• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, April 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

I Made Argawa by I Made Argawa
22 June 2020
in Kabar Baru, Opini
0
0
Kematian George Floyd sebagai korban rasisme memicu soldidaritas global. Foto Omer Messinger via The New Yorker.

Di Facebook saya melihat sebuah video menggelitik.

Wawancara petinju Muhammad Ali yang membahasa soal rasialisme. Ali mempertanyakan tampilan seorang Yesus. Ia bertanya kenapa Yesus kulitnya putih, rambut pirang dan matanya berwarna biru? Kenapa hingga malaikatnya juga seperti itu? Ke mana malaikat yang kulitnya berwarna hitam?

Pertanyaan tadi memancing tawa dari audien yang melihat langsung wawancara itu.

Ali juga mempertanyakan kenapa Tarzan yang hidup di belantara hutan Afrika berkulit putih? Kenapa orang Afrika yang berkulit hitam dan singa di sana menjadi musuh Tarzan? Sekali lagi statemen “si mulut besar” berhasil memancing tawa penonton.

Pada periode 1960-an rasialisme di Amerika masih tinggi. Bahkan seorang Martin Luther King Jr pada 28 Agustus 1963 dikenang dengan pidato “I have a dream” karena menentang perbedaan ras berdasarkan warna kulit. Kini, rasialisme itu meledak ketika kasus kematian George Floyd.

Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah wawancara Ali yang membicarakan soal Yesus dan Tarzan. Setelah menonton, saya tersenyum dan merenung. Ternyata ada yang salah dengan cara pandang kita terhadap warna kulit.

Muhammad Ali juga dikenal sebagai sosok berpengaruh sekaligus kontroversi. Juara kelas berat tiga kali ini bahkan pernah diskors ketika menjalani wajib militer karena menentang perang Vietnam.

Citra Media

Berbicara tentang warna kulit beberapa waktu saya sempat membaca buku yang berjudul Putih, penulisnya L. Ayu Saraswati. Buku ini membahas soal warna kulit dan ras, serta kecantikan di Indonesia dan transnasional.

Alasan saya membeli dan ingin membaca buku ini karena saya sedang patah hati. Ini agak absurd sih. Namun, entah kenapa saat itu saya berpikir perlu mengatur ulang terkait “selera” terhadap perempuan.

Saya sebenarnya seperti orang kebanyakan, suka melihat perempuan berkulit putih, rambut lurus, langsing, muka yang bersih dan mulus serta enak dipandang.

Selama masa pacaran, ciri di atas memang menjadi kriteria saya untuk mencari pasangan.

Namun, semuanya berubah ketika saya berkeinginan membentuk rumah tangga. Bagi saya pasangan untuk rumah tangga tidak hanya bisa diukur dari tampilan fisik.

Lebih dari itu, sikap dan visinya terhadap rumah tangga lebih penting.

Oh ya, saya merasa saat ini sudah on the track ya dalam urusan rumah tangga. Hehehe..

Dari buku Putih saya memahami bahwa selera “kita” terhadap perempuan yang dikatakan “putih” dibentuk oleh media.

Misalnya, naskah-naskah kuno seperti Ramayana dan Mahabarata menggambarkan seorang perempuan cantik tampak seperti bulan yang bercahaya.

Sekilas kita lihat bulan purnama akan tampak putih kekuningan. Ya, cantik adalah putih. Kalau di Indonesia bisa ditambah kuning langsat.

Jadi, terlepas dari pilihan individu soal pasangan. Menurut saya, persoalan seperti agama, suku dan ras harusnya kita bisa bicarakan dengan lebih slow bahkan mungkin jenaka seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali.

Satire

Ali mungkin tidak ada maksud memperkeruh suasana rasisme di Amerika dengan pernyataannya itu, apalagi menyingung soal keyakinan. Meski dia adalah seorang mualaf. Saya melihat apa yang dilakukan oleh “The Gretest” adalah satire yang berangkat dari pengalaman masa kecilnya.

Namun, berbicara soal satire, sepertinya beda yang dialami oleh komedian, Emon Bintang yang mengomentari kasus Novel Baswedan. Ia dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Memang video yang berdurasi tidak lebih dari dua menit ini membuat kita tersenyum, karena telah mengomentari ironi hukum di negeri ini.

Video Muhammad Ali dan Emon Bintang merupakan kritik atas ketimpangan yang terjadi di masyarakat. Kritik tidak harus ditanggapi serius, tapi juga bisa membuat tawa. Namun, tertawalah sebelum itu dilarang atau dilaporkan. [b]

kampungbet
Tags: esaiOpini
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Made Argawa

I Made Argawa

berusaha santai ditengah dunia yang semakin cepat

Related Posts

Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Suara Perempuan Terdampak Skizofrenia

Suara Perempuan Terdampak Skizofrenia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

IAGI Bali Selidiki Lereng Kritis di Lokapaksa Ancam Puluhan Warga

29 April 2026
Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

Alasan Koster soal Regulasi Sampah tidak Optimal

29 April 2026
Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

Aksi Kemanusiaan AMSI Bali

28 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Menjinakkan Suara Kritis Kampus

28 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia