oleh oknum-oknum yang tidak baik itu. Jangan menerima dan menelan segala informasi khusunya di dunia maya dengan bulat. Coba dikunyah sedikit.

Bayangkan saja teman-teman makan bakso toh tidak mungkin langsung ditelan ‘kan? Kunyah dahulu, dirasakan bagaimana rasa baksonya agar mendapat rasa yang benar-benar bakso. Jangan sampai kita sebagai jiwa muda malah ikut-ikutan menjadi sumbu kebencian. Bagaimana kita sebagai penerus bangsa? Ada baiknya kita mencurigai setiap informasi yang kita terima dari media sosial, guna memperkuat pilihan kita nanti.

Pada tahap selanjutnya, jika sudah menerima berbagai info dan referensi saatnya kita memilih, untuk kemajuan dan perkembangan negara kita. Jangan sampai malah masa bodoh soal ini. Jangan buta teman-teman.

Saya sering mendapat perkataan kecil yang sering menjanggal di hati ketika berbicara atau berkumpul dengan teman-teman, “Terserah siapa presidenya, tetep aja kita miskin. Tetap aja kita susah nyarik uang, tetap saja kita jadi pengangguran.”

Kalau soal ini saya pribadi malah terkadang ingin berbicara. Hanya saja sepertinya dia memang masa bodoh soal ini. Kalau masih ada yang berbicara seperti itu, wahai teman-teman muda yang budiman, sadarkah teman-teman bahwa setiap capres dan cawapres sudah menjanjikan adanya lapangan kerja yang banyak?

Bahkan saat menjabat pun sudah banyak sekali lapangan kerja yang ada. Hanya saja teman-teman sendiri yang terkadang masih menganggap remeh soal pekerjaan. Kerjaanya hanya di warung kecil memesan es sambil ngerokok. Lah gimana pekerjaan dan kekayaan akan datang? Tiba-tiba menyalahkan presiden.

Ayolah teman-teman buka hati dan pikiran. Jangan sampai buta. Sudah saatnya sebagai penerus bangsa yang baik kita wajib menentukan siapa yang benar-benar cocok menjadi pemimpin kita. Sesuai dengan pilihan teman-teman dengan pasti, kemudian bergerak dan tidak hanya bermalas-malasan dengan mengharap bahwa semuanya akan datang sendiri tanpa berusaha.

Sekali lagi, sudah saatnya kita menentukan bangsa kita ke depan dan menjadi penerus bangsa yang berguna nantinya. Ayo ke TPS pada 17 April nanti. Suara kita menentukan nasib Indonesia ke depannya. Gimana udah cocok belum saya sebagai pemuda bangsa?

Ya, mungkin sedikit tambahan lagi dari saya. Sebagai anak muda yang tidak paham betul soal politik. Setidaknya jangan buta soal ini. Mungkin dengan mencurigai segala informasi dan tidak ikut-ikutan menjadi onknum penyebar kebencian kita bisa menjadi pemilih yang baik, dan cocok dengan fostur umur kita.

Ya, walaupun kita dibilang sebagai pimilih dan penyumbang suara yang ecek-ecek, setidaknya kita menyikapi ini dengan sedikit dewasa dan berpikiran terbuka. Agar tak terlihat seperti orang yang paham betul soal politik, tapi nyatanya malah memberi contoh yang tidak baik kepada masyarakat. Mungkin dengan seperti ini kita sebegai anak muda bisa terlihat lebih santai kayak di pantai. Salam santai teman-teman. [b]