• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, April 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

“Homo Pariwisatabaliensis”

Ibed Surgana Yuga by Ibed Surgana Yuga
5 January 2009
in Budaya, Opini
0
0

Oleh: Ibed Surgana Yuga

Sebuah surat pembaca dari seorang masyarakat Badung di harian terbesar di Bali pada pertengahan November 2008 menyarankan suatu strategi tentang pembangunan Bali mutakhir. Penulis surat di antaranya menyarankan tentang sistem keamanan Bali yang harus melibatkan seluruh masyarakat yang ada di Bali, dengan memberikan insentif memadai bagi masyarakat pemberi informasi yang valid kepada pihak berwajib.

Selanjutnya ia menulis tentang manusia Bali, budaya Bali serta pariwisata yang merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dan yang paling penting adalah pembuka surat yang merupakan muara dari seluruh sarannya, yaitu Bali sebagai bangunan pariwisata yang kokoh dan tegar.

Apa yang bisa dibaca dari surat pembaca itu di antaranya adalah bahwa pengukuhan terhadap entitas Bali sebagai suatu daerah industri pariwisata sehingga dikhawatirkan entitas itu akan rapuh jika manusia Bali, budaya Bali dan pariwisata dicerai-beraikan. Dengan demikian, seluruh orang yang ada di Bali harus turut serta aktif menjaga keutuhan entitas tersebut dengan tindakan nyata, misalnya dengan melaporkan masalah keamanan seperti keberadaan orang mencurigakan. Atas peran serta aktif tersebut, masyarakat akan diberikan imbalan yang pantas dalam bentuk material tentu saja.

Memang benar bahwa manusia Bali, budaya Bali dan pariwisata adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan – atau lebih tepatnya, jangan sampai dipisahkan karena payuk jakan bisa buung makedus. Namun tentu saja ini bagi orang yang menikmati buah dari pohon besar pariwisata Bali.

Orang Bali – apalagi orang luar Bali – yang sama sekali tidak memetik buah itu, baik karena pohonnya yang tak terjangkau atau karena sengaja memilih untuk tak memakan buah dari pohon itu, barangkali akan memandang hal terakhir sebagai sesuatu yang terpisah sama sekali atau justru harus diceraikan jika ada yang hendak menyatukannya.

Dapat dipahami pemikiran orang-orang Bali yang memetik buah pariwisata sehingga mereka memberi sokongan maksimal terhadap pohon kehidupannya itu. Mereka adalah orang-orang yang merasa telah dihidupi oleh pariwisata, baik secara ekonomi, politik, sosial maupun budaya. Bukan cuma sebentuk kehidupan yang layak, namun mereka telah mendapat prestise, gengsi dan gaya hidup yang lebih.

Mereka adalah orang-orang yang telah merasa diangkat harkat dan martabatnya oleh eksistensi pariwisata. Mereka adalah orang-orang yang menikmati eforia citra Bali dalam konstruksi turistik: unik, nyeni, indah, ramah, eksotis, religius. Mereka adalah orang-orang yang memiliki bayangan tentang identitas Bali sebagaimana yang dicitrakan oleh industri paiwisata. Mereka adalah para Homo pariwisatabaliensis – istilah penunjuk spesies yang saya gubah sendiri, mengadopsi istilah bidang arkeologi.

Homo pariwisatabaliensis termasuk dalam kelompok spesies yang dirundung kepanikan luar biasa ketika bom meledak di Kuta, 12 Oktober 2002. Mereka kemudian menanam kebencian yang mendalam terhadap teroris. Demikian mendalam sehingga kebencian itu juga diarahkan pada latar belakang sosioreligi orang-orang yang diklaim teroris itu. Dan tentu saja mereka turut bersorak di atas kematian Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudra yang (konon) telah dieksekusi oleh tiga regu tembak di Nirbaya.

Pariwisata Bali sebagai sistem yang dibangun oleh kapitalisme global dan diberikan jalan yang amat mulus oleh rezim Orde Baru, dengan kepentingan ekonomi dan kuasa yang nyata, memberikan bujuk rayu dan buaian yang serasa nyata pula bagi orang Bali sebagai mahluk yang menghidupi dan dihidupi budaya Bali.

Sistem ini bekerja secara terstruktur: bujuk rayu dan pujian berlebih di tahap awal, lalu janji kemakmuran dan pelestarian budaya, keuntungan material – yang tak seberapa dibandingkan hasil keuntungan sebenarnya –, pencokolan doktrin-doktrin kapitalis yang dengan lihai menyelusup ke dalam ruang konsep kearifan lokal, pendidikan ke arah materialistis dan semangat industralisme lainnya, sehingga terciptalah karakter spesies Homo pariwisatabaliensis yang diinginkan, salah satunya militansi yang luar biasa terhadap kuasa yang tak tersadari.

Ya, tak tersadari karena para Homo pariwisatabaliensis selalu dibuai dalam setiap langkahnya.

Keterkuasaan dan berbagai keuntungan yang diperoleh Homo pariwisatabaliensis itu seakan sah dan halal ketika kuasa yang lain, yaitu pemerintah, melegalkan bahkan menjadikannya bangunan agung sumber kemakmuran. Ini barangkali karena bagi orang Hindu Bali, sebagian besar Homo pariwisatabaliensis itu, mempercayai bahwa pemerintah adalah guru wisesa – salah satu guru dalam ajaran Catur Guru. Di sini tampak petunjuk bahwa pemerintah masih dipercaya sebagai pembawa kebenaran bagi masyarakat (baca: orang Hindu Bali).

Militansi para Homo pariwisatabaliensis terhadap pariwisata Bali kemudian dengan mudah dibaca sebagai militansi terhadap kuasa kapitalisme (Barat) dan pemerintah (terutama pusat), yang sekali lagi tak tersadari. Pada titik tertentu kondisi mutakhir, orang Bali yang telah masuk menjadi spesies Homo pariwisatabaliensis mengalami “kekeliruan” atau paling tidak kegamangan dalam mendefinisikan identitas dan entitas dirinya dalam lingkungan sosiokultural, sebagaimana yang terbaca dalam surat pembaca di atas. Mungkin akan lebih jelas dan tangkas jika mereka mengakui identitasnya sebagai apa yang saya namakan sebagai Homo pariwisatabaliensis.

Sejatinya, pandangan para Homo pariwisatabaliensis tentang manusia Bali, budaya Bali serta pariwisata yang tak dapat dipisahkan itu adalah hasil pemikiran yang penuh teriak eforia hingga memejamkan mata dan membisingi telinga, sehingga trance akan keberadaan dirinya sendiri. Ia tidak sadar bahwa sebenarnya industri pariwisata (di) Bali sekarang dapat bergerak dengan mulus tanpa orang dan budaya Bali!

Pariwisata Bali mutakhir, dengan agen-agen kapitalisme global dan strategi konstruksi yang tangguh sejak awal, telah mencapai tingkat produksi dan kinerja yang dapat menegasi bahkan menafikan orang dan budaya Bali. Ia sudah mampu menciptakan produk yang mandiri, baik itu infrastruktur maupun barang dagangan, yang sudah bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan budaya tradisi Bali, walaupun sebelumnya merupakan adopsi dan tiruan produk budaya Bali tradisi. Ia juga telah dijalankan dan dikendalikan dengan brilian oleh orang-orang bukan Bali, sehingga mungkin saja spesies Homo pariwisatabaliensis dapat dipunahkan hanya dengan sekali click saja.

Bersiaplah! [b]

Tags: BaliBudayaOpiniPariwisata
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ibed Surgana Yuga

Ibed Surgana Yuga

Related Posts

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan  akibat Overtourism

Pulau Wisata ini Ditutup Sementara untuk Perbaikan Kualitas Lingkungan akibat Overtourism

8 April 2026
Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Next Post
I Made Oka Sejenak Transit

I Made Oka Sejenak Transit

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Pemerintah Tanpa Modal, Masyarakatnya Dipenjara?

14 April 2026
Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

Kemandirian Energi Nelayan di Tengah Krisis Minyak Global

13 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia