• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, April 28, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Tri Hita Bencana

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
26 September 2025
in Kabar Baru, Kolom Matan Ai, Opini
0
0

Sebutlah namanya Made Bagus, perantau dari Buleleng, Bali Utara yang berani bersaing membuka “warung Madura ala Bali” di kompleks perumahan yang saya tinggali. Sepanjang jalan utama yang menjadi penghubung perumahan, mungkin hanya Made dan satu dua orang tetangga yang membuka warung. Selebihnya adalah “warung Madura” yang akrab dan sering disebutkan oleh para pembeli. Suatu senja, semenjak ramai banjir yang melanda kota-kota besar di Bali, celotehnya membuat saya terus berpikir hingga saya menuliskannya dalam esai ini.

Made, pemuda lulusan SMA yang berani berusaha dan bersaing tersebut berujar polos. “Terus tumpel banjir niki pak semeton e. Kenken kaden pemimpin rage, sing ada ngenah dingeh komentarne. Pidan tumpel Bansos, jani banjir.” ujarnya ketus. Terus saja kita saudara kita berhadapan dengan banjir. Pemimpin kita tidak pernah terlihat dan terdengar komentarnya. Sebelumnya kita dikasi Bansos (Bantuan sosial) sekarang banjir. Made melanjutkan, “Sube je masih rage maturan milehan, mecanang sari pang selamet rahayu. Tileh masih ubek banjir.” Kita juga sudah beribadah (sembahyang), memberikan sesaji kemana-mana agar selamat, tetapi tetap saja diserang oleh banjir.

Jauh lebih mendalam dan filosofis, Made kembali membuat saya tersentak. “Pak, dije praktek pelajahan agama ne pidan rage melajah pas masuk pak. Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, ne sai hapalin pidan? Tileh masih kene dadine gumi ne malah tambah berek. Jeg mileh dingeh pejabat ajak penceramah ngomong ne tegeh-tegeh, ngedeng kesugihan, proyek mileh-milehan ngenah sing nawang irage kene musibah. Ujung-ujungne nyanan orinne karya kene, karya keto, banten kene, banten keto. Care paling benehe gen. Urusan rage megama mekejang meatur. Ase sing cocok tiang megama bes tegeh tapi tanah e telah meadep, nyame liu buuh diri karena tekanan ekonomi, pejabat ngacuh terus nyugihang gen. Irage pati lepug jibaku ngalih baas a kilo pang nyidang makan.”

Jika diterjemahkan secara bebas Made mempertanyakan sekaligus menggugat praktek pelajaran agama (Hindu) yang sejak dulu kita pelajari dan hapalkan saat di bangku sekolah, seperti Tri Kaya Parisudha yaitu ajaran tentang pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik. Sedangkan Tri Hita Karana adalah hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan-nya, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya. Meski begitu banyak kearifan lokal dan nilai-nilai agama yang ada di Bali, justru lambat laun kondisi Bali tetap saja tidak berubah ke arah yang lebih baik, malah keburukan yang mulai muncul ke permukaan. Malah semakin memburuk.

Pada sisi yang lain, saat Bali tambah memburuk (karena terjadinya banjir), banyak pejabat birokrasi dan para elit politik mengeluarkan pernyataan yang “tinggi-tinggi” menunjukkan tidak memahami permasalahan sekaligus empati terhadap musibah (banjir) yang terjadi. Tidak itu saja, saat terjadinya musibah, para elit ada yang menunjukkan kekayaan dan gaya hidup mewahnya. Proyek-proyek pembangunan akomodasi pariwisata juga dipertontonkan kepada publik. Ujung-ujungnya, dalam menanggapi musibah, akan muncul surat edaran untuk melakukan ritual-ritual dengan sesaji yang sudah ditentukan. Semuanya sudah diatur dan ditentukan kebenarnya.

Made kembali melanjutkan dengan semangat, praktik ritual yang diatur dan ditentukan oleh otoritas (pemerintah) seolah dianggap yang paling benar, padahal setiap daerah di Bali memiliki keberagaman dalam menjalankan ritualnya. Praktik ritual dan keagamaan yang tinggi dan mewah dengan berbagai ritual sangat kontradiktif dengan situasi Bali kontemporer saat alih fungsi lahan dan mulai berpindah tangannya tanah-tanah orang Bali. Pembangunan akomodasi pariwisata membutuhkan tanah-tanah yang siap pakai sehingga banyak orang Bali yang menjual tanahnya dan menjadi orang kaya baru.

Pada sisi lain, tekanan ekonomi membuat sebagian lagi orang Bali tidak cukup kuat bertahan dan berjuang menghadapi hidup sehingga memutuskan untuk bunuh diri. Jurang ketimpangan begitu lekat saat hidup mewah dan kebijakan para pejabat jauh dari realitas kehidupan rakyatnya. Made pada kalimatnya terakhir membuat saya merenung, “Irage pati lepug jibaku ngalih baas a kilo pang nyidang makan.” Kita bersusah payah bekerja untuk membeli beras satu kilo agar bisa makan dan melanjutkan hidup, tapi pada sisi lain kebijakan pemerintah dan tingkah laku pejabat sama sekali tidak mencerminkan empati dan keinginannya dalam menyelesaikan masalah tersebut. Bisa jadi karena mereka ini adalah bagian dari kompleksitas masalah yang dihadapi Bali.

Saya terkejut dan hanya menjawab pelan seadanya, “Kudiang men bli, jalanin gen.” (Mau bagaimana lagi, dijalani saja). Tapi sejak saat ini, pikiran dan perenungan saya tidak bisa saya alihkan dari ocehan Made Bagus.

Tidak Menyentuh Tanah

Saya (kembali) teringat dengan esai-esai yang tajam, sinis, sekaligus ironis dari IBM Dharma Palguna dalam bukunya Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran (2007). Salah satunya yang tajam dinarasikan adalah berkaitan dengan relasi (hubungan) manusia Bali yang penuh dengan kontradiktif terhadap alamnya. Praktik kehidupan ritual dan perbincangan kebudayaan Bali sering menarasikan bahwa relasi manusia dengan alam, sesama manusia dan Ida Sanghyang Widhi Wasa sangatlah luhur dan abadi serta penuh dengan nilai-nilai kebaikan, harmoni, kedamaian, dan keseimbangan.

Kita mempercayai nilai-nilai tersebut sebagai warisan yang sudah ada sejak nenek moyang dan leluhur ada. Tanpa kita periksa dan pertanyakan. Yang sudah jelas tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga yang terjadi adalah pengetahuan tersebut kita anggap sudah paripurna, berada pada level yang “tinggi” sekaligus abstrak. Saking tinggi dan abstraknya, kita bahkan enggan untuk mempertanyakanya apalagi menggugatnya. Kita anggap itu sudah selesai dan tidak perlu diperdebatkan lagi.

Berbagai praktik yang berkaitan dengan hal yang “tinggi” dan abstrak tersebut menjadi rujukan tertinggi dan sebagai ekspresi keyakinan kita yang tidak terbantahkan. Jika ada yang mengusik praktik ritual apalagi melecehkannya, luapan amarah akan tumpah sebagai bentuk pembelaan (nindihin) terhadap yang kita yakini secara abstrak dan samar-samar tersebut.

Cara kita mengekspresikannya adalah dengan praktik ritual yang terus-menerus dalam lingkaran kehidupan manusia Bali. Kita kemudian secara khusyuk memuja Dewa Air. Danau dan sumber air kita jaga kesuciannya. Berbagai upacara dengan tulus dan ikhlas kita persembahkan. Bahkan upacara seperti itu semakin ditingkatkan kwantitasnya bersamaan dengan bangkitnya kesadaran baru di antara kita untuk kembali ke masa lalu. Bersamaan dengan semua itu, ironisnya, kita pun dengan sadar sudah tidak lagi berani meminum air dari sumber air yang tersisa. Sebagian besar mata air telah mengeringkan dirinya. Air yang kita minum kita beli dari perusahaan air. Terhadap pencemaran air kita bisa sabar. Tapi kita akan marah besar bila ada orang melecehkan pemujaan kita pada Dewa Air.

Ironi yang lain, yang tidak kalah menyakitkanya adalah kita diam dan tetap duduk manis ketika satu persatu tanah di Bali dicaplok investor. Tapi kita akan murka bila ada yang mengkritik ritual pemujaan kita terhadap Dewa Tanah. Itu terjadi karena perhatian kita bukan pada yang nyata, tapi pada yang abstrak. Bukan pada yang dekat, tapi pada yang jauh. Bukan pada penataan duniawi yang mensejahterakan hidup bersama, tapi pada persiapan menuju akhirat. Yang sedang kita bangun adalah peradaban batin dan tenaga dalam. Kita yang hidup di dan oleh dunia, malu berurusan dengan yang duniawi.

Praktik ritual membawa kita untuk meyakini hal yang samar-samar dan abstrak. Peradaban tinggi inilah yang menyebabkan kita lebih mampu berkomunikasi dengan penghuni alam atas sana daripada dengan manusia, binatang, tumbuhan, dan semesta alam di dunia tempat kita hidup. Persoalan lingkungan yang berada di sekitar dengan mudah kita abaikan (Dharma Palguna, 2007: 11-12). Kita seolah tidak menjejak tanah, tapi membungbung tinggi ke angkasa dan menyakini bahwa semua relasi kita dengan sesama dan lingkungan bisa dituntaskan dengan ritual dan pandangan keagamaan yang tanpa kesadaran sosial politik.

Rangkaian ritual tidak pernah putus dalam daur kehidupan manusia Bali. Sesaji dan persembahan selalu dihaturkan untuk mendoakan alam semesta. Teks dan reproduksi pengetahuan kearifan lokal tidaklah sedikit tapi sangat kaya untuk memayungi Bali menuju keseimbangan. Situs-situs penjaga bumi Bali tersebar di seluruh wilayah menjadi penyangga kuat keseimbangan Bali. Tapi apa lacur, perampasan sekaligus perusakan tanah dan alam Bali juga berlangsung massif. Ritual, komunitas adat, pengetahuan, dan situs-situs penjaga Bali harus berhadapan dengan persekongkolan oligarki modal dan kekuasaan yang dibawa oleh pariwisata.

Pandangan ekonomi politik sudah mendedah bahwa lingkungan kita sejatinya sudah luluh lantak terpapar eksploitasi. Bagi para penganut perspektif ekologi politik, all ecological problems are simultanseously political and ecological, social and biophysical (semua masalah ekologi sebenarnya merupakan masalah politik dan ekologi, social dan biofisik sekaligus). Persoalan over pariwisata, banjir, dan politik lemahnya tata kelola pemkapasitaerintahan Bali saat ini adalah relasi panjang antara negara dan modal (investasi pariwisata), dimana perusahaan perusahaan modal besar telah begitu berpengaruh sehingga menyusup dan menguasai pemerintahan, atau dengan kata lain (mereka) menjadi “pengabdi perusahaan” (White, 2009).

Begitulah, Bali semakin terbuka dan masuk berkubang serta mengakar menjadi etalase dari pariwisata dan pertumbuhan kapital yang paling seksi. Bali juga menjadi salah satu sasaran dari persekongkolan untuk memperebutkan apa saja yang bisa dijarah dari negeri ini. Pada momen inilah lahir ironi yang dengan sangat tepat dan menggugah diungkapkan oleh Karlina Supelli (2013) dalam pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta yang berjudul “Kebudayaan dan Kegagapan Kita”. Ia menuliskan sementara kearifan lokal terus disanjung sebagai tradisi yang perlu dirawat dan diwariskan, rujukan material-spiritualnya justru hancur berantakan. Rupanya bukan tradisi itu sendiri yang ingin dibela, melainkan citra tentang tradisi yang lebih mudah untuk dikemas dalam pertunjukan.

Tri Hita Karana telah berubah menjadi Tri Hita Bencana. Beberapa rujukan material, berupa hutan, tanah, dan alam Bali telah berganti dengan akomodasi pariwisata, telah hancur berantakan meski ada yang masih tersisa. Rujukan pengetahuan dan spiritual mungkin bisa dicari-cari oleh kaum cerdik pandai sebagai pembenar sekaligus penghibur. Tapi kita sulit membantah bahwa pengetahuan ideal tentang keharmonisan dan kedamaian dalam tata kehidupan manusia Bali telah hancur berantakan kehilangan kekuatan. Citranya begitu mentereng tapi tidak berkutik menghadapi kekuatan kapital. Ia hanya menjadi pemanis dan mesin pelumas bagi ekspansi pemodal yang tampak mentereng dan gagah bermerek Tri Hita Karana.

Kita alpa sejak dari awal memeriksa, mengkritik, bahkan menggugatnya. Lebih dari itu, kita mungkin bisa memasukkannya menjadi tulisan peraturan dan kebijakan negara. Tapi yang jauh lebih penting adalah pengetahuan itu tidak berdaya sama sekali menghadapi bujuk rayu kapital (pariwisata). Kita alpa merekognisi sekaligus menginjeksinya dengan kekuatan kritis komunitas rakyat Bali yang mengalami sejarah panjang diamputasi kekuasaan pasca 1965.

DAFTAR PUSTAKA

Palguna, IBM Dharma. 2007. Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran. Mataram: Sadampatyaksara.

Supelli, Karlina. 2013. “Kebudayaan dan Kegagapan Kita”, pidato kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Senin, 11 November 2013.

White, Ben. 2009. “Dibalik Pertarungan Sumber Daya Alam Indonesia: Ekologi Politik dan Penerapannya pada Studi dan Perjuangan Lingkungan Hidup” dalam Jurnal Tanah Air edisi Oktober – Desember 2009 terbitan Walhi.

agen judi bola kampung bet
Tags: banjir balikolom matan aipenanganan bencana di bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Putra Bali yang menjadi dosen di Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Menyelesaikan Doktor dalam bidang Ilmu-ilmu Humaniora (Antropologi) di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Melanjutkan penelitian pascadoktoral dalam bidang ekologi budaya dan transformasi masyarakat Marori dan Kanum di Merauke, Papua (2016 – 2017) dalam program ELDP (Endangered Languages Development Programme) SOAS London bekerja sama dengan ANU (Australian National University). Menekuni studi tentang ekologi budaya, politik identitas, genealogi kekerasan, dan gerakan sosial di tanah Papua. Penulis buku Jiwa yang Patah (2012), Mencari Sang Kejora: Fragmen-Fragmen Etnografi (2015), Papua Versus Papua: Perpecahan dan Perubahan Budaya (2017).

Related Posts

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali Pulau Proyek: Adaptasi atau Kekalahan?

4 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Membakar Vitalitas Kebudayaan

4 March 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Koalisi Pulihkan Bali Ajukan Gugatan Warga pada Pemerintah Pusat dan Daerah Bali

Koalisi Pulihkan Bali Ajukan Gugatan Warga pada Pemerintah Pusat dan Daerah Bali

13 November 2025
Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Memetakan Lokasi Banjir dari Media Sosial

9 November 2025
Next Post
Inovasi Teknologi Desa Hidrogen Hijau di Pekan Iklim Bali

Inovasi Teknologi Desa Hidrogen Hijau di Pekan Iklim Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

Waste to Energy bukan Solusi Utama Penanganan Sampah

27 April 2026
Kuningan: Sajian Nasi Kuning dan Kebiasaan Identik Lainnya

Keadilan bagi Guru dan Wajib Belajar 13 Tahun

27 April 2026
Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

Kredit Plastik: Solusi Palsu Tak Berkelanjutan

26 April 2026
“Slaves of Objects” Candu Kebendaan dari WD

Pikiran yang Didisiplinkan

25 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia