
Baru-baru ini, PT Bali Turtle Island Development (BTID) diduga melakukan tukar guling lahan mangrove seluas 82 hektar di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai. Tukar guling merupakan istilah pertukaran aset antara dua pihak. Namun, lahan pengganti yang dijanjikan PT BTID dinilai masih belum jelas. Temuan tersebut terungkap dalam kunjungan Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bali.
Dilansir dari laman resmi Tata Ruang Provinsi Bali, kawasan ekosistem mangrove di Bali seluas 2520 hektar yang tersebar di beberapa wilayah, yaitu Kabupaten Badung, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Buleleng, dan Kota Denpasar.
Di Kabupaten Klungkung, mangrove ada di Nusa Lembongan, wilayah kepulauan di tenggara Bali. Restorasi dan konservasi mangrove di Nusa Lembongan dimulai pada tahun 2006. Kini, hutan mangrove tersebut dijadikan destinasi pariwisata. Dari naik perahu hingga snorkeling pun dapat dilakukan di lokasi tersebut.
Umumnya, kemampuan mangrove untuk menyerap karbon lebih tinggi dibanding vegetasi darat. Maka dari itu, mangrove dapat menjadi salah satu cara memitigasi perubahan iklim, terutama dalam skala nasional.
Di balik keindahannya, setiap hektar mangrove di Nusa Lembongan menyimpan hampir 250 ton karbon dioksida. Temuan ini ada dalam jurnal Environmental Conditions to Support Blue Carbon Storage in Mangrove Forest: A Case Study in the Mangrove Forest, Nusa Lembongan, Bali, Indonesia. Penelitian ini dilakukan oleh Pricilla, dkk. dan dipublikasikan pada tahun 2021.
Data tahun 2017 menyebutkan tutupan mangrove di Nusa Lembongan mencapai 202 hektar. Pricilla, dkk., melakukan penelitian di lima stasiun pengamatan untuk mengetahui stok karbon biru yang ada di kawasan tersebut.
Ketika penelitian ini dilakukan, ditemukan 10 spesies mangrove dan satu varietas. Temuan ini berbeda dengan penelitian satu dekade silam yang mencatat adanya 13 spesies mangrove. Namun, dalam hal kerapatan mangrove, kerapatan pada tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan tahun 2014.
Ada dua spesies mangrove yang paling melimpah di lima stasiun pengamatan, yaitu Rhizophora mucronata (bakau kurap) dan Rhizophora apiculata (bakau minyak). Temuan tersebut menunjukan tingkat toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi geografis.
Kerapatan mangrove tertinggi ditemukan di stasiun 2, didominasi bakau kurap. Padahal, stasiun tersebut lokasinya dekat tempat pembuangan sampah. “Diduga kondisi tersebut tidak menurunkan kerapatan mangrove secara keseluruhan,” tulis penelitian tersebut. Meski begitu, jumlah mangrove dewasa di stasiun 2 paling rendah dibandingkan stasiun lain. Sekitar 400 pohon per hektar, sedangkan stasiun lain memiliki lebih dari 550 pohon per hektar.
Peneliti menduga kondisi tersebut mengindikasikan lindi dari tempat pembuangan sampah telah mencemari tanah mangrove. Terlebih pada saat penelitian dilakukan, belum ada pengolahan lindi sebelum masuk ke kawasan mangrove.
Secara umum, lindi mengandung logam berat yang dapat menghambat pertumbuhan mangrove. Apalagi jika jumlah yang terserap melebihi ambang batas.
Pricilla, dkk. melihat kondisi kesehatan mangrove menggunakan citra satelit. Ukurannya disebut NDVI, indeks yang menunjukkan tingkat kehijauan mangrove. NDVI mangrove berkisar antara 0,67 – 0,89, lebih tinggi dibanding penelitian tahun 2003 dan 2010. Namun, masih lebih rendah dibanding 2017. Artinya, kerapatan mangrove menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, dari sisi karbonnya, mangrove di Nusa Lembongan lebih banyak menyimpan karbon di dalam tanah. Sekitar 64 persen total karbon berada di sedimen tanah, sedangkan di permukaan hanya 38 persen.
Temuan tersebut memperkuat dugaan mangrove menjadi ekosistem penyimpan karbon paling efektif di wilayah Nusa Lembongan. Total stok karbon mangrove di Nusa Lembongan mencapai 68 ton karbon per hektar, setara 250 ton karbon dioksida per hektar.
Sederhananya, mangrove dapat dibayangkan sebagai lemari penyimpanan raksasa yang mengunci 250 ton karbon agar tidak memperparah perubahan iklim. Mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir atau pohon yang mempercantik pesisir. Melainkan sebagai gudang alami yang menahan laju perubahan iklim.
Pada akhirnya, penelitian ini menekankan pentingnya perlindungan mangrove, terutama yang sudah tua dan besar agar tidak mengalami degradasi. Kerusakannya malah dapat melepas karbon yang tersimpan bertahun-tahun.









