
Tahun 2025 kemarin merupakan tahun duka bagi masyarakat Denpasar, terkhususnya warga yang tinggal di Gang Taman Beji. Ketika aku berjalan menyusuri Jalan Gajah Mada, Gang Taman Beji memberikanku impresi yang sangat besar. Sedari kecil aku sangat tertarik untuk masuk ke gang itu, dan pada akhirnya di umurku yang 19 tahun ini memutuskan untuk ke sana berjalan kaki.

Aku disambut dengan gapura bercat putih dan hijau toska yang berisi papan nama, dan juga turis Rusia yang sedang berfoto di sana. Ada hal lain pula yang menyambutku. Aku mencium bau yang pengit sekaligus melihat pedagang kopi dan beberapa warga sedang menikmati kopi di sana, juga menjumpai warung ayam goreng yang berada dalam gedung parkiran terbengkalai.
Lalu, di sampingnya ada deretan kedai kopi yang ramai ditempati oleh anak-anak muda dan motor-motor terparkir di depannya. Aku sebagai outsider merasa kedai kopi, termasuk warung ayam goreng, di sana memiliki sanitasi yang kurang: gelap, terlihat lembab, tertutup, dan kurang rapi, Tidak seperti kedai kopi dan warung yang biasanya rapi bersih, dan terbuka. Namun, menariknya ada seorang yang aku lihat sedang mengerjakan tugas dengan MacBook-nya.
Begitu pula bangunan-bangunan yang ada di sampingnya. Terlihat adanya bercak-bercak cokelat bekas genangan air pada tembok sebagai penanda kejadian banjir bandang tahun lalu. Meskipun tempat ini dulunya pernah dilanda banjir besar, kenapa masih ada warga yang tetap optimis untuk berjualan di sini?
Warga hidup di tengah kerusakan
Aku berpapasan dengan ibu-ibu yang sedang membersihkan Pura Taman Beji. Aku bertanya mengenai banjir yang melanda waktu itu.

“Iya, banjirnya waktu itu tinggi sekali,” ia menunjuk ke arah atap bale yang ada di pura itu. “Segitu tingginya. Sampai nutup di sana. Kalau pun tinggi biasanya nggak sampai kena jalan, tapi waktu itu kaget setinggi itu banjirnya,” katanya.
Sangat terkejut mendengar apa yang terjadi pada saat itu. Temanku lalu menyusul pertanyaan mengenai aksi pemerintah pada saat itu.
“Pak Presiden Prabowo waktu ini datang ke sini. Saya cuma dapat salaman aja, selain itu nggak dapat apa,” ia menjelaskan sambil tertawa kecil. “Ya meskipun sembako dapat, tapi kan rusak ini banyak,” imbuhnya.
Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh ibu itu, aku merasa iba sekaligus takjub. Gang Taman Beji yang kulihat saat ini menyimpulkan bahwa warga-warga di sini mampu untuk hidup di tengah kerusakan yang terjadi. Meski diriku yang melihat lokasi Gang Taman Beji membuatku khawatir. Apakah mereka tidak takut untuk tinggal di sini? Denpasar saat ini rawan banjir. Namun, dilihat dari aktivitas warga di sini menunjukkan meski di tengah rawan bencana, mereka tetap optimis seakan-akan banjir tidak akan datang lagi.
Ini Mengingatkanku pada Jamur Matsutake
Gang Taman Beji mengingatkanku pada suatu metafora yang pernah disebut oleh Anna Lowenhaupt Tsing dalam bukunya Mushroom at the End of the World: On the Possibility of Life in Capitalist Ruins. Yakni living in ruins. Pertanyaan awalku yang bertanya, “kenapa mereka bisa tinggal di tempat yang rusak?” Sebenarnya adalah pertanyaan yang salah menurut kacamata Tsing. Justru apa yang aku anggap rusak saat ini adalah hal yang normal bagi mereka. Bercak cokelat pada dinding yang terkena air banjir bukanlah tembok yang rusak dan harus diperbaiki. Bercak cokelat itu layaknya coretan di dinding rumah kita sendiri, kita tidak menganggap coretan itu sebagai tembok yang rusak. Kita justru hidup dengannya.
Ibu itu tertawa karena dia tahu bahwa kerusakan ini tidak bisa diperbaiki. Dia sadar bahwa pemerintah tidak akan menolong, bahwa sembako hanyalah pertolongan jangka pendek, bahwa satu-satunya yang bisa menolong dirinya adalah dirinya sendiri. Dia sadar bahwa dia tidak bisa pindah rumah, dan dia sadar bahwa banjir akan datang lagi di masa depan. Maka, satu-satunya jalan adalah hidup dengan kerusakan yang ada, meski dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan dari bencana banjir tahun lalu.
Meski diriku sebagai orang luar menganggap Gang Taman Beji adalah tempat yang rusak, namun bagi mereka gang itu tidak rusak. Gang itu adalah tempat yang masih berfungsi, meski beberapa aspek sudah tidak seperti dulu. Kehidupan sehari-hari di gang ini adalah apa yang disebut sebagai world-making without progress menurut Anna Tsing. Ibu yang sedang menyapu, keberadaan warung ayam goreng dan kedai kopi, orang-orang yang bersembahyang di pura, dan kegiatan lainnya. Semuanya seolah menunjukkan optimisme bahwa banjir tidak akan datang lagi. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi adalah kegigihan tanpa harapan. Mereka tahu banjir akan datang kapan saja. Mereka tahu bahwa aktivitas mereka saat ini tidak akan menangkal banjir. Jadi satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah beraktivitas seperti biasa.
Warung ayam goreng yang berada dalam gedung yang menyerupai parkiran terbengkalai dan deretan kedai kopi yang gelap, lembap, dan tidak rapi adalah bukti bagaimana orang-orang mengambil nilai dari sisa-sisa kehancuran pasca-banjir. Pemilik warung dan kedai kopi melihat potensi pada bangunan terbengkalai ini, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang hidup. Ada makanan yang dijual, ada kopi yang diseduh, dan ada komunitas yang berkumpul. Tanpa warung dan kedai kopi ini, Gang Taman Beji akan sepenuhnya mati karena bangunan yang kosong akan terbengkalai begitu saja. Eksistensi warung dan kedai kopi itulah justru menghidupkan kembali Gang Taman Beji dengan menciptakan keramaian dan aktivitas ekonomi di sana.

Inilah yang terjadi di Gang Taman Beji. Tidak menunggu perbaikan yang pasti, hanya memanfaatkan apa yang sudah ada. Kita terlatih untuk hidup dengan kerusakan.









