• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Esai

Kenapa Harus Takut Menjadi, eh, Membahas Radikal

I Made Argawa by I Made Argawa
8 November 2019
in Esai
0
0
Foto Berita Satu

Makna kata radikal kian melenceng dan disalahpahami.

Akhir-akhir ini, radikal atau radikalisme menjadi kata yang kerap diperbincangkan. Mungkin, jika ada pemilihan kata tahun ini, kata radikal bisa masuk nominasi sebagai yang paling banyak dibicarakan.

Radikal merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia atau kkbi.web.id berarti, 1 secara mendasar. 2 amat keras menuntut perubahan (undang-undang pemerintah). 3 maju dalam berpikir atau bertindak.

Beberapa artikel yang mengulas ihwal kata radikal di Internet juga menyebutkan hal serupa. Rasanya agak aneh jika kata radikal ini dikaitkan dengan tindakan atau perilaku brutal yang menjurus pada kriminal.

Paling baru dari perkembangan kata radikal, presiden Joko Widodo menyebutkan pengganti istilah radikal dengan manipulator agama. Entah bagaimana maksudnya, masing-masing bisa menafsirkan sendiri.

Pengalaman menggelitik sempat saya alami ketika membahas soal kata radikal pada sebuah grup WhatsApp.

Saat itu, saya melemparkan sebuah artikel dari berdikarionline dengan judul menyelamatkan istilah radikal dan mendapatkan respon yang antusias bahkan cenderung melenceng. Melenceng seperti nasib kata radikal saat ini.

Saya hanya ingin membuka sebuah ruang diskusi. Karena ada yang membuat talkshow tentang kata radikal dan pemberitahuannya dibagikan dalam grup WhatsApp ini, dengan judul upaya generasi muda (milenial) dalam menghadapi radikalisme.

Jujur, saya tidak ada maksud apa, hanya ingin diskusi dari dua hal yang memiliki sudut pandang berbeda.

Salah satu contoh gerakan radikal internasional adalah menyuarakan pentingnya dunia yang lebih baik untuk semua orang. Foto Medium.

Penentang Raja

Selanjutnya, dalam obrolan WhatsApp tersebut ada yang mempertanyakan kualitas artikel berdikarionline. Saya menyatakan, artikel ini cukup kredibel.

Pertama, saya menilai berdikarionline bisa dipercaya sebagai media. Kedua, apa yang disampaikan cukup masuk akal. Ada perbedaan mendasar, pengertian kata radikal saat ini (yang ramai dibicarakan) jika dibandingkan dengan kamus besar bahasa Indonesia.

Ketiga, dalam artikel berdikarionline yang mengulas soal istilah radikal, juga dijelaskan asal istilah kiri yang bermula saat Revolusi Prancis. Saat itu kelompok penentang Raja menyebut diri sebagai kelompok radikal, salah satunya adalah gerakan Jacobin.

Ketika parlemen Perancis terbelah menjadi dua kubu, semua penentang Raja duduk di sebelah kiri. Pendukung Raja duduk di sebelah kanan. Pembahasan ini juga saya temukan di buku Epstimologi Kiri oleh Listiyono Santoso dkk.

Jadi, mengacu pada tiga hal tadi saya menilai artikel dari berdikarionline patut dijadikan rujukan untuk memulai sebuah diskusi sederhana mengantarkan kita tidur.

Cuman, apa yang saya inginkan dari obrolan sambil menunggu tayangan pertandingan antara klub sepak bola Liverpool dan Mancester United di Liga Inggris ternyata tidak berjalan lancar.

Saya tidak mendapatkan feedback yang bagus. Malah ada yang mengajak untuk membuat semacam seminar tentang apa yang saya bahas. Ini konyol.

Kenapa konyol, pertama saya bukan siapa-siapa. Saya juga tidak memiliki kepentingan soal istilah radikal ini. Saya hanya ingin belajar dan berdiskusi sehingga mendapatkan pandangan baru dari lawan bicara yang berkompeten. Ternyata keliru.

Kedua, saya memiliki urusan yang lebih penting. Yakni memastikan susu anak bisa tetap terbeli setiap bulannya. Alih-alih ingin mengubah pandangan masyarakat terhadap kata radikal, saya lebih senang jika memiliki pemahaman yang beragam dan benar lebih dahulu.

Ketiga, pola langsung menghantam dengan mengajak membuat seminar, seolah-olah menunjukkan minim pengetahuan dan tidak berani memberikan pandangan. Saya tidak suka sesuatu yang seremonial. Yang santuy saja.

Harapan saya sebenarnya, generasi yang beruntung dan bisa mengecap pendidikan lebih dari orang kebanyakan, bisa memelihara sikap kritis.

Meski dengan kritis kadang membuat kita berbeda dengan orang lain, jangan takut menjadi berbeda. Bagi saya itu bukan persoalan. Karena saya (kita) bukan generasi pengekor.

Kritis dalam arti tidak begitu saja percaya dengan wacana yang sedang ramai. Karena sebagai manusia yang terdidik, kita bisa menakar sesuatu, apakah itu baik untuk masyarakat secara umum, atau hanya bagi segelintir orang. Selalu berusaha mengumpulkan keping-keping informasi dan merangkainya sehingga memiliki sudut pandang sendiri.

Entah, sudut pandang itu bisa diterima oleh orang kebanyakan atau tidak, yang jelas kita sudah berusaha menemukan apa yang menurut kita paling benar.

Pada era post-truth ini, musuh kebenaran bukan lagi ketidakbenaran, melainkan kebenaran yang berbeda kepentingan. [b]

kampungbet
Tags: Politik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Made Argawa

I Made Argawa

berusaha santai ditengah dunia yang semakin cepat

Related Posts

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

You and I, tentang Memori dan Dekatnya Kematian

17 April 2021
Pilkada di Tengah Pandemi, untuk Siapa?

Pilkada di Tengah Pandemi, untuk Siapa?

1 November 2020
Bernostalgia Melawan Setan Desa dengan Turba

Bernostalgia Melawan Setan Desa dengan Turba

21 June 2020
Next Post
Berkunjung ke Plaga Saat Panen Gemitir Tiba

Kakawin Aji Palayon, Cerita Setelah Kematian [2]

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Senja Kala Humaniora

14 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia