• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Anak Muda, Inilah Peluang-Peluang Kerja di Dunia Maya

Gde Dwitya by Gde Dwitya
10 April 2020
in Kabar Baru, Teknologi
0
0
Ngoprek blog bersama Bali Blogger Community tahun 2015

Bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam di rumah?

Bencana yang kita alami hari-hari ini tidak hanya bencana kesehatan dalam bentuk pandemi Covid-19. Namun, terjadi juga bencana ekonomi akibat terhentinya kegiatan mencari nafkah bagi kebanyakan orang.

Khususnya bagi masyarakat Bali, bencana ekonomi ini tentu sangat terasa. Ekonomi pariwisata berhenti berdetak akibat putusnya arus masuk turis dari mancanegara maupun domestik. Anak muda Bali yang sebagian besar mencari nafkah di sektor pariwisata pun menemukan dirinya tiba-tiba menjadi pengangguran.

Saya belum punya data kuantitatif menyeluruh untuk bencana ekonomi ini. Namun, dari berita Detik, sampai 7 April kemarin tercatat untuk wilayah Bali 19.124 pegawai telah dirumahkan dan 480 orang mengalami pemutusan hubungan kerja.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menambah beban pikiran Anda, para pembaca. Sebaliknya, saya bermaksud berbagi catatan awal dari penelitian Sasmita Research Lab tempat saya bergiat yang mungkin bisa menumbuhkan harapan bagi anak muda yang sedang bingung mau kerja apa.

The New Freelancers

Pertanyaan terbesar sekarang tentu saja bagaimana bisa tetap menghasilkan duit dengan cara diam saja di rumah, atau work from home. Sasmita Research Lab kebetulan sedang mengerjakan riset kecil, dengan hibah receh juga, yang meneliti anak muda dan tipe-tipe pekerjaan baru di era ekonomi digital.

Kami menemukan ada sekelompok anak muda yang mampu mengambil kesempatan dari tersedianya pekerjaan tidak tetap kecil-kecilan (gig) yang ditawarkan di Internet. Secara umum kita menyebut transaksi barang dan jasa yang sifatnya tidak tetap dan kecil-kecilan ini gig economy. Para pekerja lepas di gig economy yang kami teliti ini kerap kali disebut sebagai the new freelancer.

Sebagai contoh konkret, semisal ada pekerjaan membuatkan slide presentasi power-point untuk sebuah perusahaan yang berani membayar sampai $20 per slide presentasi. Pekerjaan ini bisa dikerjakan dari rumah oleh salah seorang responden kami yang fasih menggunakan Microsoft Power Point dan juga berbagai software manipulasi visual lainnya.

Seorang responden lain mengerjakan proyek-proyek animasi dan menggambar desain untuk klien Eropa. Skill yang ia miliki adalah kemampuan menggambar dan menggunakan piranti lunak menggambar di komputer. Besaran proyek yang ia kerjakan dapat mencapai ribuan dolar yang ia kerjakan dalam jangka waktu beberapa bulan.

Para anak muda responden kami ini menawarkan jasanya di situs seperti 99design dan fiverr. Di situs fiverr anak muda bisa menawarkan berbagai jasa seperti desain, fotografi, sampai terjemahan. Awalnya mereka ikut berkompetisi menjajakan jasa.

Lambat laun, mereka mulai mempunyai klien tetap yang mempercayakan banyak gig dan memberi mereka pemasukan yang relatif tetap.

Merunut data yang disediakan oleh Boston Consulting Group (BCG), industri yang menyerap jasa dari para pekerja lepas ekonomi digital ini dapat dibagi menjadi sektor keterampilan (skill) tinggi dan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi adalah sektor yang biasanya dapat dikerjakan dari rumah. Misalnya, penyediaan jasa membuat software, desain, dan lain-lain. Sementara sektor keterampilan rendah merujuk pada pekerjaan seperti berbagi kendaraan dan jasa pengantaran barang.

Sebagaimana kita sadari, sektor keterampilan rendah ikut terpukul dengan adanya pembatasan mobilitas sosial akhir-akhir ini. Berita baiknya, sektor keterampilan tinggi juga tidak kalah menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan sektor keterampilan rendah. Sektor keterampilan tinggi menyerap sekitar 32 persen dari tenaga kerja di ekonomi digital.

Sumber: diolah dari Wallenstein et al (2019), The New Freelancers: Tapping Talent in the Gig Economy, Boston Consulting Group Henderson Institute.

Tantangannya bagi anak muda sekarang, tentu saja, adalah mendapatkan keahlian keterampilan tinggi seperti desain, coding, dan lain sebagainya agar dapat bekerja dari rumah saja. Yang menarik, keterampilan para responden kami ini tidak selalu didapatkan lewat pendidikan formal. Dua responden yang menjadi contoh di atas pendidikan formalnya adalah D3 Pariwisata dan sarjana sastra.

Lalu dari mana mereka mendapatkan skill menggunakan piranti lunak untuk menggambar dan membuat desain? Ternyata dari lingkungan pertemanan dan tersedianya piranti lunak gratis yang bertebaran di Internet maupun rental persewaan piranti lunak. Intinya, para responden kami yang bekerja di ekonomi digital ini sebagian besar otodidak.

Hemat saya, di sini letak keunggulan komparatif anak muda kita. Keterampilan menggunakan piranti lunak disain semacam Corell, Photoshop, Power Point dan sebagainya termasuk keterampilan mahal di negara-negara maju. Sebabnya tentu saja adalah modal awal, initial investment, bagi mereka yang ingin belajar software tersebut sudah cukup mahal karena diharuskan membeli atau berlangganan.

Namun, di Indonesia keterampilan ini relatif mudah dipelajari secara otodidak akibat bertebarannya tempat persewaan software murah meriah di seputaran dekade 2000an di Yogyakarta dan juga di kota-kota besar lainnya.

Kemampuan Bercita-Cita

Tentu saja sedikit cerita saya ini tidak akan dengan serta merta menyelesaikan masalah kaum muda yang sedang kesulitan pekerjaan. Namun, saya harap cerita ini bisa menumbuhkan cita-cita kaum muda. Menurut pengalaman seorang antropolog India yang meneliti kemiskinan di perkotaan, kemampuan untuk bercita-cita ini penting dalam usaha mengentaskan kemiskinan.

https://gsdrc.org/document-library/the-capacity-to-aspire-culture-and-the-terms-of-recognition/

Pengalaman mendengarkan cerita positif tentang pekerjaan yang memberi penghasilan layak bisa melecut semangat anak muda. Istilah Bali-nya, jengah. Kalau anak muda tempat lain bisa, di Bali tentu juga bisa. Daftar cita-cita mereka pun bisa bertambah dan tidak terbatas hanya pada keinginan untuk bekerja di sektor formal industri jasa.

Idealnya selain bekerja di sektor formal industri jasa, para anak muda juga menjadi pekerja lepas di ekonomi digital. Dua pekerjaan ini sifatnya dapat saling melengkapi.

Kembali merujuk data dari laporan BCG di atas, sebagian besar pekerja di industri digital ini mempunyai pekerjaan utama lainnya. Untuk kasus Indonesia, hanya 3 persen dari responden survei yang menyatakan bahwa bekerja di ekonomi digital ini adalah pekerjaan utama. Sebagian besar, sekitar 23 persen, menyatakan bahwa ini adalah pekerjaan sambilan.

Menariknya, walaupun ia bukan pekerjaan utama, justru pekerjaan sambilan di gig economy ini memberi lebih banyak pemasukan bagi para responden. Fenomena ini terjadi di ekonomi negara-negara seperti China, India, Brazil, dan juga, Indonesia.

Ke depan, semoga anak muda Bali makin banyak yang mencari nafkah di arena ekonomi digital atau gig economy ini. Segera setelah pandemi ini berlalu. Semoga! [b]

kampungbet
Tags: Ekonomi KreatifTeknologi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gde Dwitya

Gde Dwitya

Kandidat Ph.D, Departemen Ilmu Politik, Northwestern University Illinois Amerika Serikat dan pendiri Sasmita Research Lab di Yogyakarta.

Related Posts

Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

Apa yang Orang Tua tidak Paham dari Aktivitas Online Generasi Z dan Generasi Alpha

30 May 2025
Sentilan dari Gang Kecil di Kota Denpasar

Kecanduan “Permainan Mendalam” Bersama Gawai

26 February 2021
Pot Kayu Produk Anak Milenial di Masa Pandemi

Pot Kayu Produk Anak Milenial di Masa Pandemi

14 November 2020
Ujian Skripsi Takkan Pernah Sama Lagi

Ujian Skripsi Takkan Pernah Sama Lagi

12 July 2020
Belanja Pangan Lokal secara Daring. Berikut Pilihannya.

Belanja Pangan Lokal secara Daring. Berikut Pilihannya.

5 April 2020

I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali

6 May 2019
Next Post
Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Corona dan Cerita Kami yang di Desa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia