• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, January 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup

Ada Pramoedya di Taman Baca Kesiman

Indra Pramana by Indra Pramana
10 February 2016
in Gaya Hidup, Sejarah
0
2

Pram di TBK 01

Blora, 6 Februari 1925.

Sembilan puluh satu tahun lalu, seorang bayi, kelak diberi nama Mas Pramoedya Ananta Toer lahir. Ketika itu, belum lagi ada Indonesia. Hindia-Ollanda, sebutan untuk negeri Timur koloni Belanda itu, masih mencari bentuknya.

Suatu episode di mana muncul arus-arus pergerakan, suatu zaman penuh kegelisahan, tidak saja bagi kalangan penguasanya yang berkulit putih, tapi juga pribumi berkulit cokelat jajahannya.

Mungkin tak terbayangkan jika bayi mungil itu kelak akan menorehkan sejarah melalui mata penanya. Rangkaian karya-karyanya menjadi api yang memantik semangat kaum muda, tidak saja pada masa lalu, tapi juga hingga kini.

Pergulatannya dalam menghadapi zaman seakan-akan menjadi bekal guna membuka cakrawala sejarah panjang Republik.

Dalam semangat itulah, pada Sabtu, 6 Februari 2016, Taman Baca Kesiman menyelenggarakan kelas Pramoedya. Acara ini dipandu oleh Roberto Hutabarat dan Nugraha Kantjasungkana.

Tidak saja menarik banyak pengunjung, ragam peserta yang hadir menunjukan betapa karya Pram menarik minat pembaca dengan berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, pegiat jurnalisme warga, kritikus sinema, juga kaum muda pekerja. Semuanya hadir dan terlibat dalam diskusi pada suatu sore di Taman Baca Kesiman.

Dalam kesempatan ini, Roberto bercerita tentang kesan-kesannya dalam membaca Pram. Petualangannya dalam menyebarkan pamflet-pamflet dalam suatu periode di mana Soeharto sedang berada dalam puncak kekuasaanya, yang semuanya, terinspirasi setelah membaca karya-karya Pram.

Juga kegelisahan yang dialami ketika menemukan kembali sejarah pergerakan Indonesia, yang selama ini diketahuinya hanya dari satu sumber, Rezim pengetahuan Orde Barunya Soeharto, hanyalah rekaan, dan bukan satu-satunya rujukan sahih. Melalui karya Pram ia menemukan inspirasi, dan menjadi sumber energinya dalam aksi-aksinya dikemudian hari.

Pram di TBK 02

Bang Nug, panggilan akrab untuk Nugraha, dengan suaranya yang tenang, menerangkan riwayat perjalanan Pram dan konteks-konteks yang melatari sejarah perkembangan gagasan dalam tulisan Pram. Dengannya juga ia berarti menerangkan, sedikit banyak, tentang sejarah Indonesia, yang dituturkannya dari sudut pandang keluarganya.

Ini menjadi menarik, melihat bagaimana benang merah gagasan Pram terbentuk dan dibentuk, serta dialami oleh sebuah keluarga yang paralel ceritanya dengan narasi dalam keluarga.

Dengan suara kalem, kelihatan kalau Bang Nug begitu terkesan dengan Pram. Beberapa kali dalam diskusi, ia selalu bilang, ”Gila itu Pram…” ungkapan yang menurut saya justru menunjukan betapa tingginya ia melihat pribadi seorang Pram.

Saya sendiri menikmati acara sore itu, bersama dengan kawan-kawan lain, meski sayang sekali tidak ada materi atau bahan yang bisa dibaca kembali. Meski begitu, di Taman Baca Kesiman tersedia koleksi buku Pram yang relatif lengkap, “…hampir 90% karya Pram ada di sini,” kata Bang Roberto.

Sore itu waktu berjalan cepat. Cuaca yang hangat, setelah beberapa hari kota Denpasar diguyur hujan sepanjang waktu. Matahari mulai tenggelam di sudut langit, ketika diskusi semakin hangat.

Bang Roberto kemudian bertanya, ”Dalam konteks hari ini, kira-kira buku Pram yang mana paling relevan?”

Dari bagian peserta kemudian menjawab, ternyata Anton, ”Bagi saya Arus Balik sih, paling relevan. Terutama fragmen penyerbuan ke Temasek. Bagi saya itu terasa sekali, bagaimana niat melawan arus zaman, kapitalisme industri pariwisata, jika kita hendak berbicara tentang Bali, dan upaya kawan-kawan forBali dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.”

Saya sendiri, yang belum menamatkan Arus Balik-nya Pram cuma manggut-manggut, dan berjanji pada diri sendiri untuk membaca ulang itu buku.

Akhirnya, remang senja disusul gelap malam. Diskusi ditutup dan saya pulang. Mungkin lain kali bisa diadakan acara yang mulai secara spesifik membaca karya-karya Pram, atau karya siapa saja. Saya kira, membagi bacaan dan mengapresiasinya merupakan keniscayaan, semenjak warisan Pram belum lagi seluruhnya bisa kita telaah dengan baik. [b]

Tags: DenpasarDiskusiKomunitas
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Indra Pramana

Indra Pramana

Pemuda banjar. Warga sekitar.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Aksi Bali Mengkritisi Kebijakan Bias Gender dan Tolak RUU TNI

Gerakan Kesadaran Neurodiversitas untuk Keberagaman dan Melawan Stigma

21 June 2025
Next Post
Ketakutan Kami Jika Teluk Benoa Jadi Direklamasi

Ketakutan Kami Jika Teluk Benoa Jadi Direklamasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Canggu: Puisi dan Kisah Perjalanan

Ubud vs Canggu sebagai Metafora Konflik Internal Diri

12 January 2026
Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

Memulai Kawasan Rendah Emisi di Bali

11 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia