Catatan Mingguan Men Coblong: Jerubung

Aksi mahasiswa di Bali.

MEN COBLONG menarik napasnya dalam-dalam.

Sungguh hanya itu yang dia bisa lakukan. Mata Men Coblong sedikit sembap. Entah mengapa tak ada air mata berenang bebas di pinggir-pinggir matanya yang mulai sedikit rabun. Kalau pun ada air mata itu karena mata kirinya belangan ini agak sedikit bermasalah.

Sudah berkali-kali di bawa ke rumah sakit Bali Mandara belum juga menunjukkan hasil memuaskan. Masih saja mengeluarkan air jika mata kiri dipaksa kerja rodi untuk menulis buku, atau membaca buku-buku tebal. Jika mata kiri harus berjibaku dengan beragam kesibukan menyangkut menata huruf-huruf untuk dimasukkan ke dalam kepala, reaksi mata kiri itu benar-benar menjengkelkan.

Si Mata Kiri selalu menolk kerja sama dengan si Mata Kanan. Si Mata Kiri baru mau bekerja sama jika diberi upah satu tetes hialid 0,1 mg. Si Mata Kiri pun baru mau bekerja. Begitulah kondisi saat ini, semua baru bergerak jika diberi upah.

“Hidup ini tidak ada yang gratis, Men Coblong. Jangan mau enaknya saja hidup. Tidak enaknya juga harus dinikmati dengan rasa syukur,” begitu kata-kata bijak yang selalu didengar Men Coblong jika dia sedikit saja mengeluh. Benar juga kalau dipikir-pikir, bicara itu lebih mudah daripada mendengar.

Lalu kalau tidak ada orang yang mau mendengar, masak semua orang harus bicara? Men Coblong menarik napas. Sulit menemukan orang-orang yang mau mendengar dengan khusyuk saat ini. Karena orang-orang ingin selalu dilihat tanpa ingin melihat. Kalau tidak ada orang-orang yang mau mengingatkan alangkah tidak menariknya hidup ini.

Namun, begitulah hidup saat ini, hidup terasa melelahkan. Makanya tidak heran jika banyak mahasiswa dan pelajar baru-baru ini melakukan demo besar-besaran dan serentak di seluruh Indonesia. Demo yang membuat Men Coblong terharu.

Dulu Men Coblong berpikir Generasi Z saat ini bisanya hanya eksis di media sosial. Saat ini di depan layar TV Men Coblong terpaku. Mereka berdemo dengan cara yang simpatik. Demo untuk belajar bicara dan menyuarakan isi hati mereka berusaha untuk membuat para “tetua” yang berusaha mengatur hidup dan masa depan untuk anak-anak ini sadar. Bahwa apa pun keputusan yang diambil harus menjadi bagian kehidupan dari anak-anak muda milenial ini.

Aturan yang sedang digodok untuk masa depan Indonesia, harus dikoreksi. Diperbaiki.

“Kenapa para orang tua-orang tua itu sulit sekali mengerti bahwa kebutuhan aturan hidup generasiku berbeda dengan generasi Mami, juga generasi Kakiang, kakek,” sahut anak semata wayang Men Coblong ketika mengomentari beragam demo yang terjadi di seluruh negeri ini.

Demo mahasiswa menuntut beragam isu dalam 7 tuntutan. Terkait Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP), mahasiswa mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang. Sebab, pasal-pasal dalam RKUP dinilai masih bermasalah.

Pemerintah juga didesak membatalkan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang baru saja disahkan. Revisi UU KPK dinilai membuat lembaga anti korupsi tersebut lemah dalam memberantas aksi para koruptor.

Selain itu mahasiswa menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di wilayah Indonesia. Terkait RUU Ketenagakerjaan, mahasiswa menilai aturan tersebut tidak berpihak kepada para pekerja.

Perihal RUU Pertanahan, mahasiswa menilai aturan itu merupakan bentuk pengkhianatan terhadap semangat reforma agraria. Mahasiswa juga meminta agar pemerintah dan DPR segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). terakhir, mahasiswa menolak kriminalisasi aktivis dan mendorong proses demokrasi di Indonesia. Selama ini, negara dianggap melakukan kriminalisasi terhadap aktivis.

“Mahasiswa itu hanya menuntut 7 tuntutan untuk membuat masa depan generasiku lebih bagus, lebih damai, tidak korup. Tidak semaunya,” tutur anak semata wayang Men Coblong serius, sambil berbicara dengan beberapa temannya yang ada di luar Bali untuk berhati-hati. Men Coblong terdiam, ketika pesan dan sedikit gambar masuk melalui pesan WhatsApp.

Mata kiri Men Coblong semakin berulah. Tidak mau diajak bekerja sama, kaku, kukuh, dan sok merasa paling penting dan paling berjasa. Kali ini air mata Men Coblong benar-benar muncrat dan mengalir deras, tak ada isak. Tetapi ada rasa sakit di seluruh tubuh.

Seorang mahasiswa dari Universitas Halu Oleo bernama Randi tewas tertembak saat ikut berdemonstrasi di DPRD Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra).

Presiden Joko Widodo memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menginvestigasi peristiwa ini. “Jadi ini akan ada investigasi lebih lanjut,” kata Jokowi usai salat Jumat di Masjid Baiturrahim, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/9/2019).

Jokowi mengaku sudah mendapat laporan Tito sebelumnya bila jajaran kepolisian diperintahkan tidak menggunakan senjata api. Jokowi pun meminta siapa pun tidak berspekulasi tentang siapa yang menembak Randi.

Men Coblong terdiam. Seluruh pori-porinya dalam tubuhnya mengeluarkan air. Seorang anak lelaki telah direnggut ketika menyuarakan pikirannya, suara hatinya, rasa solidaritas untuk ikut peduli dengan negeri ini. Negeri yang diharapkan bisa menolongnya untuk menjangkau masa depan dan mimpi agar Indonesia lebih baik lagi.

Anak-anak muda itu sudah terlalu lelah. Ibarat perahu, nakhoda yang membawa kapal mereka selalu berubah arah. Ke arah yang tidak mereka mau. Bukan mimpi mereka, bukan gagasan mereka.

Men Coblong menutup mata kirinya yang bandel. Seperti kekuasaan yang membuat seluruh orang-orang tua itu buta. [b]