• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 31, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Tubuh-tubuh yang Memeram Beragam Kisah

Wayan Sunarta by Wayan Sunarta
9 October 2011
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0
0

Dalam ranah seni rupa di Bali, persoalan tubuh sejak lama telah menjadi pusat perhatian para perupa.

Misalnya, dalam tradisi seni lukis wayang gaya Kamasan, tubuh figur wayang berkarakter baik dibuat ramping dan luwes, sedangkan yang berkarakter jahat (raksasa) dibuat berotot dan terkesan kasar/sangar. Karakterisasi tubuh yang disesuaikan dengan perwatakan bisa juga disaksikan di banyak lukisan tradisional Bali, seperti lukisan gaya Ubud, atau gaya Batuan.

Pelukis tradisional Bali, tidak semata-mata melukis kemolekan tubuh perempuan penari, namun juga kekenyalan otot tubuh para petani atau penabuh gamelan. Bagi mereka, tubuh tidak hanya urusan seksualitas, namun juga persoalan sosial dan budaya. Hal itu tercermin dari lukisan-lukisan yang merepresentasikan berbagai aktivitas (tubuh) masyarakat Bali di dalam melakoni kehidupannya, seperti ketika membajak sawah, aktivitas di pasar, gotong-royong dalam kegiatan adat/agama, upacara di pura, dan sebagainya.

Dalam kebudayaan Bali, tubuh merupakan suatu yang tak terpisahkan dari jiwa/roh (atma). Sejak lahir hingga mati, tubuh manusia Bali mendapatkan perlakuan-perlakuan khusus dalam berbagai bentuk ritual, yang tujuannya untuk menghormati keberadaan tubuh dan juga jiwa/roh yang bersemayam di dalam tubuh. Tubuh (badan kasar) dan jiwa/roh (badan halus) sama-sama dirayakan dalam upacara yang tak berkesudahan.

Maka, sangat sulit bagi orang Bali untuk mendonorkan organ tubuhnya, karena ketakutan akan lahir menjadi manusia cacat jika bereinkarnasi lagi. Sebab, tubuh bukan milik pribadi, melainkan milik Tuhan.

Pergeseran zaman tradisional ke zaman modern, bahkan kontemporer, membuat tubuh juga mengalami perubahan makna. Tubuh yang milik Tuhan dianggap sebagai milik pribadi. Manusia modern memperlakukan tubuh sesuai keinginan egonya. Setiap orang merasa berhak atas tubuhnya sendiri, bahkan atas tubuh orang lain. Kekuatan otot menjadi lebih utama ketimbang kekuatan batin. Selubung tubuh dan berbagai jenis topeng dikenakan demi kesuksesan dan kepuasan mengeksploitasi hal-hal yang diinginkan.

Bertopeng
Pergeseran makna tubuh dalam ruang sosial dan budaya itulah yang ingin disampaikan Wayan Kun Adnyana dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “Body Theater”. Pameran  di Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Jimbaran, Bali, ini berlangsung dari tanggal 1 September hingga 3 Oktober 2011 lalu. Kun menganggap selain tubuh memancarkan pesona, tubuh juga mengandung beragam kisah dan juga beragam keinginan. Melalui 13 lukisan terbarunya, Kun menampilkan kisah-kisah tubuh yang berotot dan bertopeng, bagai pertunjukan teater mini kata yang mengundang beragam penafsiran.

“Tubuh berotot dan bertopeng, merupakan fase baru eksplorasi kreatif saya. Lukisan-lukisan ini merefleksi peristiwa-peristiwa kontemporer ruang sosial kita. Gerak tubuh berotot, bagi saya, menyiratkan beragam kisah, beragam sindiran, dan juga memantik drama kehidupan,” tutur Kun Adnyana, pelukis, dosen dan penulis seni rupa.

Salah satu kisah tubuh yang ingin disampaikan Kun terlihat pada lukisan berjudul “The Wild Hunters” yang menampilkan segerombolan manusia berotot dan bertopeng sedang berusaha menaklukkan belalang raksasa. Lukisan metaforis ini menyiratkan keangkuhan manusia yang merasa diri paling hebat dalam menaklukkan alam. Namun, alam tidak pernah benar-benar mampu ditaklukkan. Alam selalu mempunyai cara untuk menyadarkan manusia akan kelemahan dan kepongahannya. Belalang raksasa dalam lukisan ini adalah metafora dari kekuatan alam itu sendiri.

Sementara itu, lukisan berjudul “Who Am I?” merepresentasikan persoalan tubuh atau pemujaan dan pemanjaan atas tubuh akan berbagai keinginan duniawi yang pada akhirnya sampai pada titik jenuh. Topeng-topeng yang melekat pada tubuh sesungguhnya penuh kepalsuan. Pada akhirnya, tubuh yang berkaitan dengan jiwa/roh merindukan sesuatu yang lebih murni. Kegamangan ini membuat manusia (tubuh) melontarkan pertanyaan dasar yang ditujukan untuk semesta, Sangkan Paraning Dumadi: Siapa aku, dari mana aku, mau ke mana aku?

Persoalan tubuh menarik perhatian Kun Adnyana karena sejumlah alasan. Bagi Kun, tubuh telah begitu monumental dijadikan subjek oleh manusia atas interpretasinya pada sesuatu yang agung, termasuk untuk menerjemahkan ragawi Sang Pencipta. Misalnya, bagi orang Bali, tubuh memiliki posisi yang penting. Tubuh menjadi inspirasi sekaligus subjek representasi atas berbagai imajinasi manusia, tak terkecuali tentang eksistensi Tuhan.

“Bahkan, manusia Bali menerjemahkan ihwal Sang Pencipta yang abstrak sebagai entitas tidak terpikirkan, bercakra sebelas, berwujud Acintya,” kata Kun.

Sementara itu, menurut Kun, citra topeng menjadikan tubuh memiliki beragam arti dan makna bagi ruang sosial dan budaya di mana manusia tumbuh dan beraktivitas. “Namun, ketika tubuh lekat dengan muka yang ada, ia hanya menjadi dirinya sendiri, dan cenderung bertafsir tunggal,” ujar Kun.

Tegas
Wayan Kun Adnyana lahir di Bangli, Bali, 4 April 1976. Lulusan cum laude ISI Denpasar (2002) dan cum laude Pasca Sarjana ISI Yogyakarta (2008). Sejak 1997 telah aktif dalam berbagai pameran bersama di sejumlah galeri di Indonesia dan luar negeri. Meraih sejumlah penghargaan bergengsi, seperti Nominasi Jakarta Art Award (2008), Widya Pataka dari Gubernur Bali (2007), Nominasi Philip Morris Indonesian Art Awards (1999).

Pergulatan Kun dengan wacana tubuh telah dimulainya sejak lama. Hal itu misalnya terlihat pada pameran tunggalnya di Genta Gallery Ubud bertajuk “Kamasukha” (2003), di Bentara Budaya Yogyakarta yang bertajuk “Hana tan Hana” (2008), “Look! Who is Talking?” di Tonyraka Art Gallery Ubud (2008), “New Totems for Mother” di Gaya Fusion Art Space Ubud (2008).

Karya-karya terbaru Kun mendapat tanggapan yang cukup bagus dari beberapa kritikus seni. Misalnya, kritikus seni asal Prancis yang lama menetap di Bali, Jean Couteau, mengatakan karya-karya terbaru Kun cukup kuat secara teknik dan konsep, serta menunjukkan pencapaian artistik yang memikat. “Ada kesungguhan dan keseriusan yang tergambar. Pada fase ini gejala intelektualitas dan rasa seni dapat terlacak dengan tegas,” komentar Jean Couteau.

Sementara itu, kurator Ganesha Gallery, Bruce Carpenter, mengatakan Kun merupakan salah seorang generasi baru Bali yang akan menjawab tantangan-tantangan Bali ke depan, baik sebagai perupa, akademisi, maupun penulis.

“Dalam karya-karyanya tergambar bagaimana tubuh begitu universal dalam konsep manusia Bali. Peradaban arsitektur Bali juga didasari konsep pemahaman akan tubuh. Sehingga tubuh begitu berlapis dalam bobot makna, dan juga model artistik,” ungkap Bruce saat membuka pameran tunggal Kun Adnyana di Ganesha Gallery. [b]

Tags: BadungBaliPameranSeni Rupa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Sunarta

Wayan Sunarta

Lulusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra, Universitas Udayana. Pernah kuliah Seni Lukis di ISI Denpasar. Mulai menulis puisi sejak awal 1990-an. Kemudian merambah ke penulisan prosa liris, cerpen, feature, esai/artikel seni budaya, kritik/ulasan seni rupa, dan novel. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, Jawa Post, Pikiran Rakyat, Bali Post, Jurnal Kebudayaan Kalam, Jurnal Cerpen Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Gong, Majalah Visual Arts, Majalah Arti. Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit adalah Cakra Punarbhawa (Gramedia, 2005), Purnama di Atas Pura (Grasindo, 2005), Perempuan yang Mengawini Keris (Jalasutra, 2011). Buku kumpulan puisinya adalah Pada Lingkar Putingmu (bukupop, 2005), Impian Usai (Kubu Sastra, 2007), Malam Cinta (bukupop, 2007), Pekarangan Tubuhku (Bejana Bandung, Juni 2010). Buku novelnya: Magening (Kakilangit Kencana, Jakarta, 2015).

Related Posts

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

Generasi Muda Bali Mewarisi Utang dan Krisis Lingkungan

1 May 2026
Next Post
Hentikan Mulia Resort dan Tolak BIP

Hentikan Mulia Resort dan Tolak BIP

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

matan AI

Penghancuran Kemandirian Desa-desa di Bali

29 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

28 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia