• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 21, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Masih Relevankah Paradigma Pariwisata Keberlanjutan?

Gilang Pramudhita by Gilang Pramudhita
18 December 2011
in Kabar Baru, Opini
0
0

Apakah paradigma pembangunan (kepariwisataan) berkelanjutan masih relevan dengan situasi dan kondisi lingkungan global saat ini?

Paradigma pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dapat dikatakan merupakan “anak” dari paradigma pembangunan berkelanjutan. Paradigma pembangunan berkelanjutan dicetuskan pada tahun 1992 melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brazil. Pada KTT Bumi ini, paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai agenda politik pembangunan bagi seluruh negara di dunia.

Oleh karena itu, secara praktis paradigma ini perlu menyentuh segala sektor pembangunan dan aspek kehidupan sehingga paradigma inipun mengakar juga pada pembangunan kepariwisataan sekarang ini. Pembangunan kepariwisataan yang berkelanjutan pada dasarnya mengintegrasikan tiga aspek pembangunan, yaitu aspek ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup.

Akan tetapi, pada praktiknya paradigma pembangunan berkelanjutan maupun pembangunan kepariwisataan berkelanjutan itu sendiri masih terdapat distorsi dalam pemahaman juga implementasinya. Oleh karena itu, paradigma tersebut masih belum mencapai apa yang dicita-citakannya selama ini.

Setelah hampir dua dekade dicetuskannya paradigma tersebut, banyak pembangunan, baik secara umum maupun pembangunan kepariwisataan itu sendiri yang masih terjebak dalam ideologi developmentalisme yang menempatkan kepentingan ekonomi di atas segalanya. Akibatnya, aspek sosial budaya dan lingkungan hidup kurang memperoleh porsinya dengan sesuai.

Eksploitasi sumber daya alam, baik untuk aktivitas kepariwisataan maupun aktivitas ekonomi lainnya menunjukkan bahwa pembangunan masih meletakkan fokus utama pada aspek ekonomi dan menempatkan dua aspek lainnya sebagai eksternalitas dari satu bangunan utuh pembangunan berkelanjutan. Hal ini mengakibatkan timbulnya krisis ekologi dan kesenjangan sosial yang semakin parah dalam kurun waktu hampir dua dekade ini setelah tercapainya kesepakatan dalam KTT Bumi.

Keberlanjutan
Setelah hampir dua dekade paradigma pembangunan berkelanjutan menjadi agenda politik pembangunan global, banyak ahli lingkungan hidup menganggap bahwa disepakatinya paradigma tersebut merupakan suatu kemunduran karena kesepakatan ini berarti berkompromi dengan ideologi developmentalisme.

Ada sebuah paradigma alternatif dalam menyikapi pembangunan dan relevan dengan situasi dan kondisi global saat ini, yaitu paradigma keberlanjutan ekologi. Keberlanjutan ekologi menuntut sebuah perubahan mendasar dalam kebijakan nasional, yang memberi prioritas pada kelestarian bentuk-bentuk kehidupan di bumi, demi mencapai keberlanjutan ekologi.

Keberlanjutan ekologi juga mengintegrasikan ketiga aspek pembangunan, yaitu ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan hidup itu sendiri. Akan tetapi, paradigma keberlanjutan ekologi menawarkan pendekatan lebih arif sebagai upaya menghindari jebakan ideologi developmentalisme. Ideologi ini melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam dan kekayaan sosial budaya. Developmentalisme menitikberatkan terhadap keberhasilan yang selalu diukur dalam bentuk perhitungan ekonomi atau kemajuan material.

Begitu juga dalam perspektif kepariwisataan, jika paradigma keberlanjutan ekologi dalam pembangunan kepariwisataan diimplementasikan dengan sebagaimana mestinya, maka sumber daya pariwisata, baik alam maupun kekayaan sosial budaya tidak akan lagi dipandang hanya sebagai alat ekonomi (dalam cara pandang yang mekanis reduksionistis) untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan para stakeholdernya. Akan tetapi, akan lebih baik jika dipandang sebagai suatu kesatuan ekologis yang harus dikelola secara arif sehingga dapat berkelanjutan secara ekologi, adil secara sosial, dan menghidupi secara ekonomi.

Bali, katakanlah sebagai barometer pariwisata di Indonesia, apakah para stakeholdersnya sudah menyadari dan mengimplementasikan sepenuhnya mengenai hal ini? [b]

Tags: OpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gilang Pramudhita

Gilang Pramudhita

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Next Post
Pameran Art-Shit! Parashit! Made Budhiana

Pameran Art-Shit! Parashit! Made Budhiana

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ekowisata di Subak Sebagai Solusi atau Ancaman Baru?

Plastik Makin Mencemari Pertanian

21 April 2026
Sampah tak Terpilah, Subsidi Pupuk Organik bikin Jengah

Cara Leluhur Bali Memilah Sampah

21 April 2026
Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

Bencana Sunyi: Penurunan Muka Tanah Akibat Eksploitasi Airtanah di Bali

20 April 2026
Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

Reklamasi Sekali, Abrasi Berkali-kali

20 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia