• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, May 31, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Ke Gili, Melarikan Diri dari Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
6 January 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Travel
0
2

Gili Trawangan

Kian hari, Bali kian riuh oleh turis domestik maupun mancanegara.

Dengan jumlah turis per tahun mencapai sekitar 3 juta tiap tahun, Bali pun menjadi tempat yang sangat riuh oleh turis. Di pusat-pusat pariwisata, seperti Kuta dan Seminyak, turis memadati bar, restoran, pantai, dan tempat-tempat wisata lain di Bali. Di jalanan, kendaraan padat merayap nyaris 24 jam. Bali jadi tempat yang terlalu bising.

Maka, Gili Trawangan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pun bisa jadi tempat pelarian ketika Bali sudah terlalu penuh. Pulau ini terletak di sisi bara laut Pulau Lombok, pulau terbesar di provinsi ini. Ada tiga pulau kecil di kawasan ini, yaitu Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Pulau terbesar dan paling ramai oleh turis adalah Gili Trawangan.

Perjalanan menuju Gili Trawangan bisa lewat dua jalur, Padangbay, Bali dan Lombok, NTB. Jika dari Padangbay, pelabuhan di sisi timur Bali, perlu waktu sekitar 2 jam dengan speed boat. Biaya sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1 jam di speedboat berkapasitas sekitar 50 orang. Adapun dari Lombok bisa dengan pesawat lewat Bandara Internasional Lombok kemudian ke pelabuhan Bangsal untuk menyeberang ke Gili Trawangan sekitar 30 menit.

Jalur lebih lama dan murah adalah naik bus dari Denpasar ke Mataram untuk kemudian lanjut ke Gili Trawangan lewat Pelabuhan Bangsal. Waktu perjalanan lebih murah, sekitar Rp 200.000 tapi waktu bisa sampai 12 jam.

gili-09Jernih
Lama perjalanan tersebut akan terbayar ketika sudah tiba di Gili Trawangan. Sambutan pertama adalah air laut yang membiru dan tenang. Dari sinilah nama Gili Trawangan berasal. Gili berarti pulau kecil. Trawangan artinya jernih. Gili Trawangan memang sebuah pulau kecil dengan air laut yang jernih dan bening.

Karena itu, Anda pun bisa menikmati kegiatan wisata bawah laut, seperti diving dan snorkling. Gili Trawangan dan dua gili lainnya terkenal sebagai surga bagi para penikmat diving.

Pasir putih dan ketenangan pulau adalah sambutan selanjutnya di pulau ini. Maka, Anda bisa berjemur di pasir putihnya tanpa terganggu kendaraan bermotor ataupun klakson para pengguna jalan. Tak ada suara kendaraan bermotor sama sekali karena tidak boleh ada sepeda motor ataupun mobil masuk di pulau ini. Hanya ada dua jenis alat transportasi di pulau ini, yaitu cidomo dan sepeda.

Dengan hanya luas sekitar 7,3 kilometer persegi, Gili Trawangan bisa dikelilingi dengan berjalan kaki. Waktunya antara 1-2 jam. Jika Anda terlalu malas berjalan kaki, naik kendaraan khas Lombok, cidomo. Kendaraan ini berupa dokar yang ditarik oleh kuda. Tarif sewa cidomo untuk berkeliling pulau ini sekitar Rp 150.000 per satu jam. Kapasitas cidomo ini antara 2-3 orang.

Tapi, ada pilihan lain yang lebih asyik untuk berkeliling, bersepeda. Gili Trawangan layak disebut pulau seribu sepeda karena dia menjadi alat transportasi utama di pulau ini. Tempat persewaan sepeda berjejer di sepanjang jalan utama pulau ini yang berpaving. Tarif sewa per jam antara Rp 10.000 – Rp 15.000. Anda bisa mengayuh sepeda, sesekali melawan jebakan pasir, dan menikmati segarnya udara di pulau ini.

Bersepeda di Gili Trawangan benar-benar cara tepat melarikan diri dari keriuhan Bali.

gili-baliSuasana Bali
Meskipun demikian, suasana Bali juga masih sangat terasa di Gili Trawangan. Maklum saja, beberapa tempat wisata di sini justru milik orang Bali. Begitu kata beberapa pegawai yang saya temui ketika melali ke Gili Trawangan September lalu. Ikon-ikon Hindu Bali, seperti pelangkiran (tempat menghaturkan sesaji saat sembahyang), sanggah (semacam pura kecil), dan kain poleng kotak-kotak hitam putih pun gampang kita temukan.

Beberapa pegawai bar atau restoran yang saya temui pun ternyata memang dari Bali, terutama Buleleng dan Karangasem. Mereka bekerja sebagai pelayan, koki, dan seterusnya.

Menurut kabar, beberapa perusahaan pariwisata dari Bali juga makin agresif membangun tempat wisata di sini. Pembebasan lahan tersebut bahkan mengusir warga-warga lokal yang berjualan di lahan tersebut. “Kami was-was karena bisa diusir kapan saja,” kata salah satu warga yang berdagang di sana.

Nah, ini dia yang perlu diantisipasi. Kalau kemudian Gili juga dipenuhi tempat wisata, jangan-jangan dia juga akan sama bisingnya dengan Bali selatan. [b]

Tags: BaliGili TrawanganPariwisataTravel
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

Ketika Letusan Batur Lima Kali Lipat dari Gunung Agung: Bali Pernah Kosong dari Manusia?

3 May 2026
Next Post
Bali pun Tak Bebas dari Korupsi

Bali pun Tak Bebas dari Korupsi

Comments 2

  1. akriko says:
    13 years ago

    wah keren sekali… kapan ya saya bisa kesana? yang terakhir itu yang main gusur-menggusur…

    Reply
  2. Mankomank says:
    13 years ago

    Jangan lupa malamnya ke Pasar Seni di dekat pelabuhan, cobain “Pancake” yang ternyata Terang Bulan, tapi bule tetep saja ngantri 😀

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

Ngiter Tipis-Tipis: Merawat Luka yang Dihilangkan Paksa

31 May 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
matan AI

Penghancuran Kemandirian Desa-desa di Bali

29 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia