• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, June 2, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kebiasaan Barter Unik di Nusa Penida

Wayan Sukadana by Wayan Sukadana
20 December 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Sosial
0
0

barter-nusa

Ketika banyak orang menghambakan uang, sebagian warga Nusa Penida masih tukar menukar barang.

Nusa Penida adalah kecamatan yang terdiri dari tiga pulau yaitu Nusa Ceningan, Nusa Lembongan dan Nusa Gede. Pada 1990-an, akses ke daratan pulau Bali masih sangat terbatas.

Warga hanya mengandalkan perahu tradisional bertenaga layar yang tertiup angin. Akibatnya distribusi barang dan jasa keperluan masyarakat Nusa Penida pada zaman itu masih terbatas. Untuk keperluan sehari-hari masyarakat Nusa Penida bertransaksi dengan menukar barang satu sama lainnya alias barter.

Pada 1990-an, barang yang dibarter menurut penghasilan di suatu daerah. Semisal Jungut Batu atau Lembongan akan menukar garam yang mereka produksi dengan jagung maupun singkong kering yang disebut grian ke Nusa Gede.

Demikian pula masyarakat yang tinggal di pesisir Nusa Penida. Mereka menukarkan hasil tangkapan ikan dengan jagung, singkong maupun hasil palawija lainnya dengan masyarakat lain yang tinggal di perbukitan.

Seiiring dengan perkembangan transportasi yang semakin lancar dan sistem perdagangan yang sudah modern, sistem barter tersebut sudah tidak dapat dijumpai di Nusa Penida.

Tapi di sudut lain Nusa Penida tepatnya di Dusun Semaya Desa Suana, transaksi dengan sistem barter tersebut masih terjadi. Bahkan sudah menjadi kebiasaan yang setiap hari berlangsung.

Namun barang yang dibarter bukan lagi hasil kebutuhan sehari-hari seperti zaman 1990an di Nusa Penida. Yang dibarter adalah rumput laut yang sudah layu dengan kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan sehari-hari yang dijual biasanya adalah ikan, sayur-sayuran maupun jajan layaknya toko pada umumnya.

Biasanya pedagang keliling akan membawa dagangan dalam wadah bodag, sedangkan keranjang bambu dibawahnya berisi rumput laut layu hasil barteran. Satu kali keliling menyusuri pantai di Dusun Semaya yang banyak ada rompok petani rumput laut, dua keranjang yang berkisar 100 kilogram.

Kini rumput katoni kering yang siap jual per kilogram Rp 10 ribu. Tapi barter dengan pedagang keliling dengan timbangan tradisional yang disebut traju dinilaikan Rp 5 ribu saja. Ini karena rumput laut yang dibarter masih basah atau hanya layu saja dan sedikit kotor.

Tampak di foto seorang Pedagang Made Sari yang sedang berjualan barter sedang bertransaksi dengan salah seorang petani rumput laut. Sari mengaku lumayan mendapat untung karena untungnya doubel. Dari nilai jajan atau barang yang dijual dan dari nilai jual rumput laut yang setelah kering dijual.

Lebih lanjut Made Sari bertutur dengan nada rendah hati hasilnya berjualan dengan sistem barter lumayan untuk menyambung hidup. Padahal menurut petani yang berbelanja di sampingnya mengatakan Made Sari yang hidup seorang diri walaupun hanya mengadalkan berjualan barter bisa membangun sebuah rumah. [b]

Tags: Nusa PenidaSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Sukadana

Wayan Sukadana

Penggerak komunitas. Penikmat dan peminat musik. Sedang belajar jadi pengusaha pariwisata di tanah kelahirannya, Nusa Penida.

Related Posts

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

Sampah Plastik Ancam Padang Lamun Bali

22 April 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026
Next Post
Hantu-hantu Pendukung Reklamasi Teluk Benoa

Hantu-hantu Pendukung Reklamasi Teluk Benoa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

Mudahnya Merusak Mangrove, Sulitnya Menumbuhkan Penyimpan Ratusan Ton Karbon ini

1 June 2026
Menjaga Pengetahuan Bambu di Samsara Bamboo Festival

Menjaga Pengetahuan Bambu di Samsara Bamboo Festival

1 June 2026
Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

31 May 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia