(Dongeng) Agama Tirta Versus (Realitas) “Agama Pariwisata”

Demi pariwisata, kita biarkan investor memakan apa saja yang ada di Bali. Kartun Gus Dark.

Pelan tetapi pasti, muncul “agama pariwisata” dan para pengikutnya.

Sontak kita terkejut setelah sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa Pulau Bali sedang menuju kepada krisis air. Seolah kita tidak percaya, bahwa pulau dengan agama tirta, pemujaan terhadap air, justru kini bersiap akan kekurangan air.

Bentang persawahan melahirkan kebudayaan pertanian sekaligus sumber penghidupan pada masanya. Tatanan kebudayaan juga tercipta melalui pertanian, yang salah satu unsur pentingnya adalah pemujaan terhadap air dalam rangkaian ritual-ritual.

Namun, itu dulu.

Pengalihan fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan sarana pariwisata tidak terelakkan. Mungkin sebuah keniscayaan, kebudayaan air tergerus oleh modernitas bernama pembangunan dan pariwisata.

Kita seolah terpapar kepada kondisi yang menuntut untuk semuanya mengabdi kepada pariwisata. Kerusakan lingkungan dengan demikian hanya menunggu waktu.

Sudah lama saya mendengar ungkapan tentang budaya air dan budaya jalan yang bertubrukan dalam realitas kontemporer Bali. Saya rasa tidak hanya di Bali. Pengalaman saya dalam memahami kondisi di Papua beberapa tahun belakangan ini mungkin lebih dramatis. Kita terpaksa berhadapan dengan ironi-ironi antara cerita kejayaan (dongeng) masa lalu dan kenyataannya kini.

Budaya air tumbuh dari keseluruhan kehidupan manusia Bali, terutama dalam ritual agama. Foto Anton Muhajir.

Agama (Kebudayaan) Tirta

Teks-teks tradisi tidak menemukan konteksnya dalam realitas kontemporer Bali. Perubahan melaju kencang menerabas semuanya, tanpa kecuali. Tersedia berbagai macam pilihan yang harus dipilih. Pilihan-pilihan sulit dan tantangan yang harus dihadapi itulah yang menandai perubahan Bali.

Teks-teks sejatinya berguna sebagai pondasi dan suluh untuk mengenali posisi dan identitas kita. Selebihnya, kita sepatutnya mengisi teks tersebut dengan semangat zaman (baca: konteks) kita hidup saat ini. Dengan demikian teks akan berubah menjadi spirit. Spirit teks tersebut adalah perubahan itu sendiri. Dengan demikian pulalah kita akan menjadi eling dalam dunia yang berlari kencang ini.

Bagaimana mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan rakyat Bali yang berubah? Bagaimana memaknai sumber-sumber air penghidupan terancam pencemaran dan kekeringan? Kisah peradaban air yang perlahan-lahan tergerus peradaban jalan (infrastruktur secara luas)?

Perubahan-perubahan itulah yang melanda Bali dan daerah-daerah lain di negeri ini. Dongeng peradaban air perlahan tergantikan dengan peradaban pembangunan pariwisata. Yang tidak ikut serta seolah-olah akan terlindas tewas peradaban yang melaju kencang tanpa henti. Infrastruktur seolah menjadi ideologi yang menandai kemajuan.

Budaya air tumbuh dari kesuluruhan kehidupan manusia Bali. Filsafat keagamaan manusia Bali memandang laut dengan pantainya sebagai kawasan suci. Maka, bukanlah kebetulan jika kawasan pantai yang mengitari tanah Bali “dipagari” dengan pura. Dari beragam pura inilah diharapkan vibrasi kesucian dan kemurnian itu mengalir, menyusup ke puncak pikir, ke kedalaman hati, hingga ke relung batin umat manusia.

Siklus air dalam kebudayaan Bali bermula dari pegunungan, lantas menembus ke dalam bumi, menyembul lagi menjadi mata air, yang kemudian mengalirkan air ke sungai-sungai, menyejahterakan umat manusia dengan segenap mahluk seisi semestaraya, hingga akhirnya semua bermuara ke laut (Sumarta, 2015: 103-105).

Penelitian awal saya di Batur memberikan potret bahwa air begitu pentingnya dalam tataran religius juga budaya kemasyarakatan. Tidak salah yang menyebut bahwa Danau Batur, salah satunya, adalah sumber air di Balidwipa.

Dari Danau Batur lah air terbagi ke seluruh pelosok Bali. Air mengairi sawah-sawah, lahan pertanian, disedot industri pariwisata, hingga detak kehidupan rumah tangga manusia Bali. Pondasi kehidupan pertanian yang menjadi asal-muasal kehidupan manusia Bali tidak bisa dilepaskan dari peradaban air ini.

Sekaa Subak menjadi institusi penting yang memastikan berjalannya peradaban air pada lahan-lahan pertanian masyarakat. Selain sebagai jantung kehidupan, air menciptakan filosofinya sendiri. Totalitas kehidupan keagamaan manusia Bali dinapasi salah satunya oleh air. Dan Batur, dengan Gunung Batur, Danau Batur, dan Pura Ulun Danu Batur menjalani ritual penyembahan utama, salah satunya terhadap air.

Denyut peradaban air yang berorientasi ke Danau Batur dan Pura Ulun Danu Batur itulah yang menciptakan Pasihan, aliansi jejaring Subak-Subak yang memohon kesuburan lahan pertanian mereka melalui tirta dari Batur. Jaringan Pasihan inilah yang menghubungkan Pura Ulun Danu Batur dengan 45 subak bahkan kini mungkin lebih di Balidwipa.

Pasihan inilah yang merupakan penyokong dari pelaksanaan Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur. Dan bukan hanya di Danau Batur, danau-danau lainnya di Bali—Tamblingan dan Buyan—juga mempunyai jaringan subak tersendiri.

Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, menjadi ekspresi ritual dari para penyungsung Subak yang menyembah Ida Bhatari Dewi Danu di Pura Ulun Danu Batur. Sebagai bentuk rasa syukur, penyungsung Subak mempersembahkan hasil buminya (ngaturang sawinih atau sarin tahun) sebelum pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Persembahan inilah yang digunakan sebagai bahan ritual Ngusaba Kadasa.

Pasihan adalah jaringan sosial budaya dengan orientasi ritual ke Pura Ulun Danu Batur, sebagai pura penting dalam pemujaan air. Pusat orientasi ritual memiliki legitimasi yang menjadi panduan bagi masyarakat pengikutnya (Majalah Batur, Pasihan: Aliran Peradaban Air Batur, Edisi 2 Maret 2019).

Sebuah proyek hotel sedang mangkrak di Bukit Timbis, Desa Kutuh, Badung, Bali. Foto Anton Muhajir.

Tubrukan

Transformasi global berimplikasi dengan semakin memuncaknya pengaruh pembangunan yang menenggelamkan kebudayaan air. Salah satu rekayasa sosial terpenting Bali pasca kolonial adalah hasrat kuasa pariwisata yang sejatinya sudah terbentuk sejak rezim kolonial Belanda menduduki Indonesia.

Hasrat baru “ideologi kenikmatan” ini berlangsung “berkelanjutan” di berbagai wilayah di Indonesia, terutama juga di Bali. Seluruh energi dikerahkan untuk sektor yang kemudian perlahan-lahan menyingkirkan bidang pertanian.

Pembangunan pascakolonial menitikberatkan kepada pariwisata yang menyulap segala macam kerikil-kerikil tajam menjadi properti-properti pentas pariwisata. Pondasi yang membangunnya adalah otentisitas (keaslian atau keeksotisan) budaya. Orientasi dan distribusi sosial ekonomi dengan demikian juga ikut berubah.

Sumarta (2015: 106) dengan detail menarasikan bahwa dalam budaya air, pusat distribusi sosial ekonomi berorientasi pada gunung dengan ulun danu sebagai pusat.

Saat budaya jalan menerjang, pusat perputaran sosial ekonomi berubah menjadi Bandara I Gusti Ngurah Rai di Tuban yang berada di kaki Pulau Bali. Dari kaki Bali inilah para wisatawan didistribusikan menuju ke berbagai daerah di Bali. Dan mereka juga dipulangkan kembali melalui kaki Pulau Bali.

Rakyat Bali yang menjadi serdadunya dibuat tanpa jeda memikirkan pariwisata. Adakah yang kritis terhadap pariwisata?

Palguna (2007:28) mengungkapkan dengan tepat sekali. “Memang satu dua orang pernah mencoba berperan kritis. Yang dikiritik bukan pariwisata, tapi investor atau pelaku-pelaku di tingkat bawah. Tapi jarang sekali kami mengetahui bagaimana cara investor mendiamkan orang-orang kritis. Karena investor itu bekerja seperti mahluk halus. Ia ada di mana-mana tapi tidak kelihatan. Tiba-tiba sebuah kawasan telah dikuasainya.”

Pelan namun pasti, muncullah “agama pariwisata” yang memiliki banyak pengikutnya. Mereka adalah para serdadu yang siap mati demi pariwisata, yang memang menggantungkan hidupnya dari pariwisata. Dari mulai manajer hotel berbintang, pegawainya, tukang kebun, dosen dan profesor pariwisata di perguruan tinggi, hingga bendesa adat dan perempuan front office di sebuah villa mewah di Ubud.

“Agama pariwisata” telah menerjemahkan dirinya begitu cair dan menjadi saudara, rekan kerja bahkan tetangga dan krama di banjar. Oleh sebab itulah, “agama pariwisata” telah mewariskan cara berpikir dan (seolah-oleh) ketergantungan terhadap kehadirannya yang merasuk dalam setiap tempat dan waktu.

Kita menyaksikan arus padat pariwisata dimulai di kaki Pulau Bali. Di kaki Pulau Bali jugalah kawasan ekslusif pariwisata hadir di Nusa Dua dengan berbagai hotel bintang lima dan fasilitas pariwisata mewah yang mengelilinginya. Di kaki Pulau Bali telah menjadi simbol terikatnya manusia Bali dengan pariwisata dan pernak-pernik di dalamnya.

Terikatnya kaki Bali menjadi cerminan penting bahwa kita masih kehilangan siasat untuk memikirkan satu hal penting: apa daya kita (selain) setelah pariwisata? [b]