I Made Suatjana, Penemu Font Bali Simbar dan Peramu Kalender Bali

I Made Suatjana saat menerima penghargaan dari Gubernur Bali Februari 2019 lalu.

Insinyur ini menggunakan teknologi untuk melestarikan aksara dan kalender Bali.

Amat menarik menelusuri profil budayawan I Made Suatjana. Dialah pembuat kalender Bali dan font aksara Bali Simbar. Keduanya produk teknologi ini telah menjadi bagian dari “harta nasional” bagi rakyat Bali.

Melalui font aksara Bali Simbar, rakyat Bali dan dunia secara umum dapat menulis aksara Bali secara digital. Di dunia yang kini serba canggih, budaya Bali dapat dikatakan tetap bertahan dan beradaptasi mengikuti medium perkembangan zaman.

Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali pada dewasa ini menjadi perhatian para warga Bali. I Wayan Koster selaku Gubernur menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali. Melalui Perda itu bahasa, aksara, dan sastra Bali sepatutnya dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Kebijakan ini sebagai bentuk perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan potensi bahasa, aksara, dan sastra Bali. Sebagai penegas perda tersebut lahirlah Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018. Pergub ini antara lain mengatur adanya Bulan Bahasa Bali yang akan rutin dilaksanakan pada Februari setiap tahun.

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali pertama kali diadakan pada Februari tahun ini. Ada seminar, pameran, perlombaan, serta penghargaan kepada masyarakat umum atau warga Bali yang turut berpartisipasi mengajegan bahasa, aksara, dan sastra Bali.

Panerima Anugerah

I Made Suatjana merupakan salah satu penerima Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama. Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi dalam mengembangkan aksara Bali dalam bentuk font Bali Simbar.

Patut dicermati, aksara Bali termasuk salah satu dari sedikit aksara di Indonesia yang telah didigitalisasi. Beberapa aksara yang bisa diunduh dengan bebas di Internet seperti aksara Batak Karo, Batak Mandaling, Batak Pakpak, Batak Simalung, Batak Toba, Incoung Kerinci, Lampung, Sunda, Jawa, dan Bugis.

Font Bali Simbar merupakan salah satu variasi program font yang menampilkan aksara Bali. Melalui program ini, huruf latin alfabet dapat dialihaksarakan menjadi aksara bali. Kini, font ini sangat berguna menjaga budaya Bali di dunia digital.

Sumbangan ini tak hanya sebagai inventarisasi budaya tetapi juga pengenalan Bali di aksara dunia. Orang-orang dari belahan dunia lain dapat mengakses dengan mudah font hasil karya I Made Suatjana ini. Bahkan font ini telah menjadi salah satu bentuk perlombaan untuk alih aksara di pendidikan tingkat SMP di Denpasar dan Badung.

Otak-atik Komputer

Lantas siapa I Made Suatjana ini? Bagaimana font ini bisa lahir dari tangan beliau?

I Made Suatjana merupakan warga Bali kelahiran Gadungan, Tabanan pada 14 Mei 1947. Pria yang kini menetap di Denpasar ini memiliki latar belakang pendidikan insiyur dan senang untuk mengutak-atik komputer.

Pada awal 1980an, Suatjana sudah meyakini komputer akan menggeser hal-hal yang dianggap konvensional. Saat itu komputer masih terbilang baru untuk Bali. Namun, Suatjana telah bercita-cita menjadikan komputer sebagai medium untuk melestarikan budaya Bali. Melalui kegemaranya tersebut, pada 1983, dia pun mulai mewujudkan idenya untuk memindahkan aksara Bali ke dalam program komputer.

Berbekal komputer berbasis DOS, Suatjana mencoba merangkai titik-titik hingga membentuk gambar dan pola seperti aksara Bali. Melalui Chiwriter, program berisi aneka simbol yang lazim digunakan untuk simbol matematika, kimia, dan fisika, aksara Bali memiliki peluang untuk diadaptasi dalam dunia digital.

Pada 1995 font aksara Bali bernama Bali Simbar pun rangkum dibuat.

Namun, prototipe ini belum sempurna seperti yang kini dapat diunduh dengan bebas dan gratis di internet. Perlu penyempurnaan dan koreksi tata letak dan bahasa. Sebab, aksara Bali memiliki pakem berbeda dengan huruf alfabet.

Setahun kemudian, dengan bantuan Yayasan Dwijendra, font Aksara Bali Simbar Dwijendra layak dipergunakan secara luas. Font ini dapat mendeteksi rupa aksara dan memperbaiki tata letak aksara agar sesuai dengan pakem.

Tidak hanya sampai penyempurnaan aksara. Pada awal 2000-an, teman Suatjana menyarankannya untuk mematenkan program itu ke Unicode. Ini adalah standardisasi komputasi dunia untuk teks dikoordinir Unicode Consortium yang berpusat di Amerika Serikat.

Akhirnya, pada 2006 font aksara Bali Simbar Dwijendra diakui dan dibakukan secara internasional. Bahkan, pada 2009, font Aksara Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem perintah koreksi yang jika diaktifkan maka akan ada hasil koreksinya.

Kini, cita-cita Suatjana sudah tercapai. Gagasan tentang melestarikan budaya bangsa dengan memadukan teknologi sebagai media telah mendapat apresiasi dari semua kalangan.

Ini terbukti dengan diberikannya berbagai penghargaan dari pemerintah sebagai bentuk nyata apresiasi, termasuk Anugerah Bali Kerthi Nugraha Mahotama dari pemerintah Provinsi Bali.

Kalender Bali

Karya lain I Made Suatjana adalah kalender Bali yang kini memasuki tahun keempat. Kalender Bali cukup terbilang unik dari kalender lain pada umumnya. Kalender umum hanya menjabarkan tanggal dan keterangan hari-hari besar nasional. Adapun kalender Bali sedikit rumit dengan penjabaran hari-hari upacara keagamaan Bali yang terbilang banyak. Setiap harinya memiliki penjelasan tentang baik buruknya hari.

Ada hal mendasar yang membedakan kalender Masehi dengan kalender Bali. Kalender Masehi hanya menggunkan perhitungan matahari. Adapun kalender Bali menggunkan perhitungan bulan, matahari, dan kearifan lokal.

Kalender Bali menjabarkan lebih rinci fenomena pertanggalan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Bali yang terbilang kompleks. Di dalamnya termasuk mengenai hari baik maupun hari buruk untuk melakukan upacara agama.

Serupa alasan menekuni aksara Bali, penanggalan Bali menarik perhatian Suatjana untuk lebih mendalami warisan budaya leluhur yang adiluhung ini. Berbekal rasa ingin tahu dan lingkaran pertemanan Suatjana, dia pun mencari dan mengikuti perkembangan pertanggalan Bali.

Semula, pengetahuan ini hanya untuk konsumsi pribadi. Namun, lambat laun, Suatjana merasa perlu menyebarluaskan pengetahuan ini agar tidak terputus dan punah.

Kalender hasil karya Suatjana secara umum sama dengan kalender Bali terbitan ahli sebelum beliau. Sebut saja kalender Bali karya Bambang Gde Rawi, legenda dunia perkalenderan Bali. Atau kalender I Wayan Gina, kalender dari Kanwil agama Hindu maupun kalender perpustakaan Gedong Kirtya.

Namun, terdapat pojok menarik di setiap lembaran kalender yang memuat informasi tentang pengetahuan kalender dan budaya Bali. Seperti ditampilkan pada edisi 2019, ada informasi tentang sejarah pertanggalan India.

Kebutuhan Pokok

Kalender bagi rakyat Bali khususnya menjadi kebutuhan pokok dalam menjalanan aktivitas budaya. Adanya hari dan bulan untuk menikah, kematian, membangun rumah, membuat kegiatan, dan masih banyak lagi tentu bertolak dari hari apa yang baik.

Bahkan sempat karena kalender yang berbeda, ada kejadian yang mempengaruhi praktik budaya dan menunda acara berlansung.

Tidak semua hari layak untuk sesuatu hal meski pada dunia globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh namun budaya Bali menolak itu!

Tidak semua hari layak untuk segala hal. Meski pada era globalisasi hari ini, semua hari adalah sama dan tak berpengaruh. Namun, budaya Bali menolak itu!

Apa yang dilakukan I Made Suatjana sebenarnya bukanlah hal baru. Mengingat banyak warga Bali mungkin juga memiliki pengetahuan lebih yang harusnya disebarluaskan kepada warga Bali lainnya. Namun, Suatjana hadir dan berani untuk memberikan persembahan nyata dengan keseriusannya.

Aksara Bali Simbar dan kalender Bali bukan produk instan. Ada proses yang selalu menuntut keseriusan dan pengorbanan. Namun, proses tidak selalu menghianati hasil. Hasil yang dipanen seperti menanam pohon jati menunggu puluhan tahun untuk menikmatinya.

Tantangan warga Bali hari ini adalah arus globalisasi dunia yang deras menuju Bali. Budaya sebagai salah satu benteng haruslah dijaga dan dikembangkan agar tidak tergerus. Warga Bali memiliki potensi tersebut!

Melalui fasilitas pemerintah, dorongan-dorongan dari atas menuju bawah (up to bottom) harus sesuai porsinya. Inisiatif dari bawah ke atas (bottom to up) juga harus gencar diwacanakan. Tinggal bagaimana keberlanjutannya untuk warga Bali, rakyat Bali, dan budaya Bali.

Agar benang budaya yang coba diteruskan oleh I Made Suatjana dapat dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk menjaga Bali. Bisa saja di lain hari, warga Bali lainnya menjadi Suatjana kedua, ketiga, dan seterusnya dalam cerita membangun Bali. [b]