• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, June 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Ketakutan Kami Jika Teluk Benoa Jadi Direklamasi

Dudik Mahendra by Dudik Mahendra
11 February 2016
in Kabar Baru, Opini
0
0

Sesetan Tolak Reklamasi 2

Saya terkejut membaca tulisan Pak Raka Santeri beberapa hari lalu.

Wartawan senior itu menulis tentang menguatnya dukungan terhadap pro reklamasi. Saya heran, bagaimana seorang wartawan senior bisa menulis dengan begitu “gila”-nya.

Tulisan tersebut, saya rasa kok nyambung dengan catatan saya sewaktu Sesetan melakukan aksi pada 28 Januari 2016 lalu.

Saat saya ikut demo menolak reklamasi Teluk Benoa, seorang teman bertanya, “Apa sih motivasimu ikut demo-demo lagi? Kalau ingin survive bekerjalah! Demo hanya untuk mahasiswa yang kelebihan waktu. Atau mereka yang dibayar dengan sebungkus nasi jingo dan selembar uang merah.”

Saya jawab sebagai berikut.

Saya dimotivasi oleh ketakutan. Saya bergerak bersama mereka yang memiliki tujuan sama untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka tentu memiliki motivasi yang berbeda-beda tetapi kebanyakan dari mereka memiliki motivasi yang sama, ketakutan!

Dampak reklamasi Pulau Serangan mengikis Pantai Lebih, menyisakan cerita sertifikat tanpa tanah dan tergerusnya bibir indah Pantai Sanur. Saya takut jika reklamasi Teluk Benoa yang akan mengambil area lebih luas terlaksana, tanah tempat tinggal kami hanya ada dalam catatan sertifikat di BTN.

Tidak ada lagi daratan, semua tertutup air!

Proyek ini katanya akan mendatangkan ratusan ribu tenaga kerja. Jelas anak-anak saya akan tersisih dalam perebutan kesempatan bekerja di sektor yang tidak mengenal arti menyama braya. Dalih profesional akan memaksa mereka memilih di antara uang atau menjalankan swadarmanya sebagai orang Bali.

Karena mereka sejak di dalam kandungan sudah ditanamkan keyakinan bahwa merekalah generasi penerus tradisi-tradisi utama sebuah peradaban manusia. Mereka tidak bisa bekerja hanya sehari libur, karena odalan memerlukan lebih dari sehari. Ngaben juga, begitu pula perkawinan dan mlaspas rumah.

Akhirnya mereka harus meninggalkan tanah kelahirannya. Tanah yang mengundang begitu banyak orang datang untuk mengais rezeki. Rezeki yang datang karena aktivitas budaya dan religi yang harus mereka lakukan.

Namun, dalih rezeki itulah yang mengusir mereka dari tanah orang tuanya…

Saya juga takut ketika di usia senja harus menjadi Ridwan Saidi, budayawan Betawi, yang terus berteriak tentang eksistensi orang-orang Betawi di tanah kelahirannya. Terus berteriak agar orang Betawi bisa menjadi pemimpin di Tanah Betawi. Bahkan mengeluarkan sumpah serapah karena orang-orang Betawi yang dia banggakan sebagai pemilik tanah Ibu Kota tidak pernah lagi tampil untuk memimpin orang-orang yang menjejali tanah penuh peruntungan.

Karena kecintaannya akan Betawi dia sampai menjadi lupa kalau orang Betawi sudah terpinggirkan di tanah leluhurnya. Bahkan mereka hendak dihapus oleh waktu karena Betawi sudah menjadi Jakarta!

Bahkan saya begitu takut membayangkan anak-anak saya kelak, harus bergerombol, berkelahi hanya untuk merebut sepetak lahan parkir. Di tanah yang dulu orang tuanya hidup dalam kedamaian. Di tanah yang begitu ramah bagi penghuninya, tanah para dewa katanya.

Ketakutan ini telah mengingatkan saya untuk melawan dan tetap melawan. Karena hanya dengan perlawanan inilah masa depan anak-anak saya dan masa di mana saya akan lahir kembali masih bisa menjadi tempat yang damai dan nyaman untuk ditinggali.

Masa yang harus diperjuangkan dari sekarang, di mana Pura, sanggah dan halaman-halaman rumah masih mengepulkan dupa di atas canang.

Tidak hanya penggalan kisah dalam catatan sejarah tentang sebuah negeri yang dikenal sebagai tanah para dewa, di mana aktifitas budaya dan religinya menyatu menghasilkan vibrasi kedamaian bagi mereka yang datang!

Saya jelas takut, kalau kisah saya dan kaum saya hanya menjadi cerita tanpa bukti lagi. Seperti Atlantis yang hilang, begitu pula Suku Maya.

Ratu Betara, janganlah wangsa Bali ini juga harus hilang dari peradaban ini. Izinkan kami mempertahankan eksistensi kami.

Lalu, teman saya pun tersenyum, ikut melangkah pasti, mengepalkan tangan kiri dan mengangkatnya tinggi. Berteriak lantang, “Sesetan Bersatu. TOLAK REKLAMASI!!!!” [b]

Tags: Bali Creative Festival 2011BudayaLingkunganOpiniSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Dudik Mahendra

Dudik Mahendra

Seorang bapak dari tiga anak yang baik. Pernah belajar di Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali. Warga Banjar Tengah Sesetan, Denpasar.

Related Posts

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

15 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Next Post
Memantau Layanan JKN di Dua Rumah Sakit

Saatnya Warga Mengawasi Layanan JKN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Hari Laut Sedunia Menjadi Peringatan untuk Menghentikan Ekspansi LNG di Bali

Hari Laut Sedunia Menjadi Peringatan untuk Menghentikan Ekspansi LNG di Bali

18 June 2026
Pedih di Balik Galungan: Ekonomi Melemah, Kantong Makin Tipis

Pedih di Balik Galungan: Ekonomi Melemah, Kantong Makin Tipis

18 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia