• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, July 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

[Liputan Mendalam] Tenun Pajam yang Tak Pernah Padam

Redaksi BaleBengong by Redaksi BaleBengong
21 August 2021
in Berita Utama, Sosial
0
1
Para penenun kain di Wakatobi memerlihatkan tenunnya masing-masing. Foto Nurul Mutmainnah Jamil.

Pandemi berdampak terhadap siklus pariwisata di Wakatobi.

Berdasarkan publikasi BPS ‘Wakatobi dalam Angka tahun 2021’, wisatawan domestik maupun mancanegara menurun tajam. Dari 5.764 wisatawan mancanegara di tahun 2019, merosot ke angka 415 di tahun 2020. Adapun wisatawan domestik yang berjumlah 23.093 di tahun 2019, turun hingga 3.096 di tahun 2020.

Tak hanya menurunnya turis, pandemi juga berdampak terhadap pasokan benang sebagai bahan baku tenun di Desa Pajam, Pulau Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Sebagai sebuah daerah kepulauan, transportasi bahan-bahan material tenun selalu menjadi tantangan bahkan sebelum pandemi. Untuk satu sarung, material yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Beberapa material ini dikirim langsung dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Selama pandemi, tidak jarang stok-stok benang kosong di pasaran.

“Kemarin mertua saya sempat dari Bau-Bau hendak mencarikan stok benang Erlangga, tapi sayangnya kosong,” terang Herlina, salah satu penenun.

Selain persoalan material tenun, stok sarung tenun yang sempat menumpuk karena ketiadaan wisatawan merupakan persoalan lain selama pandemi. Wisatawan menjadi konsumen utama tenun Pajam selain pemerintah kabupaten setempat.

Meskipun tidak datang setiap hari, wisatawan yang pernah ke Kaledupa beberapa kali melakukan pemesanan berulang. Pandemi dan ketiadaan wisatawan juga mempengaruhi semangat penenun perempuan pajam secara tidak langsung.

Toh, meski kian sedikit pembelinya, para perempuan penenun di Desa Pajam tetap setia menenun utas demi utas benang menjadi kain kebanggaan mereka. “Ya kita tetap menenun karena memang sudah kebiasaan sehari-hari di selang aktivitas lain seperti memasak, mengurus rumah, ataupun ke kebun. Tapi ya, begitu, tidak sesemangat dulu waktu sebelum pandemi,” ujar Herlina.

Simak laporan mendalam karya Nurul Mutmainnah Jamil, penerima beasiswa liputan Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2021 kerja sama BaleBengong dengan WWF Indonesia. [b]

kampungbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Redaksi BaleBengong

Redaksi BaleBengong

Menerima semua informasi tentang Bali. Teks, foto, video, atau apa saja yang bisa dibagi kepada warga. Untuk berkirim informasi silakan email ke kabar@balebengong.id

Related Posts

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
Keamanan Holistik Jadi Kunci Perlindungan Kelompok Rentan

Keamanan Holistik Jadi Kunci Perlindungan Kelompok Rentan

15 July 2026
Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Insinerasi PSEL di Bali Diklaim Nol Emisi

15 July 2026
Next Post
Camping Ground Sungai Belacan, adalah tempat yang biasa digunakan untuk turis bersantai saat berkunjung ke Pantai Paloh.

[Liputan Mendalam] Pejuang Konservasi di Batas Negeri

Comments 1

  1. ayotelusuri says:
    4 years ago

    Wah cerita yang bagus kak, jangan lupa untuk mengunjungi http://telusuri.id untuk cerita cerita petualangan lainnya 🙂

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

Membaca Series Nature Crime Mongabay: Seberapa Jahat Manusia kepada Alam?

17 July 2026
AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

AMSI Minta Majelis Hakim Nyatakan Gugatan tidak dapat Diterima atas Kasus Perdata 4 Media

16 July 2026
Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

Kitab yang Ditulis Alam: Membaca The Sacred Text of Padma Karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

16 July 2026
Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

Konservasi Kawasan Pura dan Budidaya melalui Bambuloka dari Yayasan Bambu Lestari

16 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia