Anjing Ras Kintamani, Jangan ‘Dipoligami’


Anjing ras kintamani Bangli menunjukkan eksistensinya.

Ya, nama ras anjing yang tidak asing lagi di dengar ini kini mulai menggaet perhatian pecinta anjing. Sayangnya, ras yang berasal dari Kintamani, Bangli ini mengalami berbagai ancaman. Salah satunya mempertahankan kemurnian ras aslinya.

I Made Kardena, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Udayana mengatakan kedatangan ras luar yang dikawinkan dengan ras kintamani diduga menjadi salah satu faktor yang bisa mengancam kemurnian anjing kintamani.

“Jika tidak mendapat dukungan dari semua pihak dan terus seperti ini, takutnya akan berpengaruh terhadap fenotipe anjing ras itu sendiri dan bisa saja ada perubahan pada ras itu,” tuturnya.

Adanya virus rabies turut menyumbang ancaman untuk anjing kintamani. Menurut Kardena virus ini tidak bisa dikendalikan seperti faktor ancaman lainnya. Adapun jalan satu-satunya yang bisa meminimalisir ancaman ini adalah melalui vaksin.

“Jangan hanya memelihara karena suka. Tapi berikanlah perhatian, seperti menjaga kesehatan anjing dengan memberikan vaksin, minimal setahun sekali,” tandasnya.

Ternyata di balik bulu lebatnya, anjing ras kintamani memiliki perbedaan jenis anatomi yaitu memiliki perawakan lebih kecil dari anjing ras lokal lainnya. Namun, meski perawakannya lebih kecil, ras ini tergolong aktif beraktivitas.

Kardena menyatakan anjing ras kintamani termasuk anjing yang pintar karena cepat mengerti kalau dilatih.

Kurang Kesadaran

Sayangnya, kesadaran pemilik anjing ras kintamani masih kurang, sehingga sering kali meremehkan pemeliharaannya. Padahal ras ini akan dicanangkan ke kancah dunia agar mendapat pengakuan.

“Hanya saja, masih melalui tahap seleksi karena jenis anatomi anjing ini unik,” tuturnya.

Tak hanya menggaet perhatian pecinta anjing untuk melestarikan ras ini, pihak fakultas kedokteran hewan kini sudah memasukkan ajing ras kintamani sebagai program unggulan. Sehingga semua pihak bisa semakin sadar bahwa anjing ras kintamani adalah salah satu ikon bali yang mesti dilestarikan.

Tak berhenti sampai program unggulan, anjing ras ini juga mulai mendapat perhatian dari Pet Learning Organization (PLO). Menurut Ketua PLO I Gede Erik Juliarta pecinta anjing yang meluas kini menyebabkan ras ini semakin meningkat.

Bahkan anjing ras kintamani sendiri terlibat dalam festival anjing yang diadakan setiap bulan Oktober. Maka tidak diherankan lagi, anjing ras kintamani mendapat pelatihan khusus di PLO.

“Menurut Federal Kinologi Internasional sendiri, anjing kintamani itu digolongkan dalam grup lima yaitu tipe speed dan primitive. Artinya anjing ras ini bisa dikembangbiakkan semaksimal mungkin secara alami. Jadi dibiarkan saja lepas,” tutur Erik.

Erik menuturkan, tipe anjing ini jika dikembangbiakkan di luar asal aslinya sebenarnya bisa saja. Asalkan pemeliharaannya harus disesuaikan. Tidak terlalu dikekang dan sering diajak bermain menjadi salah satu tips yang dipaparkan oleh Erik.

Apalagi ras ini memiliki keunikan yang menarik yaitu tipe anjing yang cerdas dan peka. Inilah alasannya mengapa anjing ras ini sering dilatih untuk anjing pelacak di dunia kepolisian. [b]