• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, March 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Tak Hanya Sawah Berkurang, juga Hutan Mangrove. Sayangnya Tanam Lagi Sering Gagal

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
6 October 2025
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0
Bibit mangrove di Tahura Ngurah Rai

Penulis: I Gusti Ayu Septiari dan Maya Ayu Revalina

Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai di Bali digadang-gadang menyimpan berbagai spesies flora dan fauna. Tahura Ngurah Rai ditetapkan pada tahun 1993 dengan luas 1.373,50 hektar. Setiap tahun, luas Tahura semakin menyempit. Dilansir dari pemberitaan Bali Post pada 23 September 2025, luas Tahura saat ini hanya 932,49 hektar.

Kawasan sekitar Tahura semakin berkembang seiring berkembangnya industri pariwisata di Bali. Sejumlah pembangunan dilakukan, baik untuk pemukiman hingga akomodasi pariwisata.

Sejak tahun 2019, salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN), Bali Maritime Tourism Hub (BMTH) dibangun di Pelabuhan Benoa. Pembangunannya berada di bawah PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Dari situs resmi Pelindo, BMTH dibangun untuk mengembangkan Pelabuhan Benoa menjadi hub pariwisata maritim unggulan.

Pembangunan BMTH menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitarnya, yaitu deforestasi mangrove di kawasan Benoa. Sebagai pertanggungjawaban, pada Oktober tahun 2023, PT Pelindo Subregional 3 Bali dan Nusa Tenggara melakukan penanaman bibit mangrove di Tahura Bali sebanyak 6.000 bibit mangrove.

Sekitar kurang lebih 10 tahun yang lalu, proyek Jalan Tol Bali Mandara juga menyebabkan deforestasi mangrove, setidaknya 2 hektar. Pasca proyek tersebut, PT Jasamarga Bali Tol melakukan penanaman lebih dari 70.000 mangrove di area jalan tol. Menjelang perhelatan internasional G20, dilakukan penanaman mangrove di sekitar Jalan Tol Bali Mandara sebanyak 300.000 bibit.

Dua pembangunan tersebut menunjukkan strategi yang dilakukan pemerintah ketika terjadi pembangunan di kawasan Tahura, yaitu menanam kembali mangrove sebagai bentuk tanggung jawab. Ribuan mangrove terus ditanam untuk mengembalikan mangrove yang rusak akibat alih fungsi lahan.

Mangrove sebagai mitigasi perubahan iklim

Dilansir dari National Geographic Indonesia, mangrove telah menjadi bagian penting strategi mitigasi krisis iklim karena berfungsi menyerap emisi karbon dan menyimpannya. Muhammad Erdi Lazuardi, Ahli Ekosistem Pesisir sekaligus mahasiswa pascasarjana dari University of British Columbia, menjelaskan bahwa fungsi dan manfaat mangrove dibedakan menjadi empat, yaitu fungsi biologis, fisik, ekonomi, dan estetika.

Fungsi biologis sebagai habitat sekaligus menjadi tempat pemijahan, perbesaran, dan mencari makan bagi biota laut. Sementara, fungsi fisik sebagai pelindung pantai dari abrasi, peredam ombak ekstrim dan tsunami, serta menyerap dan menyimpan karbon-karbon biru (blue carbon). 

Mangrove juga mempunyai fungsi secara ekonomi sebagai sumber penghasilan nelayan dari komoditas perikanan. Kayu mangrove dapat dimanfaatkan untuk pembuatan arang, sedangkan buah dan madu mangrove dapat digunakan sebagai sumber pangan. Ada juga fungsi estetika, yaitu keindahan hutan mangrove berpotensi dijadikan destinasi pariwisata.

Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan ekosistem mangrove

Di balik fungsinya, penanaman mangrove tidak bisa dilakukan dengan mudah. Penanaman mangrove tidak sekadar menanam kembali berbekal ribuan bibit. Mengembalikan ekosistem mangrove membutuhkan waktu bertahun-tahun. Seperti halnya yang dilakukan Bendega, startup yang fokus pada peningkatan dan pemanfaatan ekosistem mangrove. Sejak tahun 2019, Bendega aktif melakukan konservasi mangrove, salah satunya di Tahura Ngurah Rai.

Dalam melakukan konservasi, Bendega berkolaborasi dengan nelayan sekitar untuk mengetahui jenis mangrove yang cocok di satu kawasan. Pasalnya, setiap daerah memiliki spesies mangrove yang berbeda-beda. Biasanya, Bendega akan menanam mangrove yang spesiesnya dominan. “Jadi kita nggak akan ngerusak habitatnya di sana, kita nggak mau menumbuhkan spesies-spesies baru,” ujar Ali Zainal Abindin, Kepala Tim Operasional Bendega.

Ketika melakukan penanaman mangrove di Tahura Ngurah Rai, Zain mengidentifikasi spesies yang dominan adalah rizophora mucronta karena hidup di kawasan berlumpur dan pemeliharaannya cukup mudah. “Dan pertumbuhannya cukup cepat juga,” ujar Zain.

Tahap paling sulit dalam menanam mangrove adalah maintenance atau pemeliharaan, seperti penyulaman bibit yang mati, mengendalikan hama dan tumbuhan liar, penjagaan kebersihan lingkungan dari sampah, hingga pemantauan pertumbuhan mangrove. 

Bendega melakukan pemeliharaan minimal dua tahun setiap enam bulan sekali. Bibit mangrove yang ditanam biasanya berumur 9 bulan sampai 10 bulan. Ketika masuk dua tahun, mangrove sudah berumur kurang lebih 3 tahun. “Nah, di umur segitu range kehidupannya udah cukup besar,” ujar Zain.

Pernyataan Zain selaras dengan yang disampaikan Erdi. Ia menerangkan terdapat beberapa metode yang perlu diperhatikan dalam penanaman kembali mangrove. Sebelum memulainya, perlu diketahui kebutuhan dari suatu daerah yang akan ditanami mangrove tersebut. Misalnya, jenis mangrove seperti apa yang cocok dan bagaimana kondisi pasang surut pada daerah tersebut. 

Kajian historis lokasi berperan penting dalam mempengaruhi tingkat keberhasilan penanaman. “Jadi kembali ke historisnya seperti apa, kemudian spesies mangrove yang asalnya disitu apa. Itu yang bisa menjadi rekomendasi untuk ditanam,” ujarnya.

Metode penanaman yang dilakukan pun beragam, ada yang dilakukan dengan penancapan buah, penanaman bibit propagul pada lokasi yang sudah terdegradasi, maupun penyulaman pada lokasi yang sudah ada regenerasi alami untuk menambah kerapatan maupun keanekaragaman.

Erdi menambahkan, hal lain yang seharusnya tidak dilupakan adalah memperbaiki hidrologi atau sistem perairan dari kawasan yang akan ditanami. Jika daerah tersebut dulu mempunyai ekosistem mangrove yang cukup baik, tetapi dialihfungsikan menjadi tambak dan terbengkalai, akan sulit untuk mengembalikan mangrove di daerah tersebut. “Baru kalau itu (sistem hidrologi) dikembalikan nanti akan mendorong pertumbuhan mangrove secara alami,” jelasnya. 

Fase pertumbuhan mangrove

Ada beberapa fase yang harus dilewati ketika menanam kembali mangrove. Fase awal berkisar 0-1 tahun. Dalam fase ini, penanaman propagul atau bibit dilakukan dan tingkat kematian cenderung tinggi apabila kondisi hidrologi tidak sesuai. 

Kemudian, fase pertumbuhan selama 1-5 tahun. Pada fase ini bibit akan mulai stabil dengan pertumbuhan akar dan tunas baru. Rata-rata tinggi mangrove rhizopora dan avicennia dapat mencapai 1-3 meter dalam 3-5 tahun, tergantung substrat dan pasang surut air laut. 

Disusul oleh fase pemulihan ekosistem yang berlangsung selama 5-15 tahun. Dalam fase ini tegakan mangrove mulai membentuk kanopi dan fungsi ekologis sebagai penahan abrasi dan habitat biota laut sudah mulai pulih.

Terakhir, fase mendekati hutan mangrove dewasa berkisar 15-30 tahun. Pada fase ini struktur hutan lebih kompleks, tetapi belum sepenuhnya sama dengan mangrove alami. Untuk kembali seperti hutan mangrove tua dibutuhkan waktu lebih dari 30-50 tahun tergantung pada kondisi awal. Jadi, mangrove baru bisa terlihat pertumbuhannya secara stabil dalam kurun waktu 3-5 tahun, mulai berfungsi penuh secara ekologis dalam 10-20 tahun, dan akan menyerupai hutan dewasa dalam waktu lebih dari 30 tahun.

Zain pun mengakui mustahil semua bibit mangrove akan tumbuh dengan optimal. Dari 2.000 mangrove yang ditanam, kemungkinan mangrove yang bertahan hanya sekitar 500 mangrove. “Itu (sudah) sangat bagus,” ujar Zain karena pemeliharaan mangrove sangat sulit.

Penanaman kembali bukan solusi tunggal

Berkaca dari program penanaman mangrove yang dilakukan pemerintah, Zain mengatakan akan sia-sia jika penanaman mengrove hanya sekadar seremonial, tanpa pemeliharaan. “Karena kalau kita tanam mangrove itu nggak sama kayak tanam pohon di lahan (daratan),” imbuh Zain. Selain itu, musuh utama mangrove adalah sampah, benthos, dan cuaca. 

Salah satu tujuan Bendega melibatkan nelayan dalam konservasi mangrove untuk memastikan pemeliharaan terus dilakukan. Ini juga menjadi salah satu cara meningkatkan pendapatan nelayan di sekitar kawasan mangrove. “Kalau nelayan cuma diajarkan konservasi, tapi mereka nggak dilibatkan, mereka nggak dapat benefit (untung),” ujar Zain.

Penanaman mangrove juga dilakukan dengan berhati-hati. Annisa Fatonah, salah satu staf Bendega menceritakan sulitnya proses penanaman mangrove. Ketika pertama kali terlibat di Bendega, Annisa melakukan kesalahan fatal karena tidak menggunakan pakaian lengkap. Pasalya, kaki tidak boleh menginjak akar mangrove lainnya karena dapat merusak struktur mangrove, memperlambat pertumbuhan, serta mengganggu habitat berbagai biota laut.

Sementara itu, Erdi mengatakan penanaman kembali mangrove sebagai ganti deforestasi bukanlah solusi tunggal. “Penanaman kembali bisa jadi bagian dari solusi, tetapi tidak bisa dianggap pengganti penuh dari deforestasi mangrove,” ujar Erdi.

Solusi yang bersifat jangka panjang harus mencakup beberapa hal, yaitu perlindungan ekosistem mangrove alami yang tersisa, restorasi ekologi dengan memperbaiki hidrologi (bukan hanya menanam), dan penguatan tata kelola insentif ekonomi agar masyarakat tidak terdorong untuk membuka lahan mangrove lagi.

Penanaman kembali berbeda dengan mengganti hutan mangrove yang hilang. Pasalnya, hutan mangrove alami memiliki struktur kompleks dengan keanekaragaman spesies, mikro habitat, dan fungsi ekologis. Sementara, mangrove hasil rehabilitasi membutuhkan puluhan tahun untuk mendekati kondisi ekosistem alami dan sering kali hanya ditanami 1-2 spesies, sehingga tidak sepenuhnya mampu menggantikan fungsi ekosistem. Selain itu, tingkat keberhasilan rehabilitasi tergolong relatif lebih rendah apabila hanya berfokus pada menanam saja.

“Makanya penting untuk sebenarnya inisiatif masyarakat, pemerintah, atau pun Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan itu membuat pembibitan tidak hanya satu jenis saja, tetapi jenis-jenis yang memang ada di sana gitu. Meskipun itu sulit, gitu ya, tapi ada kok yang cukup bagus,” ucap Erdi.

Deforestasi mangrove artinya menghilangkan ekosistem penting untuk menyerap karbon dalam mitigasi iklim. Habitat biota laut pun ikut hilang. Mengembalikannya butuh waktu puluhan tahun. Penanaman kembali bukan solusi tunggal karena risiko kegagalan lebih tinggi dibandingkan keberhasilan. Satu-satunya cara adalah mempertahankan kawasan hutan mangrove yang ada agar tidak dialihfungsikan dengan serampangan.

Tags: alih fungsi lahanDeforestasideforestasi mangrooveekosistem mangrovemangrovemangrove balitahura balitahura ngurah raitaman hutan raya
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026
Memetakan Alih Fungsi Lahan di Bali, Bagaimana Menyegel yang Terbangun?

Rangkuman Raperda Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee

16 February 2026
Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Menghitung Konversi Tutupan Lahan Bali Menjadi Lahan Terbangun

21 January 2026
Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

Subak kini Hanya Dilihat sebagai Objek Wisata bukan Sosio Ekologis

10 January 2026
Memetakan Alih Fungsi Lahan di Bali, Bagaimana Menyegel yang Terbangun?

Memetakan Alih Fungsi Lahan di Bali, Bagaimana Menyegel yang Terbangun?

6 January 2026
Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

Gagas Aksi Iklim Melalui Mangrove, Bendega Tanam Harapan di Pesisir

14 December 2025
Next Post
Ruang Publik sebagai Ruang Ketiga yang Terabaikan

Ruang Publik sebagai Ruang Ketiga yang Terabaikan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia